KABAR PAJAJARAN – Aksi peretasan terhadap sistem peringatan darurat nasional Brasil memicu kepanikan di berbagai wilayah negara tersebut. Pada Jumat (19/6/2026) malam hingga Sabtu (20/6/2026) dini hari waktu setempat, jutaan warga menerima notifikasi darurat palsu yang muncul secara tiba-tiba di smartphone mereka.
Peretas tidak menyerang perangkat pengguna secara langsung. Mereka menyusup ke sistem Civil Defense Alert yang selama ini digunakan pemerintah Brasil untuk mengirim peringatan bencana kepada masyarakat melalui teknologi Cell Broadcast.
Notifikasi palsu tersebut masuk dalam kategori “Extreme Alert”, level peringatan tertinggi yang biasanya digunakan untuk situasi yang mengancam keselamatan jiwa. Sistem memunculkan pesan di layar ponsel dan membunyikan alarm keras meski perangkat berada dalam mode senyap. Akibatnya, banyak warga terbangun dan mengira telah terjadi keadaan darurat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pemerintah Hentikan Layanan Sementara
Kementerian Integrasi dan Pembangunan Regional Brasil segera mengonfirmasi adanya peretasan terhadap sistem tersebut. Untuk mencegah penyalahgunaan lebih lanjut, pemerintah menghentikan sementara layanan Cell Broadcast pada Sabtu sekitar pukul 01.30 waktu setempat.
Pesan yang dikirim peretas menampilkan tulisan “Defesa Civil: misantropi4”. Istilah itu merupakan variasi dari kata Portugis “misantropia” yang berarti kebencian terhadap manusia. Pelaku mengganti huruf “a” dengan angka “4”, pola penulisan yang kerap muncul dalam budaya internet.
Peringatan Palsu Menyebar ke Berbagai Wilayah
Sekretaris Nasional Perlindungan dan Pertahanan Sipil Brasil, Wolnei Wolff, mengungkapkan pihaknya mendeteksi sedikitnya 10 peringatan ilegal. Sistem pertama kali mencatat pesan tersebut di negara bagian Parana sekitar pukul 23.40 waktu setempat.
Dalam beberapa jam berikutnya, notifikasi serupa menjangkau sejumlah wilayah lain, termasuk Sao Paulo, Rio de Janeiro, Brasilia, Bahia, Para, Mato Grosso do Sul, dan Acre.
Hingga kini pemerintah belum mengungkap jumlah pasti perangkat yang menerima pesan tersebut. Pemerintah juga belum menjelaskan celah keamanan yang dimanfaatkan pelaku saat melancarkan aksinya.
Meski demikian, sejumlah laporan media internasional memperkirakan sekitar 30 juta pengguna ponsel menerima notifikasi darurat palsu tersebut.
Polisi Federal Turun Tangan
Kepolisian Federal Brasil kini menyelidiki kasus tersebut untuk mengidentifikasi pelaku dan mengungkap metode serangan yang digunakan.
Wolff menilai insiden ini memberikan dampak serius terhadap kredibilitas sistem peringatan darurat nasional.
Menurut dia, pemerintah harus menjaga kepercayaan masyarakat terhadap sistem yang berfungsi melindungi keselamatan publik saat bencana terjadi.
Cell Broadcast Baru Berlaku Secara Nasional
Brasil mulai menerapkan teknologi Cell Broadcast secara bertahap sejak 2022 setelah regulator telekomunikasi Anatel mewajibkan implementasinya.
Pemerintah menguji teknologi tersebut di 11 kota pada Agustus 2024. Setelah itu, pemerintah memperluas penggunaannya ke seluruh wilayah Brasil pada Oktober 2025.
Teknologi Cell Broadcast memungkinkan pemerintah mengirim pesan ke seluruh perangkat yang berada dalam jangkauan menara BTS tertentu tanpa memerlukan nomor telepon pengguna. Empat operator seluler utama Brasil, yakni Claro, TIM, Vivo, dan Algar, mendukung layanan tersebut.
Pakar Soroti Celah Keamanan
Sejumlah pakar keamanan siber telah lama mengingatkan adanya kelemahan pada sistem Cell Broadcast. Mereka menilai perangkat penerima umumnya tidak memiliki kemampuan untuk memverifikasi secara mandiri keaslian pesan yang diterima.
Karena itu, pelaku yang berhasil mengakses sistem berpotensi menyebarkan peringatan palsu dalam skala besar dan waktu singkat.
Insiden di Brasil pun memunculkan kekhawatiran baru terkait kepercayaan masyarakat terhadap sistem peringatan darurat. Jika warga mulai menganggap alarm darurat sebagai gangguan atau lelucon, mereka bisa mengabaikan peringatan resmi saat bencana yang sebenarnya terjadi.***(Ant)






