KABAR PAJAJARAN – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai kebijakan yang membawa manfaat besar bagi masyarakat.
Ia menegaskan, pemerintah merancang MBG untuk meningkatkan asupan gizi anak-anak Indonesia, terutama di kelompok masyarakat yang membutuhkan dukungan pangan bergizi.
Bahlil menyampaikan bahwa program tersebut sudah berada di jalur yang tepat meski masih membutuhkan sejumlah perbaikan di lapangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Akui Masih Ada Kekurangan dalam Pelaksanaan
Bahlil tidak menutup mata terhadap berbagai kendala yang muncul dalam implementasi MBG.
Ia menilai evaluasi perlu berjalan secara terbuka agar pemerintah dapat menyempurnakan pelaksanaan program tersebut ke depan.
Menurutnya, kekurangan yang muncul tidak boleh menjadi alasan untuk saling menyalahkan antar pihak yang terlibat.
Serukan Kolaborasi, Bukan Saling Menyalahkan
Bahlil mengajak semua pihak untuk memperkuat kerja sama dalam menyukseskan program MBG.
Ia menegaskan bahwa perbaikan program harus dilakukan secara kolektif, bukan dengan membangun narasi saling menyalahkan.
Ia juga menyinggung latar belakang pribadinya yang pernah mengalami kesulitan ekonomi.
“Program ini harus kita wujudkan bersama. Saya pernah mengalami masa sulit, bahkan busung lapar. Karena itu saya menilai program makanan bergizi gratis ini sangat mulia. Kalau ada kekurangan, kita perbaiki bersama, bukan saling menyalahkan,” ujarnya.
Tanggapi Candaan Viral “MBG = Mas Bahlil Ganteng”
Dalam kesempatan yang sama, Bahlil juga menanggapi tren media sosial yang memelesetkan singkatan MBG menjadi “Mas Bahlil Ganteng”.
Ia meminta publik tidak menyimpangkan makna program tersebut.
Bahlil menegaskan bahwa MBG berarti Makan Bergizi Gratis, bukan istilah lain yang berkembang di media sosial.
“Jangan dipelintir. MBG itu Makan Bergizi Gratis, bukan Mas Bahlil Ganteng,” katanya.
Fokus Pemerintah: Perbaikan dan Evaluasi
Pemerintah terus mendorong penyempurnaan program MBG agar berjalan lebih efektif di lapangan.
Bahlil menekankan bahwa tujuan utama program ini tetap pada peningkatan kualitas gizi anak Indonesia dan penguatan ketahanan pangan masyarakat.
Ia berharap publik dapat memberi ruang bagi perbaikan tanpa memperkeruh suasana dengan polemik yang tidak produktif. ***(Ant)






