KUNINGAN – Fenomena hujan es yang disertai angin kencang melanda Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Peristiwa tersebut merusak puluhan rumah warga, bangunan usaha, hingga fasilitas umum.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap bahwa pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) dengan energi tinggi menjadi pemicu utama cuaca ekstrem tersebut.
Prakirawan BMKG Stasiun Geofisika Bandung, Iid Mujtahidin, menjelaskan bahwa awan konvektif berkembang sangat kuat hingga mencapai fase matang. Kondisi ini memungkinkan terbentuknya butiran es di dalam awan sebelum jatuh ke permukaan bumi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Analisis citra satelit Himawari-9 EH pada Senin (2/11/2026) menunjukkan adanya kumpulan awan konvektif masif di wilayah timur Jawa Barat.
BMKG mencatat suhu puncak awan mencapai minus 75 hingga minus 80 derajat Celsius. Bahkan, inti sel awan menunjukkan suhu minus 80 sampai minus 100 derajat Celsius.
Data radar cuaca CMAX juga memperlihatkan nilai reflektivitas mencapai 45–55 dBZ. Angka tersebut menunjukkan aktivitas awan konvektif yang cukup kuat.
Arus Udara Kuat Picu Hujan Es
Iid menjelaskan, awan Cumulonimbus yang menjulang melewati lapisan beku memungkinkan terbentuknya kristal es berukuran besar.
Arus udara naik atau updraft yang kuat mempertahankan massa es di dalam awan. Namun, ketika berat kristal es melampaui kemampuan arus udara tersebut, butiran es akhirnya jatuh ke permukaan sebelum mencair sepenuhnya.
Pada saat bersamaan, massa udara dingin dari dalam awan bergerak turun dengan cepat. Fenomena yang dikenal sebagai downburst atau microburst ini menghasilkan hempasan angin kencang di permukaan.
Kombinasi hujan es dan angin kencang inilah yang menyebabkan kerusakan pada sejumlah bangunan milik warga.
Puluhan Rumah Mengalami Kerusakan
Cuaca ekstrem melanda wilayah Kabupaten Kuningan pada Senin (2/11/2026) sekitar pukul 16.30 WIB.
Berdasarkan laporan Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Kabupaten Kuningan, dampak kejadian tersebut tersebar di Kecamatan Luragung dan Cidahu.
Desa Luragung Tonggoh menjadi salah satu wilayah dengan dampak kerusakan paling parah. Sedikitnya 50 rumah warga mengalami kerusakan, terutama pada bagian atap berbahan spandek dan baja ringan.
Angin kencang juga merusak sejumlah ruko dan bangunan lainnya. Selain itu, beberapa pohon berukuran besar tumbang hingga menghalangi akses jalan.
Salah satu pohon kenari dengan diameter sekitar 30 sentimeter dan tinggi 10 meter tumbang di jalan utama Luragung–Kuningan. Pohon tersebut sempat menutup seluruh badan jalan.
Tim gabungan BPBD, aparat kecamatan, dan masyarakat setempat kemudian melakukan penanganan. Petugas membersihkan material bangunan serta mengevakuasi pohon tumbang agar aktivitas warga kembali berjalan.
Sejumlah Faktor Atmosfer Perkuat Cuaca Ekstrem
Selain pertumbuhan awan Cumulonimbus, BMKG menemukan sejumlah faktor atmosfer yang mendukung terbentuknya cuaca ekstrem di wilayah Jawa Barat.
Suhu muka laut yang relatif hangat meningkatkan penguapan dan menyediakan pasokan uap air ke atmosfer. Aktivitas gelombang Madden-Julian Oscillation (MJO) di wilayah Pulau Jawa juga ikut mendukung pertumbuhan awan hujan.
BMKG turut mencatat kelembapan udara pada lapisan 850–500 milibar berada pada kisaran 40–93 persen.
Pola angin dari arah tenggara serta keberadaan sirkulasi siklonik di Samudra Hindia sebelah barat Sumatra dan Selat Karimata turut membentuk belokan angin di wilayah Jawa Barat.
Kondisi tersebut menciptakan lingkungan atmosfer yang mendukung pembentukan awan konvektif dengan intensitas tinggi.
BMKG mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca yang berlangsung cepat. Hujan lebat, petir, angin kencang, dan potensi pohon tumbang perlu menjadi perhatian, terutama ketika masyarakat beraktivitas di luar ruangan. ***(Chq)






