JAKARTA, KABAR PAJAJARAN – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan Rabu (29/7/2026). Tekanan dari pasar global mendorong mata uang Garuda turun, sementara Bank Indonesia (BI) terus memperkuat langkah stabilisasi melalui berbagai instrumen moneter.
Data Bloomberg hingga pukul 09.47 WIB menunjukkan rupiah turun 27 poin atau 0,15 persen menjadi Rp18.110 per dolar AS. Sehari sebelumnya, rupiah juga kehilangan 74 poin atau 0,41 persen sehingga ditutup di level Rp18.080 per dolar AS.
Pada saat yang sama, indeks dolar AS (DXY) berada di level 101,405. Indeks yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia itu turun tipis 0,01 persen setelah terkoreksi 0,12 persen pada perdagangan sebelumnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Mata Uang Asia Bergerak Beragam
Mayoritas mata uang Asia bergerak bervariasi sepanjang perdagangan pagi.
Dolar Taiwan mencatat pelemahan terdalam setelah turun 0,26 persen terhadap dolar AS. Won Korea Selatan ikut turun 0,14 persen. Dolar Singapura terkoreksi 0,05 persen, sedangkan yuan China melemah 0,04 persen. Dolar Hong Kong juga turun tipis sebesar 0,01 persen.
Sebaliknya, ringgit Malaysia memimpin penguatan di kawasan Asia setelah naik 0,08 persen. Yen Jepang menguat 0,07 persen, peso Filipina bertambah 0,05 persen, dan baht Thailand naik 0,01 persen.
BI Perkuat Strategi Stabilisasi Rupiah
Bank Indonesia memastikan tetap fokus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal. Bank sentral juga berupaya mengendalikan inflasi sekaligus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.
Direktur Eksekutif Senior sekaligus Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, mengatakan BI terus mengoptimalkan bauran kebijakan moneter agar pergerakan rupiah tetap terkendali.
Menurut Erwin, BI tidak hanya mengandalkan suku bunga acuan. Bank sentral juga memperkuat berbagai instrumen moneter untuk meningkatkan efektivitas kebijakan.
“Optimalisasi bauran kebijakan moneter dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah ditingkatkan. Tidak hanya mengandalkan suku bunga kebijakan, instrumen moneter lain juga dipertajam,” kata Erwin dalam keterangan tertulis, Rabu (29/7/2026).
Triple Intervention Jadi Andalan
BI terus menjalankan strategi triple intervention melalui pasar spot, Non-Deliverable Forward (NDF), dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Langkah tersebut bertujuan meredam gejolak nilai tukar sekaligus menjaga kepercayaan pelaku pasar.
Selain itu, BI memperkuat pemanfaatan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dengan dukungan fasilitas insentif swap dan DNDF hedging. Kebijakan tersebut membantu menjaga stabilitas rupiah sekaligus meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik bagi investor asing.
BI Jaga Likuiditas dan Dorong Pertumbuhan
Bank Indonesia juga menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan sektor perbankan. Erwin menjelaskan, BI akan menyesuaikan penerbitan SRBI dengan kebutuhan pengelolaan likuiditas agar arus modal asing terus mengalir ke dalam negeri.
Di sisi lain, BI memperkuat implementasi Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) untuk memperluas pembiayaan ke sektor-sektor prioritas. Bank sentral juga mempercepat digitalisasi sistem pembayaran dan meningkatkan mekanisme redistribusi likuiditas agar penyaluran pembiayaan semakin efektif serta mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. ***(Ant)






