KABAR PAJAJARAN – Pemerintah Indonesia mencatat 23 kasus Hantavirus jenis Seoul Virus dalam tiga tahun terakhir. Seluruh pasien mengalami gejala Haemorrhagic Fever With Renal Syndrome (HFRS) dengan tingkat keparahan relatif lebih ringan dibandingkan jenis hantavirus lain.
Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan, Aji Muhawarman, menjelaskan gejala biasanya muncul satu hingga dua minggu setelah paparan. Pasien umumnya mengalami demam, sakit kepala, nyeri badan, rasa lemas, serta jaundice atau kondisi tubuh menguning.
Ia menegaskan perbedaan utama muncul pada jenis virus lain, seperti Andes Virus yang sempat dikaitkan dengan wabah di kapal pesiar MV Hondius. Jenis tersebut dapat memicu sesak napas, memiliki masa inkubasi hingga 17 hari, dan mencatat tingkat kematian lebih tinggi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Mayoritas Pasien Sembuh
Kementerian Kesehatan memastikan 20 pasien telah sembuh dan kembali beraktivitas normal. Namun, tiga pasien lainnya meninggal dunia setelah mengalami koinfeksi penyakit berat, termasuk kanker hati dan kegagalan multiorgan.
Lokasi Berisiko Penularan
Kementerian Kesehatan mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai area yang berpotensi menjadi sumber penularan. Lokasi berisiko meliputi gedung lama, area terbengkalai, ruang bawah tanah, serta wilayah dengan populasi tikus tinggi.
Virus dapat menular dari hewan pengerat seperti tikus dan celurut melalui debu yang terkontaminasi, kontak dengan urine, saliva, atau feses, hingga gigitan hewan yang terinfeksi.
Aji juga menjelaskan penularan antarmanusia hanya terjadi pada tipe Hantavirus yang menyebabkan Hanta Pulmonary Syndrome (HPS). Jenis ini dapat memicu gangguan pernapasan berat dengan tingkat kematian mencapai 60 persen, namun penyebarannya terbatas di wilayah tertentu, terutama Amerika Selatan.
Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari area berisiko guna menekan potensi penularan. ***(Chq)





