Minyak Dunia Meledak 13%! AS–Israel Serang Iran, Selat Hormuz Terancam Lumpuh

Senin, 2 Maret 2026 - 08:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Pekerja Tambang AI (Freepik)

Ilustrasi Pekerja Tambang AI (Freepik)

Kabar Pajajaran – Harga minyak dunia langsung “terbakar” di awal pekan. Pada pembukaan perdagangan Asia, Senin (2/3/2026), kontrak Brent melonjak tajam hingga 13 persen menyentuh 82 dollar AS per barel, menyusul serangan besar Amerika Serikat dan Israel ke Iran sepanjang akhir pekan.

Laporan Investing.com mencatat, lonjakan tersebut menjadi salah satu kenaikan harian paling agresif dalam beberapa bulan terakhir. Dengan asumsi kurs Rp 16.807 per dollar AS, harga itu setara sekitar Rp 1,37 juta per barel.

Meski sempat terkoreksi tipis setelah reli awal, pasar tetap tegang. Investor buru-buru menghitung ulang risiko gangguan pasokan global.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Serangan Mematikan, Iran Balas Rudal

Operasi militer dilaporkan berlangsung intens sejak akhir pekan. Target-target strategis di Iran digempur. Sejumlah laporan bahkan menyebut ratusan korban jiwa, termasuk tokoh penting negara tersebut.

Iran tak tinggal diam. Teheran membalas dengan meluncurkan rudal ke Israel serta beberapa negara Timur Tengah yang memiliki kedekatan dengan Washington seperti Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab.

Situasi pun berubah cepat. Dari konflik terbatas menjadi ancaman eskalasi kawasan.

Selat Hormuz Memanas, 20% Minyak Dunia Terancam

Ketegangan makin mengkhawatirkan setelah laporan menyebut Iran menyerang kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz.

Ini bukan jalur biasa. Sekitar 20 persen konsumsi minyak global melewati perairan sempit tersebut. Gangguan sekecil apa pun bisa langsung mengerek harga.

Analis ANZ menilai ancaman terhadap pasokan kini meningkat signifikan, terutama jika serangan terhadap kapal tanker berlanjut dalam beberapa hari ke depan.

OPEC Tambah Produksi, Tapi Pasar Belum Tenang

Di tengah gejolak ini, Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) dan sekutunya sepakat menambah produksi 206.000 barel per hari dalam pertemuan Minggu.

Langkah itu diharapkan bisa meredam lonjakan harga. Namun pelaku pasar tampaknya belum sepenuhnya yakin tambahan suplai cukup untuk menutup potensi gangguan distribusi jika konflik meluas.

Trump: Operasi Berlanjut

Presiden AS Donald Trump menyatakan operasi militer terhadap Iran akan terus berjalan dalam beberapa hari ke depan. Ia juga memperingatkan kemungkinan bertambahnya korban dari pihak militer Amerika.

Pernyataan itu menjadi sinyal bahwa ketegangan belum akan mereda dalam waktu dekat.

Lonjakan harga minyak kali ini menunjukkan satu hal: pasar energi sangat sensitif terhadap risiko geopolitik. Selama situasi di Selat Hormuz belum benar-benar aman, volatilitas harga diperkirakan masih akan tinggi—dan dampaknya bisa merembet ke inflasi hingga tekanan pada anggaran negara-negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia. ***Anton

 

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Jutaan Pelayat Iringi Jenazah Ali Khamenei ke Qom, Iran Lanjutkan Prosesi Pemakaman
Harga Minyak Dunia Menguat Setelah Ketegangan AS-Iran Kembali Memanas
Bareskrim Ungkap Modus Judi Online Hayam Wuruk, Polanya Mirip Sindikat Kamboja dan Myanmar
Hacker Bobol Sistem Peringatan Darurat Brasil, Jutaan Ponsel Mendadak Berbunyi Tengah Malam
Roy Suryo Dibawa Penyidik, Polisi Belum Beri Penjelasan Resmi
Trump Ancam Serang Iran Lagi Jika Langgar Kesepakatan Damai
Bukan Karena Terdesak, Purbaya Sebut Lawatan ke China Bagian Strategi Jangka Panjang
B-52 AS Jatuh di California, Data Awal Ungkap Pesawat Menukik 1,5 Kilometer per Menit

Berita Terkait

Selasa, 7 Juli 2026 - 09:06 WIB

Jutaan Pelayat Iringi Jenazah Ali Khamenei ke Qom, Iran Lanjutkan Prosesi Pemakaman

Senin, 29 Juni 2026 - 11:00 WIB

Harga Minyak Dunia Menguat Setelah Ketegangan AS-Iran Kembali Memanas

Jumat, 26 Juni 2026 - 17:21 WIB

Bareskrim Ungkap Modus Judi Online Hayam Wuruk, Polanya Mirip Sindikat Kamboja dan Myanmar

Senin, 22 Juni 2026 - 21:00 WIB

Hacker Bobol Sistem Peringatan Darurat Brasil, Jutaan Ponsel Mendadak Berbunyi Tengah Malam

Jumat, 19 Juni 2026 - 09:30 WIB

Roy Suryo Dibawa Penyidik, Polisi Belum Beri Penjelasan Resmi

Berita Terbaru