Sungai Eufrat Terus Menyusut, Benarkah Tanda yang Pernah Disebut Rasulullah?

Senin, 16 Maret 2026 - 13:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sungai Eufrat Mulai Mengering. (Foto : DW SoftNews)

Sungai Eufrat Mulai Mengering. (Foto : DW SoftNews)

Kabar Pajajaran – Sungai Eufrat yang selama ribuan tahun menjadi sumber kehidupan bagi wilayah Timur Tengah kini menghadapi ancaman serius. Sejumlah laporan ilmiah menyebutkan bahwa sungai yang melintasi Turki, Suriah, dan Irak tersebut berpotensi mengalami kekeringan parah bahkan mengering pada sekitar tahun 2040 akibat perubahan iklim dan eksploitasi sumber daya air.

Ancaman tersebut menarik perhatian banyak pihak, termasuk kalangan umat Islam, karena kondisi Sungai Eufrat pernah disebut dalam hadis Nabi Muhammad SAW mengenai tanda-tanda akhir zaman.

Dalam sebuah hadis sahih riwayat Sahih Muslim disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Hari kiamat tidak akan terjadi sebelum Sungai Eufrat mengering dan menyingkap gunung emas, sehingga manusia saling berperang untuk memperebutkannya.”

Hadis tersebut selama ini sering menjadi bahan kajian para ulama dan peneliti, terutama ketika fenomena alam yang berkaitan dengan Sungai Eufrat mulai menunjukkan perubahan drastis.

Sungai Penting bagi Peradaban Dunia

Sungai Eufrat merupakan salah satu sungai terbesar di kawasan Timur Tengah yang mengalir dari Turki menuju Suriah dan Irak sebelum bergabung dengan Sungai Tigris. Kedua sungai ini sejak ribuan tahun lalu menjadi tulang punggung kehidupan masyarakat di wilayah yang dikenal sebagai Mesopotamia.

Mesopotamia sendiri dikenal dalam sejarah sebagai salah satu tempat lahirnya peradaban manusia paling awal di dunia. Sistem pertanian, kota-kota kuno, hingga perkembangan budaya besar berkembang berkat keberadaan kedua sungai tersebut.

Namun dalam beberapa dekade terakhir, kondisi sistem sungai Tigris–Eufrat dilaporkan semakin memprihatinkan.

Laporan Ilmiah: Air Menyusut Drastis

Penelitian yang dikutip dari NASA melalui satelit Gravity Recovery and Climate Experiment (GRACE) menunjukkan penurunan signifikan cadangan air di wilayah cekungan Tigris–Eufrat.

Analisis citra satelit pada 2013 mengungkapkan bahwa wilayah tersebut telah kehilangan sekitar 144 kilometer kubik air tawar sejak 2003. Penurunan itu terjadi akibat kombinasi kekeringan berkepanjangan, perubahan iklim, serta meningkatnya penggunaan air oleh manusia.

Ahli hidrologi dari University of California, Irvine, Jay Famiglietti, menyebut tingkat kehilangan air di kawasan ini sangat mengkhawatirkan.

Menurutnya, data GRACE menunjukkan bahwa cekungan Tigris–Eufrat mengalami salah satu tingkat penurunan cadangan air tanah tercepat di dunia.

Kondisi tersebut semakin parah setelah kekeringan besar yang melanda wilayah tersebut pada 2007. Di sisi lain, kebutuhan air terus meningkat seiring pertumbuhan populasi dan aktivitas ekonomi.

Potensi Konflik Antarnegara

Masalah krisis air di wilayah ini juga diperumit oleh faktor geopolitik. Sungai Eufrat dan Tigris melintasi beberapa negara yang memiliki kepentingan berbeda dalam pengelolaan air.

Ketegangan terkait pembagian sumber air antara Turki, Suriah, dan Irak telah berlangsung selama bertahun-tahun. Perbedaan kebijakan dan interpretasi hukum internasional sering kali menghambat kerja sama yang efektif dalam pengelolaan air di kawasan tersebut.

Jika sistem sungai benar-benar mengalami keruntuhan, dampaknya akan sangat besar. Jutaan penduduk di tiga negara tersebut bergantung pada air dari Sungai Eufrat dan Tigris untuk kebutuhan rumah tangga, pertanian, hingga industri.

Ancaman Krisis Kesehatan

Krisis air juga berpotensi memicu masalah kesehatan masyarakat. Laporan yang dipublikasikan oleh British Medical Journal mengungkap bahwa kekurangan air bersih di Irak mulai memicu penyebaran berbagai penyakit.

Beberapa penyakit seperti diare, cacar air, campak, tifus, hingga kolera dilaporkan meningkat di sejumlah wilayah. Kondisi ini terjadi karena masyarakat kesulitan mendapatkan air bersih yang layak untuk konsumsi dan sanitasi.

Aktivis lingkungan Irak, Naseer Baqar, menyebut krisis air yang melanda negaranya sudah berada pada tahap mengkhawatirkan. Ia menilai masalah ini membutuhkan perhatian serius dari pemerintah dan kerja sama internasional.

Ancaman Nyata di Masa Depan

Prediksi bahwa Sungai Eufrat dapat mengering pada sekitar 2040 menjadi peringatan serius bagi dunia. Selain mengancam kehidupan jutaan orang, kondisi tersebut juga dapat memperburuk ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Fenomena ini sekaligus mengingatkan pentingnya pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan, terutama di wilayah yang sangat bergantung pada sistem sungai untuk kelangsungan hidup masyarakatnya.

Di tengah ancaman perubahan iklim dan meningkatnya kebutuhan air global, masa depan Sungai Eufrat kini menjadi perhatian para ilmuwan, pemerintah, dan masyarakat internasional. *** (Chokie)

 

Facebook Comments Box

Berita Terkait

12 Karhutla Hanguskan 10,85 Hektare Lahan di Majalengka, Warga Diminta Waspada
Matahari Tepat di Atas Mekkah, BMKG Ajak Masyarakat Kalibrasi Arah Kiblat 15-17 Juli 2026
Kemenhaj Ajukan Skema Baru Haji 2027, Jemaah Cukup Bayar Rp42,8 Juta
Google Ubah Aturan Backup Android, Mulai Sekarang Seluruh Data Ikut Memakan Kuota Penyimpanan
Jutaan Pelayat Iringi Jenazah Ali Khamenei ke Qom, Iran Lanjutkan Prosesi Pemakaman
Harga Minyak Dunia Menguat Setelah Ketegangan AS-Iran Kembali Memanas
Psikopat Ramai Dikaitkan dengan Kasus Taufik Hidayat, Pakar Minta Publik Tak Asal Memberi Label
Bareskrim Ungkap Modus Judi Online Hayam Wuruk, Polanya Mirip Sindikat Kamboja dan Myanmar

Berita Terkait

Sabtu, 25 Juli 2026 - 11:00 WIB

12 Karhutla Hanguskan 10,85 Hektare Lahan di Majalengka, Warga Diminta Waspada

Rabu, 15 Juli 2026 - 08:02 WIB

Matahari Tepat di Atas Mekkah, BMKG Ajak Masyarakat Kalibrasi Arah Kiblat 15-17 Juli 2026

Kamis, 9 Juli 2026 - 10:00 WIB

Kemenhaj Ajukan Skema Baru Haji 2027, Jemaah Cukup Bayar Rp42,8 Juta

Rabu, 8 Juli 2026 - 10:00 WIB

Google Ubah Aturan Backup Android, Mulai Sekarang Seluruh Data Ikut Memakan Kuota Penyimpanan

Selasa, 7 Juli 2026 - 09:06 WIB

Jutaan Pelayat Iringi Jenazah Ali Khamenei ke Qom, Iran Lanjutkan Prosesi Pemakaman

Berita Terbaru