BANDUNG, KABAR PAJAJARAN – Rombongan Persib Bandung U-18 mengalami aksi intimidasi dan penyerangan saat beristirahat di Rest Area KM 360 Tol Trans Jawa, wilayah Batang, Jawa Tengah. Sekelompok orang diduga mengintimidasi rombongan, melempari bus dengan batu, dan mengeroyok seorang ofisial tim.
Serangan tersebut memecahkan kaca belakang bus di sisi kiri dan kanan. Pecahan kaca juga melukai sejumlah pemain yang berada di dalam kendaraan. Sementara itu, Media Officer Akademi Persib, Pandu Persada, mengaku mengalami kekerasan fisik saat berusaha membantu rekannya.
Pelatih Persib U-18, Tito Agung Setiawan, menceritakan bahwa rombongan sedang menempuh perjalanan pulang menuju Bandung ketika sopir memilih beristirahat di rest area tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kronologi Penyerangan Bus Persib U-18
Tito menjelaskan bahwa rombongan tidak mengetahui keberadaan kelompok suporter yang juga beristirahat di lokasi itu. Situasi mulai memanas setelah beberapa anggota tim turun dari bus.
Menurut Tito, kelompok tersebut kemungkinan mengenali rombongan setelah melihat atribut Persib yang dikenakan salah seorang ofisial.
“Saya tahan anggota tim yang lain untuk tidak ada yang keluar lagi. Anggota tim yang lain tidak ada keluar lagi untuk tetap bertahan di bus,” kata Tito di Pendopo Kota Bandung, Senin (12/10/2026).
Tito kemudian meminta seluruh anggota tim tetap berada di dalam bus. Ia mengambil langkah tersebut untuk mencegah para pemain terlibat dalam konfrontasi.
Namun, beberapa orang mendekati kendaraan dan melontarkan kata-kata kasar. Mereka juga diduga memprovokasi rombongan agar turun dari bus.
Lemparan Batu Pecahkan Kaca Bus
Situasi semakin tegang ketika sejumlah orang melempari bus menggunakan batu. Lemparan itu memecahkan kaca belakang di bagian kiri dan kanan.
Beberapa pemain terkena serpihan kaca dan mengalami luka ringan. Tito menyayangkan tindakan tersebut karena insiden itu mengancam keselamatan para pemain muda.
“Puncaknya bus kita dilempari dengan batu yang membuat pintu kaca belakang bus, kiri dan kanan itu pecah. Ada juga beberapa pemain yang di dalam bus terkena serpihan itu,” ujar Tito.
Di tengah kejadian tersebut, Pandu tidak bisa langsung kembali ke bus. Tito menduga sekelompok orang mengeroyok ofisial itu.
Rombongan kemudian meninggalkan lokasi untuk mencari bantuan polisi. Mereka juga melaporkan insiden tersebut kepada Polresta Batang.
Polisi menindaklanjuti laporan itu dengan menjemput Pandu di rest area. Setelah seluruh anggota tim kembali berkumpul, rombongan melanjutkan perjalanan ke Bandung menggunakan bus pengganti dengan pengawalan.
Tito menyebut rombongan terdiri atas 21 pemain dan 11 ofisial. Ia memastikan seluruh anggota tim akhirnya dapat melanjutkan perjalanan dengan selamat, meskipun Pandu mengalami luka akibat dugaan pengeroyokan.
Pandu Ceritakan Detik-Detik Penyerangan
Pandu Persada mengatakan rombongan Persib U-18 tidak berinteraksi dengan kelompok tersebut sebelum insiden terjadi. Ia menduga kelompok itu mengenali identitas rombongan setelah beberapa anggota tim turun dari bus.
Pandu sempat berusaha membantu seorang rekannya yang ditarik oleh kelompok tersebut. Ia ingin membawa rekannya kembali ke dalam bus. Namun, sejumlah orang justru mengerumuni Pandu dan memintanya melepas baju atau jaket yang ia kenakan.
Pandu kemudian terjatuh. Saat mendapat kesempatan, ia berlari menuju tempat tambal ban di sekitar rest area untuk menyelamatkan diri.
Petugas setempat membantu Pandu mencari tempat aman dari ancaman kekerasan. Ia mengapresiasi bantuan tersebut karena beberapa orang, menurut informasi yang ia terima, masih mencarinya di sekitar lokasi.
“Ini bukan sepak bola. Ini bukan hal yang dibenarkan. Ini pure kriminalitas,” kata Pandu.
Pandu mengaku kesulitan mengenali para pelaku karena kondisi lokasi gelap. Selain itu, sejumlah orang menutupi wajah sehingga ia tidak dapat melihat identitas mereka dengan jelas.
Ia berharap polisi mengusut kasus tersebut dan menangkap pihak yang bertanggung jawab. Pandu juga menerima informasi mengenai penangkapan seorang terduga pelaku, tetapi ia meminta aparat memastikan kebenaran informasi itu.
Farhan Kecam Kekerasan terhadap Persib U-18
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyampaikan keprihatinan atas insiden yang menimpa rombongan Persib U-18. Ia mengecam keras segala bentuk kekerasan terhadap pemain muda dan ofisial tim.
“Pemerintah Kota Bandung menyatakan sangat prihatin dan mengutuk keras tindakan teror tersebut karena teror kekerasan bukanlah bagian dari olahraga,” kata Farhan di Pendopo Kota Bandung, Senin (12/10/2026).
Farhan meminta kepolisian mengusut kasus tersebut hingga tuntas. Ia juga menyoroti dugaan penjarahan sejumlah barang milik ofisial selama insiden berlangsung.
“Kami meminta kepada Kepolisian Republik Indonesia agar melakukan penyidikan secara tuntas dan menegakkan keadilan,” ujarnya.
Selain mendorong proses hukum, Pemerintah Kota Bandung bersama Asosiasi Kota PSSI Bandung berencana memberikan pendampingan psikologis kepada para korban. Langkah ini bertujuan membantu pemain dan ofisial memulihkan kondisi mental setelah mengalami kekerasan.
Pemkot Bandung Siapkan Pengamanan Tim Akademi
Farhan berencana berdiskusi dengan manajemen Persib untuk memperkuat perlindungan bagi tim junior dan akademi ketika menjalani pertandingan tandang.
Ia mengusulkan penugasan seorang personel Satpol PP dan seorang personel Dinas Perhubungan (Dishub) untuk membantu menjaga keamanan rombongan. Personel tersebut juga dapat mendukung kebutuhan pengemudi cadangan selama perjalanan.
Farhan menegaskan bahwa pemerintah kota masih perlu membahas rencana tersebut bersama manajemen Persib dan pihak terkait.
Sementara itu, Tito mengakui insiden tersebut menimbulkan trauma bagi dirinya dan anggota tim. Padahal, Persib U-18 masih harus menjalani pertandingan tandang dalam kompetisi yang sedang berlangsung.
Meski demikian, Tito menyambut positif rencana pendampingan dan pengamanan dari Pemkot Bandung. Menurutnya, kehadiran unsur pengamanan dapat meningkatkan rasa aman bagi pemain dan ofisial saat melanjutkan kompetisi.
Rombongan Persib U-18 berharap kepolisian segera mengungkap kasus ini. Mereka juga mengharapkan pendampingan psikologis dan pengamanan perjalanan yang lebih baik agar para pemain dapat kembali berkonsentrasi menghadapi pertandingan. ***(Chq)






