Pengangguran Jawa Barat Turun Jadi 6,67 Persen, Lulusan SMK Masih Paling Terdampak

Sabtu, 7 November 2026 - 06:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kinerja perdagangan luar negeri Jawa Barat menunjukkan tren positif sepanjang Januari-September 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat mencatat neraca perdagangan luar negeri Jabar membukukan surplus sebesar USD22,09 miliar.

Kinerja perdagangan luar negeri Jawa Barat menunjukkan tren positif sepanjang Januari-September 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat mencatat neraca perdagangan luar negeri Jabar membukukan surplus sebesar USD22,09 miliar.

KOTA BANDUNG – Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Jawa Barat turun menjadi 6,67 persen pada Agustus 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat mencatat angka tersebut berkurang 0,10 persen poin dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 6,77 persen.

Penurunan pengangguran di Jawa Barat ini sejalan dengan bertambahnya jumlah penduduk yang bekerja. Hingga Agustus 2026, sebanyak 24,77 juta orang tercatat memiliki pekerjaan atau meningkat sekitar 260 ribu orang dibandingkan Agustus 2025.

Kepala BPS Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati, menyampaikan data tersebut dalam Rilis Berita Resmi Statistik di Kantor BPS Jabar, Kamis (5/11/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Meski menunjukkan tren penurunan, tingkat pengangguran masih memperlihatkan perbedaan berdasarkan jenis kelamin. BPS mencatat TPT laki-laki mencapai 6,79 persen, sedangkan perempuan sebesar 6,46 persen.

Jika dibandingkan dengan Agustus 2025, tingkat pengangguran laki-laki turun 0,13 persen poin. Sementara itu, TPT perempuan berkurang 0,05 persen poin.

Pengangguran di Perkotaan Lebih Tinggi

Berdasarkan wilayah tempat tinggal, masyarakat perkotaan masih menghadapi tingkat pengangguran lebih tinggi dibandingkan penduduk perdesaan.

BPS mencatat TPT perkotaan mencapai 6,98 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan TPT perdesaan yang berada pada level 5,14 persen.

Namun, kondisi di kedua wilayah menunjukkan pergerakan berbeda. Pengangguran di perkotaan turun 0,21 persen poin dibandingkan Agustus 2025. Sebaliknya, TPT perdesaan justru meningkat 0,22 persen poin.

Data ini menunjukkan bahwa penurunan pengangguran belum berlangsung merata di seluruh wilayah Jawa Barat.

Lulusan SMK Catat Pengangguran Tertinggi

Persoalan pengangguran juga masih menjadi tantangan bagi kelompok masyarakat berdasarkan tingkat pendidikan.

BPS Jawa Barat mencatat lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) memiliki tingkat pengangguran tertinggi dibandingkan jenjang pendidikan lainnya pada Agustus 2026.

“Pada Agustus 2026, TPT dari tamatan Sekolah Menengah Kejuruan masih merupakan yang paling tinggi dibandingkan tamatan jenjang pendidikan lainnya, yaitu sebesar 12,19 persen,” kata Margaretha.

Sebaliknya, penduduk dengan pendidikan SD ke bawah mencatat tingkat pengangguran paling rendah, yakni 2,80 persen.

Jika dibandingkan dengan Agustus 2025, lulusan Diploma I/II/III mengalami kenaikan TPT paling besar, yaitu 1,82 persen poin.

Sementara itu, lulusan SMK mencatat penurunan pengangguran terbesar. TPT kelompok pendidikan tersebut berkurang 0,62 persen poin dalam setahun.

Perdagangan Menjadi Penyerap Tenaga Kerja Terbesar

Di tengah penurunan tingkat pengangguran, sektor perdagangan masih menjadi lapangan pekerjaan yang paling banyak menyerap tenaga kerja di Jawa Barat.

BPS mencatat sebanyak 5,71 juta orang atau sekitar 23,04 persen penduduk bekerja menggantungkan mata pencaharian pada sektor Perdagangan Besar dan Eceran.

Dari sisi status pekerjaan, sebanyak 11,15 juta orang atau 45,02 persen penduduk bekerja berada di sektor formal. Jumlah tersebut meningkat sekitar 110 ribu orang dibandingkan Agustus 2025.

Sementara itu, sektor informal masih mendominasi struktur ketenagakerjaan Jawa Barat dengan jumlah 13,62 juta orang atau 54,98 persen dari total penduduk bekerja.

BPS juga mencatat mayoritas penduduk bekerja sebagai pekerja penuh, yakni mereka yang memiliki jam kerja minimal 35 jam per minggu.

Persentase pekerja penuh mencapai 74,39 persen pada Agustus 2026. Adapun pekerja tidak penuh dengan jam kerja kurang dari 35 jam per minggu mencapai 25,61 persen.

Penurunan TPT Jawa Barat menjadi 6,67 persen menunjukkan adanya perbaikan kondisi ketenagakerjaan. Meski demikian, tingginya pengangguran lulusan SMK serta meningkatnya TPT di perdesaan masih menjadi pekerjaan rumah dalam pemerataan kesempatan kerja di Jawa Barat. ***(Chq)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Ekonomi Jawa Barat Tumbuh 5,89 Persen, Belanja Pemerintah Jadi Motor Penggerak
Jabar Perluas Kerja Sama dengan Korea Selatan, Bidik Investasi dan Perdagangan
WJES 2026 Hasilkan 45 Rekomendasi untuk Perkuat Ekonomi Jawa Barat
Ekspor Jabar Tembus USD31,22 Miliar, Neraca Perdagangan Surplus USD22,09 Miliar
Dedi Mulyadi Luncurkan Jabar Merawat, Warga Bisa Adukan Pelayanan Rumah Sakit
Pariwisata Jawa Barat Melonjak, Bandara Kertajati Kebanjiran Penumpang Umrah
Krisis Air Bersih Cianjur Meluas, 7.234 KK Terdampak Kemarau 2026
Pemprov Jabar Pasang 1.185 Lampu Jalan di Priangan Timur, Anggaran Capai Rp48,3 Miliar

Berita Terkait

Sabtu, 7 November 2026 - 06:00 WIB

Pengangguran Jawa Barat Turun Jadi 6,67 Persen, Lulusan SMK Masih Paling Terdampak

Kamis, 5 November 2026 - 20:22 WIB

Ekonomi Jawa Barat Tumbuh 5,89 Persen, Belanja Pemerintah Jadi Motor Penggerak

Kamis, 5 November 2026 - 08:20 WIB

Jabar Perluas Kerja Sama dengan Korea Selatan, Bidik Investasi dan Perdagangan

Rabu, 4 November 2026 - 12:00 WIB

WJES 2026 Hasilkan 45 Rekomendasi untuk Perkuat Ekonomi Jawa Barat

Rabu, 4 November 2026 - 07:00 WIB

Ekspor Jabar Tembus USD31,22 Miliar, Neraca Perdagangan Surplus USD22,09 Miliar

Berita Terbaru