JAKARTA, KABAR PAJAJARAN —Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) di sejumlah bank besar nasional masih bertahan di level tinggi pada perdagangan Jumat (22/5/2026). Pelemahan rupiah terhadap dolar AS ikut mendorong kenaikan kurs jual di perbankan.
Data e-Rate per 22 Mei 2026 menunjukkan sejumlah bank nasional masih mematok kurs dolar AS di atas Rp 17.700.
Kurs Dolar di Bank Nasional
Bank Central Asia (BCA) menetapkan kurs beli dolar AS sebesar Rp 17.703 dan kurs jual Rp 17.723. Sementara itu, Bank Rakyat Indonesia (BRI) mematok kurs beli Rp 17.653 dan kurs jual Rp 17.680.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Melalui layanan special rate, Bank Mandiri memasang kurs beli Rp 17.690 dan kurs jual Rp 17.720. Adapun Bank Negara Indonesia (BNI) membanderol kurs beli Rp 17.695 dan kurs jual Rp 17.725.
Kondisi tersebut menunjukkan tekanan terhadap rupiah masih berlangsung dalam beberapa hari terakhir.
Rupiah Kembali Melemah
Pada perdagangan Jumat pagi, rupiah turun 10 poin atau sekitar 0,06 persen ke posisi Rp 17.677 per dolar AS. Sebelumnya, mata uang Garuda ditutup di level Rp 17.667 per dolar AS.
Pelaku pasar terus mencermati perkembangan sentimen domestik dan global yang memengaruhi pergerakan nilai tukar.
Ketidakpastian Kebijakan Pengaruhi Pasar
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan ketidakpastian kebijakan domestik ikut menekan pergerakan rupiah.
Menurut Josua, investor masih menunggu arah kebijakan pemerintah, terutama terkait rencana tata kelola ekspor.
“Rupiah terdepresiasi terhadap dolar AS karena ketidakpastian kebijakan domestik,” kata Josua, Jumat (22/5/2026).
Selain itu, investor mulai menyesuaikan portofolio menjelang pengumuman indeks MSCI pada Juni mendatang. Situasi tersebut membuat sebagian pelaku pasar memindahkan dana ke aset yang dianggap lebih aman.
Data Ekonomi AS Perkuat Dolar
Dari pasar global, data ekonomi Amerika Serikat ikut memperkuat dolar AS. Penurunan klaim pengangguran awal di AS meningkatkan optimisme investor terhadap kondisi ekonomi negara tersebut.
Situasi itu juga memperkuat perkiraan pasar bahwa Federal Reserve akan lebih berhati-hati saat menentukan kebijakan penurunan suku bunga acuan.
Kombinasi sentimen domestik dan eksternal membuat tekanan terhadap rupiah masih berlanjut hingga akhir pekan perdagangan. ***(Chq)





