JAKARTA, KABAR PAJAJARAN – Isu pemutusan hubungan kerja (PHK) massal kembali menyeret nama TikTok-Tokopedia. Rumor yang beredar di media sosial menyebut perusahaan memangkas hingga 90 persen karyawan, terutama di divisi teknologi dan riset pengembangan (R&D).
Manajemen TikTok-Tokopedia langsung membantah kabar tersebut. Perusahaan menegaskan hanya menjalankan penataan organisasi sebagai bagian dari strategi bisnis setelah proses integrasi dengan ByteDance.
Isu efisiensi memang terus mengikuti Tokopedia sejak ByteDance, perusahaan induk TikTok, mengakuisisi 75,01 persen saham Tokopedia dari GoTo Group pada Januari 2024. Nilai transaksi itu mencapai 1,5 miliar dollar AS atau sekitar Rp23,27 triliun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Akuisisi tersebut menjadi solusi agar TikTok mematuhi regulasi pemerintah yang melarang platform media sosial menjalankan fungsi e-commerce secara bersamaan. Setelah transaksi rampung, TikTok Shop kemudian terintegrasi dengan Tokopedia.
DPR Pastikan Tidak Ada PHK Massal
Rumor PHK pada Juli 2026 mendorong Komisi IX DPR RI bersama Kementerian Ketenagakerjaan memanggil manajemen TikTok-Tokopedia untuk meminta penjelasan.
Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad mengatakan hasil pertemuan menunjukkan perusahaan tidak melakukan PHK massal seperti yang ramai diberitakan.
Menurut Dasco, sekitar 200 pekerja memilih menerima paket kompensasi dalam proses penataan organisasi. Sebagian dari mereka juga melanjutkan karier di unit usaha lain yang masih berada di bawah grup TikTok.
Ia menjelaskan perusahaan tetap membuka peluang perpindahan internal sehingga sejumlah karyawan tetap bekerja di lingkungan bisnis TikTok meski berpindah divisi maupun perusahaan.
Tokopedia Tegaskan Jalankan Mobilitas Internal
Presiden Direktur PT Tokopedia Stephanie Susilo menegaskan perusahaan tidak melakukan PHK sepihak.
Stephanie menjelaskan perusahaan sedang menjalankan program penataan tenaga kerja melalui skema internal mobility atau mobilitas karyawan di dalam grup TikTok-Tokopedia.
Menurutnya, sebagian pekerja memilih menerima paket kompensasi dan melanjutkan karier di luar perusahaan. Sementara itu, sebagian lainnya berpindah ke lini bisnis lain dalam grup TikTok.
Ia juga memastikan perusahaan masih merekrut talenta baru di Indonesia dengan membuka lebih dari 100 posisi.
Menaker: Perusahaan Sedang Menata Talenta
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menyampaikan hasil pembahasan dengan manajemen menunjukkan perusahaan hanya melakukan penataan sumber daya manusia.
Ia menilai langkah tersebut merupakan bagian dari pengelolaan talenta internal, bukan PHK yang terjadi akibat penurunan kondisi industri.
Menurut Yassierli, pembukaan lebih dari 100 lowongan kerja baru memperlihatkan perusahaan masih membutuhkan tenaga kerja untuk mendukung operasional di Indonesia.
Restrukturisasi Sudah Dimulai Sejak 2024
Langkah efisiensi sebenarnya sudah berlangsung sejak ByteDance mengambil alih mayoritas saham Tokopedia.
Pada pertengahan 2024, Tokopedia mengurangi sekitar 450 karyawan sebagai bagian dari restrukturisasi organisasi setelah integrasi dengan TikTok Shop.
Saat itu, perusahaan menyelaraskan struktur organisasi karena sejumlah fungsi dan jabatan mengalami tumpang tindih pasca-merger.
Manajemen juga menyiapkan paket kompensasi bagi karyawan terdampak dan memindahkan sebagian pegawai ke unit usaha lain dalam ekosistem TikTok.
Sebagai pemegang 24,99 persen saham minoritas, GoTo menyatakan keputusan tersebut tidak memberikan dampak material terhadap kinerja keuangannya karena laporan keuangan Tokopedia sudah tidak lagi terkonsolidasi sejak Januari 2024.
Gelombang Penyesuaian Berlanjut pada 2025
Restrukturisasi kembali terjadi pada pertengahan 2025.
Sejumlah laporan menyebut sekitar 450 karyawan terdampak penyesuaian organisasi. Jumlah itu diperkirakan setara dengan sekitar 9 persen dari total tenaga kerja Tokopedia.
Juru bicara ByteDance saat itu menjelaskan perusahaan secara rutin mengevaluasi kebutuhan bisnis agar organisasi menjadi lebih efektif dan mampu memberikan layanan yang lebih baik kepada pengguna.
Mengapa Merger Sering Berujung Efisiensi?
Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, menilai restrukturisasi tenaga kerja menjadi konsekuensi yang umum muncul setelah merger maupun akuisisi.
Menurutnya, perusahaan biasanya menggabungkan fungsi-fungsi yang memiliki pekerjaan serupa agar operasional lebih efisien dan biaya dapat ditekan.
Ia menilai ByteDance juga menjalankan strategi tersebut setelah mengakuisisi Tokopedia. Penyatuan sejumlah unit kerja memungkinkan perusahaan mengurangi biaya operasional sekaligus memperkuat daya saing di industri e-commerce.
Nailul menambahkan efisiensi menjadi salah satu cara perusahaan teknologi memperbesar kemampuan pendanaan. Dengan struktur biaya yang lebih sehat, perusahaan memiliki ruang lebih luas untuk bersaing, memperluas bisnis, hingga melakukan investasi baru.
Meski isu PHK kembali mencuat pada 2026, hasil pertemuan antara DPR, Kementerian Ketenagakerjaan, dan manajemen TikTok-Tokopedia menunjukkan perusahaan membantah adanya PHK massal. Penataan organisasi tetap berjalan, namun perusahaan mengklaim proses tersebut mengutamakan mobilitas internal, pemberian kompensasi, serta rekrutmen talenta baru sesuai kebutuhan bisnis. ***(Ant)





