JAKARTA – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menilai Indonesia perlu mempercepat pertumbuhan ekonomi hingga 6,5-6,7 persen agar mampu menyerap tambahan tenaga kerja yang terus masuk ke pasar kerja.
Purbaya mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini memang mulai membawa perbaikan pada sejumlah indikator makroekonomi. Pemerintah mencatat kondisi kemiskinan dan pengangguran ikut membaik seiring pemulihan ekonomi.
Namun, Purbaya melihat manfaat pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya dirasakan masyarakat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurutnya, kondisi tersebut muncul karena perekonomian Indonesia baru mulai bergerak naik setelah melewati periode perlambatan.
“Kalau kita lihat kan, inflasi, pertumbuhan ekonomi, pengangguran itu sebenarnya angka yang sahih yang biasa kita pakai,” ujar Purbaya saat ditemui di Kementerian Keuangan, Jumat (28/8/2026).
Dampak Pertumbuhan Ekonomi Belum Sepenuhnya Terasa
Purbaya menjelaskan adanya jeda antara membaiknya indikator ekonomi dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Saat ekonomi mulai pulih, perusahaan dan pelaku usaha membutuhkan waktu untuk meningkatkan aktivitas serta membuka lebih banyak lapangan kerja. Karena itu, dampak pertumbuhan ekonomi belum langsung terasa oleh seluruh masyarakat.
“Ketika ekonomi baru jatuh dan mulai naik lagi, tiba-tiba semuanya dapat kerja kan. Jadi spill over efeknya belum sampai ke mereka mungkin. Yang penting kita juga terus seperti ini, nanti akan sampai,” katanya.
Purbaya menilai pemerintah harus menjaga momentum pemulihan tersebut. Pemerintah juga perlu mendorong pertumbuhan ekonomi ke level yang lebih tinggi agar mampu mengejar pertambahan jumlah penduduk yang memasuki usia kerja.
Pertumbuhan 6 Persen Belum Cukup
Purbaya menyebut pertumbuhan ekonomi pada kisaran 5 persen belum mampu menciptakan lapangan kerja dalam jumlah yang cukup.
Ia menilai pemerintah perlu membawa pertumbuhan ekonomi menuju 6 persen terlebih dahulu. Setelah itu, pemerintah dapat mendorong pertumbuhan ke level yang lebih tinggi.
“Untuk menyerap tempat kerja yang masuk ke usia kerja, itu kita tunggu 6,7 persen. Sekarang harus begitu. Sekarang kita di bawah itu,” ujar Purbaya.
Menurut Purbaya, pemerintah tidak hanya menghadapi tambahan tenaga kerja baru. Masih terdapat masyarakat yang sudah masuk angkatan kerja tetapi belum memperoleh pekerjaan.
“Jadi masih ada yang nggak kelihatan karena nggak terserap yang masuk. Apalagi yang lama-lama itu. Jadi kita memang harus tunggu lebih cepat untuk menyerap tempat kerja itu,” katanya.
Setiap 1 Persen Pertumbuhan Ciptakan 400 Ribu Lapangan Kerja
Purbaya sebelumnya menjelaskan hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.
Berdasarkan perhitungan yang mengacu pada tabel input-output Badan Pusat Statistik (BPS), setiap kenaikan pertumbuhan ekonomi sebesar 1 persen berkaitan dengan penciptaan sekitar 400.000 lapangan kerja.
Dengan asumsi tersebut, pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen berpotensi menciptakan sekitar 2,4 juta lapangan kerja baru.
Namun, jumlah tersebut masih belum cukup untuk menyerap seluruh tambahan tenaga kerja.
“Belum cukup untuk menyerap semua tenaga kerja yang masih di usia kerja. Kita perlu tumbuh, kalau enggak salah dengan hitungan itu 6,5 sampai 6,7 persen,” ujar Purbaya.
Pemerintah Kejar Pertumbuhan Ekonomi Lebih Tinggi
Pemerintah kini menargetkan pertumbuhan ekonomi mencapai 6 persen pada 2027. Purbaya menilai target tersebut menjadi tahap awal sebelum pemerintah mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi pada tahun-tahun berikutnya.
Pemerintah akan mempercepat pertumbuhan ekonomi secara bertahap. Dengan cara itu, peningkatan aktivitas ekonomi diharapkan mampu membuka lebih banyak lapangan kerja.
“Makanya kita ingin ekonomi pelan-pelan makin tumbuhnya makin cepat, makin cepat, sehingga orang yang masih ke usia kerja terserap dan pengeluaran lainnya juga terserap juga,” kata Purbaya.
Ia menegaskan pertumbuhan ekonomi sebesar 5 persen belum cukup untuk memenuhi kebutuhan penciptaan lapangan kerja.
“Kalau pertumbuhannya 5 enggak cukup. Makanya kita gini-gini aja,” ujarnya.
Kebijakan Fiskal Akan Mendukung Pertumbuhan
Purbaya mengatakan Kementerian Keuangan akan memastikan kebijakan fiskal mendukung agenda percepatan pertumbuhan ekonomi.
Pemerintah akan memantau berbagai hambatan yang dapat mengganggu aktivitas ekonomi. Pemerintah juga akan berupaya menghilangkan berbagai kendala yang menghambat pertumbuhan.
“Caranya? Ya penciptaan pertumbuhan ekonomi cepat. Caranya saya kerja lebih keras,” ujar Purbaya.
Ia menambahkan, kebijakan fiskal akan berjalan searah dengan upaya pemerintah meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
“Fiskal monitor jalannya selaras, the bottlenecking itu dihilangkan,” katanya.
Purbaya menilai Indonesia saat ini sedang menuju pertumbuhan ekonomi 6 persen. Pemerintah kemudian akan menyusun strategi untuk meningkatkan pertumbuhan pada tahun-tahun berikutnya.
“Kita baru menuju 6 persen kan semester kedua ini. Tahun depan 6 persen, tahun depannya kita desain akan lebih cepat lagi,” ujar Purbaya.***(Ant)



![Cara operasikan AC mobil. Sebagai ilustrasi [Shutterstock].](https://kabarpajajaran.com/wp-content/uploads/2026/09/ac-225x129.jpg)

