Konversi LPG ke CNG Dinilai Bisa Kurangi Impor Energi

Selasa, 26 Mei 2026 - 21:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KABAR PAJAJARAN — Pemerintah mulai mendorong konversi penggunaan Liquefied Petroleum Gas (LPG) ke Compressed Natural Gas (CNG) untuk menekan impor energi dan memperkuat ketahanan energi nasional. Namun, sejumlah pengamat menilai kebijakan tersebut masih menghadapi banyak tantangan, terutama pada sektor infrastruktur dan kesiapan masyarakat.

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Muhammad Kholid Syeirazi, mengatakan kebutuhan LPG nasional terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2025, kebutuhan LPG mencapai sekitar 9,27 juta metrik ton (MT). Sementara itu, produksi domestik hanya sekitar 1,91 juta MT.

Kondisi tersebut membuat Indonesia mengimpor sekitar 7,47 juta MT LPG setiap tahun. Amerika Serikat memasok sekitar 70 persen impor LPG Indonesia. Uni Emirat Arab dan Qatar menjadi pemasok terbesar berikutnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kebutuhan energi rumah tangga yang bergantung pada impor akan membuat APBN rentan terhadap gejolak global,” ujar Kholid, Selasa (26/5/2026).

Menurut dia, tingginya impor LPG ikut meningkatkan beban subsidi energi pemerintah. Data DEN menunjukkan subsidi dan kompensasi energi naik dari Rp119,1 triliun pada 2015 menjadi Rp313,9 triliun pada 2025. Pada 2022, nilainya bahkan sempat menyentuh Rp551 triliun akibat lonjakan harga energi global.

Kholid menilai Indonesia sebenarnya memiliki cadangan gas bumi yang cukup besar. Pada 2025, pemanfaatan gas domestik mencapai sekitar 3.882 BBTUD. Angka itu melampaui volume ekspor gas nasional yang berada di kisaran 1.718 BBTUD.

“Indonesia memiliki potensi gas domestik yang besar. Tantangannya adalah menghadirkan energi itu secara aman dan terjangkau,” kata dia.

Infrastruktur dan Keselamatan Jadi Sorotan

Dalam forum diskusi mengenai konversi LPG ke CNG, DEN menyebut gas bumi memiliki biaya energi yang lebih murah dibanding LPG nonsubsidi. CNG juga menawarkan efisiensi lebih baik untuk sektor rumah tangga, transportasi, dan industri.

Meski demikian, Kholid menegaskan pemerintah harus memperhatikan aspek keselamatan sebelum menjalankan program secara luas. Tabung CNG memiliki tekanan hingga 150–200 bar. Tekanan tersebut jauh lebih tinggi dibanding tabung LPG rumah tangga yang hanya sekitar 8 bar.

Karena itu, pemerintah perlu menyiapkan standar tabung, regulator, katup, dan instalasi distribusi yang lebih ketat.

“Keselamatan menjadi aspek utama karena karakteristik CNG berbeda dengan LPG,” ujar Kholid.

Selain faktor keselamatan, keterbatasan infrastruktur juga menjadi kendala utama. Saat ini jumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) masih terbatas dan belum tersebar merata di berbagai daerah.

Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro, menilai konversi LPG ke CNG dapat membantu pemerintah mengurangi impor energi dan pengeluaran devisa.

Berdasarkan kajian awal ReforMiner, substitusi LPG impor berpotensi menghemat devisa hingga miliaran dollar AS setiap tahun. Namun, pemerintah tetap harus memastikan kesiapan pasokan gas dan infrastruktur distribusi.

“Kebijakan ini membutuhkan tahapan implementasi yang realistis dan tidak bisa berlangsung secara instan,” kata Komaidi.

Biaya Konversi Masih Tinggi

Head of Center of Food, Energy, and Sustainable Development INDEF, Abra Talattov, mengatakan keberhasilan program konversi juga bergantung pada kesiapan fiskal pemerintah.

Menurut dia, subsidi LPG 3 kilogram dalam RAPBN 2026 mencapai Rp80,3 triliun. Tingginya ketergantungan impor LPG membuat subsidi energi sangat sensitif terhadap harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah.

Abra juga menyoroti tingginya biaya awal konversi bagi rumah tangga. Masyarakat diperkirakan membutuhkan biaya sekitar Rp7 juta hingga Rp10 juta untuk mengganti tabung, regulator, nozzle, dan menyesuaikan kompor.

“Pemerintah perlu menyiapkan roadmap yang jelas, termasuk dukungan pembiayaan dan insentif,” ujar Abra.

Selain tantangan ekonomi, program konversi juga menghadapi tantangan sosial. Sebagian masyarakat masih khawatir terhadap keamanan tabung CNG bertekanan tinggi. Pemahaman masyarakat mengenai penggunaan CNG juga masih terbatas. ***(Ant)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Heboh! Purbaya Kembali Pangkas Anggaran MBG Ratusan Triliun, Ini Alasannya
ESDM Terjunkan Tim Usut Blackout Sumatera, PLN dan Polri Lakukan Investigasi Bersama
Libur Sekolah Idul Adha 2026 Berapa Hari? Ini Prediksi Jadwalnya
Kurs Dolar AS di Bank Besar Masih Tinggi, Rupiah Tertekan Sentimen Domestik dan Global
Luhut Minta Maaf ke Investor Global di Singapura, Akui Gejolak Pasar Keuangan Indonesia
Bima Arya Apresiasi Peluncuran SAPA UMKM, Soroti Masalah Data yang Tak Seragam di Daerah
Prabowo Serahkan Rafale hingga A400M untuk Perkuat Kekuatan Udara TNI
Tembus Rp 17.658! Dolar AS Bikin Rupiah Kian Tertekan

Berita Terkait

Selasa, 26 Mei 2026 - 21:00 WIB

Konversi LPG ke CNG Dinilai Bisa Kurangi Impor Energi

Senin, 25 Mei 2026 - 14:00 WIB

Heboh! Purbaya Kembali Pangkas Anggaran MBG Ratusan Triliun, Ini Alasannya

Senin, 25 Mei 2026 - 13:00 WIB

ESDM Terjunkan Tim Usut Blackout Sumatera, PLN dan Polri Lakukan Investigasi Bersama

Senin, 25 Mei 2026 - 08:00 WIB

Libur Sekolah Idul Adha 2026 Berapa Hari? Ini Prediksi Jadwalnya

Jumat, 22 Mei 2026 - 14:39 WIB

Kurs Dolar AS di Bank Besar Masih Tinggi, Rupiah Tertekan Sentimen Domestik dan Global

Berita Terbaru

Nasional

Konversi LPG ke CNG Dinilai Bisa Kurangi Impor Energi

Selasa, 26 Mei 2026 - 21:00 WIB