Bandung, Kabar Pajajaran – Pemerintah Kota Bandung mulai menerapkan strategi pengelolaan sampah berbasis lingkungan melalui program Petugas Pemilah dan Pengolah Sampah atau Gaslah. Program ini menggunakan skema satu RW satu petugas untuk mendorong penyelesaian persoalan sampah dari tingkat paling dasar, yaitu rumah tangga.
Melalui skema tersebut, rumah tangga ditempatkan sebagai titik awal pengelolaan sampah. Pemerintah Kota Bandung menilai pemilahan sejak dari sumber menjadi kunci agar beban pengelolaan sampah tidak terus menumpuk di hilir.
Program Gaslah resmi diluncurkan di Alun-alun Ujungberung pada Senin, 26 Januari 2026. Peluncuran ini menandai dimulainya penempatan petugas Gaslah di seluruh wilayah Kota Bandung.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Baca juga: Menteri LH Soroti Sampah Pasar Caringin: Pengelola Wajib Bereskan, Sanksi Menanti
Sebanyak 1.596 petugas direkrut untuk mendukung program tersebut. Ribuan petugas itu akan ditempatkan di setiap RW di Kota Bandung guna memastikan pemilahan sampah dilakukan langsung dari pintu rumah warga.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menjelaskan, strategi ini dipilih agar pengelolaan sampah tidak lagi bertumpu pada proses pengangkutan dan pembuangan akhir. Menurutnya, pengendalian sampah harus dimulai dari sumbernya.
Dalam pelaksanaannya, petugas Gaslah bertugas mendatangi rumah-rumah warga setiap pagi. Mereka memastikan sampah telah dipilah antara sampah organik dan non-organik sebelum dilakukan penanganan lebih lanjut.
Farhan menyampaikan, sampah organik yang sudah dipilah akan dibawa oleh petugas untuk diolah di titik-titik pengolahan yang telah ditentukan di tingkat kelurahan. Sementara itu, sampah non-organik tetap dikelola melalui sistem pengangkutan yang sudah berjalan selama ini.
Baca juga: Dukung Evakuasi Korban Longsor Pasirlangu, Pemprov Jabar Terapkan Operasi Modifikasi Cuaca
Ia menegaskan, peran petugas Gaslah tidak hanya sebatas memastikan pemilahan sampah. Lebih dari itu, petugas juga berperan sebagai penggerak edukasi agar kesadaran memilah sampah tumbuh di tengah masyarakat.
Menurut Farhan, melalui pendekatan langsung di tingkat RW, diharapkan pengelolaan sampah dapat diselesaikan di lingkungan masing-masing. Dengan begitu, volume sampah yang harus dibawa ke TPS dan TPA bisa ditekan.
Penerapan program Gaslah dinilai semakin penting di tengah kondisi Tempat Pembuangan Akhir Sarimukti yang saat ini berada dalam status sangat kritis. Kondisi tersebut telah menjadi perhatian Kementerian Lingkungan Hidup dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Di sisi lain, Kota Bandung setiap hari menghasilkan sekitar 1.500 ton sampah. Dari jumlah tersebut, sekitar 30 hingga 40 persen merupakan sampah organik yang sebenarnya dapat diolah sejak dari sumbernya.
Baca juga: KDM: Warga di Lokasi Longsor Kabupaten Bandung Barat Akan Direlokasi
Tanpa pemilahan sejak rumah tangga, sampah organik berpotensi terus menambah beban pengelolaan di Tempat Penampungan Sementara maupun TPA. Kondisi ini dinilai dapat mempercepat krisis pengelolaan sampah di wilayah perkotaan.
Melalui skema satu RW satu petugas, Pemerintah Kota Bandung menargetkan pengelolaan sampah dapat berjalan lebih merata di seluruh wilayah kota. Program ini juga diharapkan mampu mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah rumah tangga sehari-hari.***(Nalika)
















