Harga Minyak Mendadak Anjlok Usai Trump Bicara Soal Perang Iran Telah Usai

Rabu, 11 Maret 2026 - 09:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Minyak Dunia, Harga minyak dunia sempat anjlok tajam setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan perang dengan Iran hampir selesai. Namun, analis menilai penurunan harga tersebut belum mencerminkan kondisi pasokan energi global yang masih terganggu. (Google)

Ilustrasi Minyak Dunia, Harga minyak dunia sempat anjlok tajam setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan perang dengan Iran hampir selesai. Namun, analis menilai penurunan harga tersebut belum mencerminkan kondisi pasokan energi global yang masih terganggu. (Google)

Kabar Pajajaran – Harga minyak dunia mengalami penurunan tajam setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa konflik antara Amerika Serikat dan Iran hampir berakhir. Meski demikian, para analis menilai pasar energi global masih menghadapi ketidakpastian karena gangguan pasokan di kawasan Timur Tengah belum sepenuhnya pulih.

Dalam wawancara dengan CBS News pada Senin (9/3/2026), Trump mengatakan operasi militer yang berlangsung berkembang lebih cepat dari perkiraan. Ia menyebut konflik yang sempat memicu ketegangan regional itu kini mendekati akhir.

Pernyataan tersebut langsung memengaruhi pergerakan pasar energi global. Harga minyak yang sebelumnya melonjak tajam akibat kekhawatiran gangguan pasokan mulai mengalami koreksi signifikan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Harga Turun dari Level Tertinggi

Sebelumnya, harga minyak sempat menyentuh sekitar 119 dollar AS per barel di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah. Namun pada Selasa (10/3/2026), harga minyak acuan global Brent crude oil turun ke sekitar 81,40 dollar AS per barel.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di kisaran 79,90 dollar AS per barel. Kedua harga tersebut turun lebih dari 30 persen dibandingkan puncaknya.

Meski terjadi koreksi tajam, para pelaku pasar menilai pergerakan harga masih sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Jalur Energi Global Masih Terganggu

Salah satu faktor utama yang menjadi perhatian pasar adalah kondisi jalur pelayaran di Selat Hormuz. Jalur ini merupakan salah satu rute energi paling penting di dunia karena dilalui sekitar 20 persen pengiriman minyak global melalui laut.

Selama jalur tersebut belum sepenuhnya aman, distribusi energi global diperkirakan tetap menghadapi tekanan.

Analis dari Capital.com, Kyle Rodda, mengatakan pasar saat ini masih menunggu bukti nyata bahwa konflik benar-benar mereda dan aktivitas energi di kawasan Teluk kembali normal.

Menurutnya, indikator utama yang diperhatikan pelaku pasar adalah pemulihan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, normalisasi produksi di negara-negara produsen, serta keamanan infrastruktur energi di kawasan tersebut.

Produksi Minyak Sempat Terhenti

Sejumlah fasilitas energi di Timur Tengah dilaporkan menghentikan operasi sementara selama konflik berlangsung. Kilang minyak Ruwais di Uni Emirat Arab yang memiliki kapasitas pengolahan sekitar 900.000 barel per hari dihentikan sementara sebagai langkah pencegahan.

Di Bahrain, kilang milik Bapco Energies juga ditutup sementara. Sementara itu, perusahaan energi negara QatarEnergy mengumumkan force majeure terhadap pengiriman gas alam cair dari terminal ekspor Ras Laffan.

Gangguan produksi juga terjadi di sejumlah negara produsen utama seperti Arab Saudi, Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab.

Secara keseluruhan, produksi minyak yang terhenti sementara diperkirakan mencapai sekitar 6,7 juta barel per hari, atau sekitar 6 persen dari total pasokan minyak dunia.

Pemulihan Diperkirakan Tidak Cepat

Para analis memperkirakan sistem pasokan energi global tidak akan langsung kembali normal meskipun ketegangan mereda. Infrastruktur energi yang sempat terdampak membutuhkan waktu untuk diperbaiki, sementara aktivitas pelayaran juga memerlukan jaminan keamanan bagi kapal tanker.

Chief Executive Officer Saudi Aramco, Amin Nasser, bahkan memperingatkan bahwa gangguan pasokan yang berlangsung lama berpotensi menimbulkan dampak serius bagi stabilitas pasar energi global.

Di tengah situasi tersebut, pelaku pasar masih menilai perkembangan konflik secara hati-hati. Keputusan Iran terkait keamanan pelayaran di Selat Hormuz dinilai akan menjadi faktor kunci yang menentukan stabilitas pasokan energi dunia dalam waktu dekat. *** (Ant)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

16 Negara yang Merayakan Kemerdekaan dan Hari Nasional pada Agustus, Indonesia 17 Agustus
Kacamata Gerhana Matahari Langka di Inggris, Warga Rela Antre hingga Berburu di Toko Roti
Rencana Penutupan Konsulat AS di Medan Tuai Sorotan, Ini Kata Pemerintah AS
Harga Minyak Dunia Melemah di Tengah Gejolak Timur Tengah
Gempa M 7,1 Guncang Jepang, Mall Runtuh dan Pabrik Ambruk, Puluhan Orang Terluka
Jutaan Pelayat Iringi Jenazah Ali Khamenei ke Qom, Iran Lanjutkan Prosesi Pemakaman
Harga Minyak Dunia Menguat Setelah Ketegangan AS-Iran Kembali Memanas
Bareskrim Ungkap Modus Judi Online Hayam Wuruk, Polanya Mirip Sindikat Kamboja dan Myanmar

Berita Terkait

Senin, 17 Agustus 2026 - 08:00 WIB

16 Negara yang Merayakan Kemerdekaan dan Hari Nasional pada Agustus, Indonesia 17 Agustus

Rabu, 12 Agustus 2026 - 12:00 WIB

Kacamata Gerhana Matahari Langka di Inggris, Warga Rela Antre hingga Berburu di Toko Roti

Selasa, 4 Agustus 2026 - 09:00 WIB

Rencana Penutupan Konsulat AS di Medan Tuai Sorotan, Ini Kata Pemerintah AS

Jumat, 31 Juli 2026 - 10:00 WIB

Harga Minyak Dunia Melemah di Tengah Gejolak Timur Tengah

Rabu, 29 Juli 2026 - 10:00 WIB

Gempa M 7,1 Guncang Jepang, Mall Runtuh dan Pabrik Ambruk, Puluhan Orang Terluka

Berita Terbaru