KABAR PAJAJARAN – Aktivitas vulkanik kembali meningkat di sejumlah wilayah Indonesia. Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Gunung Semeru di Jawa Timur, dan Gunung Sinabung di Sumatera Utara tercatat mengalami erupsi dalam beberapa hari terakhir.
Meski aktivitas ketiga gunung api tersebut menimbulkan perhatian masyarakat, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) meminta warga tidak panik. Masyarakat tetap perlu mengikuti informasi resmi dan mematuhi batas aman yang telah ditetapkan.
Indonesia memiliki banyak gunung api aktif karena berada di kawasan Cincin Api Pasifik. Karena itu, aktivitas erupsi menjadi bagian dari dinamika vulkanik yang terus dipantau pemerintah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Anak Krakatau Mulai Mereda
Aktivitas Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda, Lampung Selatan, masih berlangsung pada Minggu (6/9/2026). Namun, intensitas erupsi mulai menurun dibandingkan aktivitas pada malam sebelumnya.
Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Suwarno, mengatakan letusan masih terjadi tetapi kekuatannya jauh lebih kecil.
Menurut Suwarno, aktivitas yang sebelumnya berlangsung secara menerus kini berubah menjadi letupan-letupan kecil.
Data MAGMA-VAR periode pukul 00.00 hingga 06.00 WIB menunjukkan erupsi menerus berhenti pada pukul 00.04 WIB. Meski begitu, alat pemantau masih merekam aktivitas kegempaan.
PVMBG mencatat satu gempa letusan dengan amplitudo maksimum 46 milimeter dan durasi 30 detik.
Aktivitas kembali tercatat pada pukul 07.10 WIB. Saat itu, erupsi menghasilkan amplitudo maksimum 50 milimeter dengan durasi 16 detik. Petugas belum dapat mengamati tinggi kolom abu secara visual.
Kabut tebal juga masih menyelimuti kawasan Gunung Anak Krakatau sehingga petugas di Pos Pemantauan Hargo Pancuran kesulitan melihat kondisi gunung secara langsung.
Hingga Minggu, Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. PVMBG menetapkan status tersebut sejak 2 Juli 2026.
Gunung Semeru Erupsi, Kolom Abu Capai 1.000 Meter
Aktivitas vulkanik juga terjadi di Gunung Semeru, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.
PVMBG mencatat erupsi Gunung Semeru pada Minggu (6/9/2026) pukul 07.51 WIB. Erupsi tersebut menghasilkan kolom abu setinggi sekitar 1.000 meter di atas puncak kawah.
Petugas PPGA Semeru, Sigit Rian Alfian, menyampaikan bahwa seismograf merekam erupsi dengan amplitudo maksimum 23 milimeter dan durasi 1 menit 42 detik.
Abu vulkanik bergerak ke arah timur. BPBD Kabupaten Lumajang kemudian mengingatkan potensi hujan abu di wilayah Kecamatan Pasrujambe dan Senduro.
Sejauh ini, pemerintah belum menerima laporan kerusakan akibat erupsi tersebut. Warga yang tinggal di sekitar lereng Semeru juga masih menjalankan aktivitas sehari-hari.
Namun, BPBD Lumajang tetap meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan. Hujan deras di kawasan puncak dapat meningkatkan risiko banjir lahar hujan melalui sejumlah aliran sungai.
Pemerintah juga melarang aktivitas masyarakat di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga 13 kilometer dari puncak. Larangan berlaku pula dalam radius 500 meter dari tepi sungai sepanjang Besuk Kobokan karena wilayah tersebut berpotensi terkena awan panas guguran, guguran lava, dan aliran lahar.
Gunung Semeru saat ini juga berada pada Level III atau Siaga.
Gunung Sinabung Naik Status Jadi Siaga
Sementara itu, Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, mengalami peningkatan status aktivitas.
PVMBG menaikkan status Gunung Sinabung dari Level II atau Waspada menjadi Level III atau Siaga pada 31 Agustus 2026 pukul 12.00 WIB.
Peningkatan status tersebut mengikuti lonjakan aktivitas kegempaan dan erupsi yang terjadi pada hari yang sama.
Erupsi pada pukul 10.17 WIB dan 12.00 WIB menghasilkan kolom abu setinggi sekitar 3,5 kilometer. Abu bergerak ke arah timur dan tenggara, termasuk menuju wilayah Berastagi.
Aktivitas Gunung Sinabung juga berdampak pada masyarakat. Sebanyak 208 kepala keluarga atau 615 jiwa mengungsi ke Pos Pengungsian Desa Suka Tepu, Kecamatan Naman Teran, Kabupaten Karo.
Erupsi Sinabung turut mengganggu penerbangan. Operasional Bandara Internasional Kualanamu sempat berhenti sementara pada Selasa (1/9/2026) karena kondisi abu vulkanik.
Penghentian operasional tersebut berlangsung dari pukul 10.50 WIB hingga 12.45 WIB. Sedikitnya 15 penerbangan dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Kualanamu maupun arah sebaliknya mengalami pembatalan.
PVMBG dan Badan Geologi menetapkan sejumlah zona yang harus dihindari masyarakat. Warga tidak boleh beraktivitas di desa-desa yang sudah direlokasi, dalam radius 3 kilometer dari puncak, serta radius 6 kilometer pada sektor selatan dan timur.
Masyarakat juga harus mengantisipasi ancaman lahar di sepanjang aliran sungai.
Enam Gunung Api Pernah Erupsi Bersamaan
Aktivitas sejumlah gunung api dalam waktu berdekatan sempat menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat. Sebagian warga mengaitkannya dengan kemungkinan adanya hubungan antara satu gunung dengan gunung lainnya.
PVMBG menjelaskan bahwa fenomena tersebut tidak menunjukkan adanya hubungan langsung.
Pada 31 Agustus 2026, PVMBG mencatat enam gunung api mengalami erupsi dalam periode yang berdekatan. Keenam gunung tersebut yakni:
- Gunung Ibu di Maluku Utara
- Gunung Semeru di Jawa Timur
- Gunung Lewotobi Laki-laki di Nusa Tenggara Timur
- Gunung Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur
- Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda
- Gunung Sinabung di Sumatera Utara
Kepala PVMBG Siti Sumilah Rita Susilawati menjelaskan setiap gunung memiliki sistem magma dan proses menuju erupsi masing-masing.
Dengan demikian, erupsi yang terjadi hampir bersamaan tidak berarti aktivitas satu gunung memicu erupsi gunung lainnya.
PVMBG: Erupsi Gunung Api Tidak Saling Memicu
PVMBG menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu menghubungkan erupsi sejumlah gunung api hanya berdasarkan waktu kejadiannya.
Indonesia memiliki 127 gunung api aktif yang tersebar di berbagai wilayah. Setiap gunung memiliki karakteristik, sistem magma, serta dinamika aktivitas yang berbeda.
Rita juga menjelaskan bahwa gempa bumi tidak otomatis menyebabkan gunung api meletus.
Petugas harus melihat perubahan sejumlah parameter sebelum menentukan adanya hubungan antara aktivitas gempa dan peningkatan aktivitas gunung api.
Parameter tersebut antara lain peningkatan kegempaan vulkanik, perubahan bentuk tubuh gunung, peningkatan pelepasan gas, hingga perubahan suhu.
Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak mempercayai informasi yang belum terverifikasi mengenai aktivitas gunung api.
Informasi resmi PVMBG, Badan Geologi, BNPB, dan pemerintah daerah menjadi rujukan utama untuk mengetahui perkembangan kondisi gunung api.***



![Cara operasikan AC mobil. Sebagai ilustrasi [Shutterstock].](https://kabarpajajaran.com/wp-content/uploads/2026/09/ac-225x129.jpg)

