BANDUNG, KABAR PAJAJARAN – Pengaruh El Niño sangat kuat masih menekan curah hujan di Jawa Barat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan sebagian besar wilayah Jabar tetap mengalami curah hujan rendah.
Namun, kondisi atmosfer yang lebih lembap membuka peluang hujan lokal di sejumlah daerah. BMKG memprakirakan hujan dengan intensitas sedang yang dapat disertai kilat, petir, dan angin kencang pada 21-27 September 2026.
Kepala BMKG Bandung Edi Wibowo mengatakan, atmosfer Jawa Barat menunjukkan peningkatan kelembapan dibandingkan pekan sebelumnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Sepekan ke depan indeks NINO 3.4 berkisar pada nilai +2,51. Kelembapan udara pada lapisan 850-700 mb berada pada kisaran 40-95 persen yang menunjukkan peningkatan dari pekan sebelumnya,” kata Edi, Minggu (20/9/2026).
Kelembapan Meningkat, Hujan Lokal Berpeluang Terjadi
Menurut Edi, peningkatan kelembapan dapat membantu pembentukan awan hujan di beberapa wilayah Jawa Barat.
Selain itu, anomali suhu muka laut berada pada kisaran -3,0 hingga +3,5 derajat Celsius. Kondisi labilitas atmosfer juga berada pada kategori ringan hingga sedang.
Kombinasi kondisi tersebut meningkatkan peluang hujan lokal.
“Anomali suhu muka laut berada pada -3,0 sampai dengan +3,5 °C dengan labilitas atmosfer yang bervariasi pada kategori ringan hingga sedang sehingga menaikkan peluang beberapa wilayah untuk terjadi hujan lokal,” ujar Edi.
Meski demikian, BMKG tetap memperkirakan curah hujan Jawa Barat secara umum berada pada kategori rendah.
Hujan ringan masih dapat muncul secara lokal di sejumlah daerah.
“Secara umum curah hujan di Jawa Barat masih cenderung rendah, namun potensi hujan dengan intensitas ringan masih diprakirakan terjadi secara lokal di sebagian wilayah Jawa Barat,” katanya.
Daftar Wilayah Jabar yang Berpotensi Hujan dan Petir
BMKG memantau sejumlah wilayah Jawa Barat yang berpotensi mengalami hujan sedang. Hujan tersebut juga dapat disertai kilat atau petir serta angin kencang dalam waktu singkat.
Berikut wilayah yang masuk dalam prakiraan BMKG:
**Senin, 21 September 2026**
* Kabupaten Bogor
* Kabupaten Cianjur
* Kabupaten Sukabumi
* Kota Sukabumi
**Selasa, 22 September 2026**
* Kabupaten Bogor
* Kabupaten Cianjur
* Kabupaten Sukabumi
**Rabu, 23 September 2026**
* Kabupaten Bogor
* Kota Bogor
* Kabupaten Sukabumi
**Kamis, 24 September 2026**
* Kabupaten Karawang
* Kabupaten Purwakarta
**Jumat, 25 September 2026**
* Kabupaten Purwakarta
* Kabupaten Cianjur
* Kabupaten Sukabumi
* Kabupaten Bandung Barat
Masyarakat di wilayah tersebut perlu memperhatikan perkembangan cuaca, terutama ketika awan hujan mulai tumbuh.
El Niño Masih Tekan Curah Hujan
BMKG menjelaskan bahwa pengaruh El Niño sangat kuat masih membatasi pasokan kelembapan ke wilayah Indonesia.
Kondisi tersebut membuat pertumbuhan awan hujan tidak optimal. Akibatnya, cuaca kering masih berpeluang bertahan di sejumlah wilayah.
Secara nasional, BMKG memprakirakan sebagian besar wilayah Indonesia mengalami curah hujan rendah hingga menengah. Perkiraan tersebut berada pada kisaran 0-150 milimeter per dasarian hingga Dasarian II Oktober 2026.
Meski begitu, dinamika atmosfer tetap dapat berubah dalam periode tertentu. Ketika kondisi atmosfer mendukung, pertumbuhan awan dapat meningkat dan memicu hujan lokal.
Karena itu, curah hujan yang rendah akibat El Niño tidak berarti seluruh wilayah akan selalu mengalami cuaca kering.
Hujan sedang hingga lebat tetap dapat terjadi secara lokal ketika kondisi atmosfer mendukung pembentukan awan hujan.
BMKG Ingatkan Ancaman Kekeringan
Di tengah peluang hujan lokal, BMKG meminta masyarakat tetap mewaspadai dampak musim kemarau.
Beberapa wilayah masih menghadapi risiko penurunan ketersediaan air bersih. Selain itu, kekeringan juga dapat mengganggu lahan pertanian.
BMKG juga mengingatkan potensi peningkatan titik panas atau hotspot yang dapat memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak musim kemarau, seperti penurunan ketersediaan air bersih, kekeringan pada lahan pertanian, serta potensi peningkatan titik panas (hotspot) yang dapat memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla),” ujar Edi. ***(Chq)






