Kemenkes Catat 23 Kasus Hantavirus di Indonesia dalam Tiga Tahun Terakhir

Jumat, 8 Mei 2026 - 15:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Ilustrasi (REUTERS/Dado Ruvic)

Foto: Ilustrasi (REUTERS/Dado Ruvic)

KABAR PAJAJARAN – Pemerintah Indonesia mencatat 23 kasus Hantavirus jenis Seoul Virus dalam tiga tahun terakhir. Seluruh pasien mengalami gejala Haemorrhagic Fever With Renal Syndrome (HFRS) dengan tingkat keparahan relatif lebih ringan dibandingkan jenis hantavirus lain.

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan, Aji Muhawarman, menjelaskan gejala biasanya muncul satu hingga dua minggu setelah paparan. Pasien umumnya mengalami demam, sakit kepala, nyeri badan, rasa lemas, serta jaundice atau kondisi tubuh menguning.

Ia menegaskan perbedaan utama muncul pada jenis virus lain, seperti Andes Virus yang sempat dikaitkan dengan wabah di kapal pesiar MV Hondius. Jenis tersebut dapat memicu sesak napas, memiliki masa inkubasi hingga 17 hari, dan mencatat tingkat kematian lebih tinggi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mayoritas Pasien Sembuh

Kementerian Kesehatan memastikan 20 pasien telah sembuh dan kembali beraktivitas normal. Namun, tiga pasien lainnya meninggal dunia setelah mengalami koinfeksi penyakit berat, termasuk kanker hati dan kegagalan multiorgan.

Lokasi Berisiko Penularan

Kementerian Kesehatan mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai area yang berpotensi menjadi sumber penularan. Lokasi berisiko meliputi gedung lama, area terbengkalai, ruang bawah tanah, serta wilayah dengan populasi tikus tinggi.

Virus dapat menular dari hewan pengerat seperti tikus dan celurut melalui debu yang terkontaminasi, kontak dengan urine, saliva, atau feses, hingga gigitan hewan yang terinfeksi.

Aji juga menjelaskan penularan antarmanusia hanya terjadi pada tipe Hantavirus yang menyebabkan Hanta Pulmonary Syndrome (HPS). Jenis ini dapat memicu gangguan pernapasan berat dengan tingkat kematian mencapai 60 persen, namun penyebarannya terbatas di wilayah tertentu, terutama Amerika Selatan.

Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari area berisiko guna menekan potensi penularan. ***(Chq)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

BREAKING NEWS : Prabowo Ambil Keputusan Tegas! Listyo Sigit Dicopot dari Jabatan KSP
Listyo Sigit Prabowo Jadi Tersangka Kasus Penyadapan Ilegal, Dua Jenderal Polri Ikut Terseret
Mabes Polri Cek Kabar Penangkapan Sejumlah Jenderal, Isu Bintang Empat Ikut Mencuat
ChatGPT Digugat Usai Wanita 31 Tahun Meninggal, Diduga Sarankan Berhenti Minum Obat
Penggeledahan Ponpes Sukoharjo Berujung Pencopotan Kapolres, Ini Kronologi Lengkapnya
PPN Pembalut 11 Persen Disorot DPR, Anis Byarwati Minta Pemerintah Evaluasi Kebijakan
Dua Tahun Kabinet Merah Putih, RDTR Terintegrasi OSS Capai 576 dan Target LP2B Tembus 87,93%
Gunung Anak Krakatau Erupsi 3 Kali, Status Masih Siaga Level III

Berita Terkait

Rabu, 4 November 2026 - 09:06 WIB

Listyo Sigit Prabowo Jadi Tersangka Kasus Penyadapan Ilegal, Dua Jenderal Polri Ikut Terseret

Selasa, 3 November 2026 - 16:02 WIB

Mabes Polri Cek Kabar Penangkapan Sejumlah Jenderal, Isu Bintang Empat Ikut Mencuat

Selasa, 3 November 2026 - 14:00 WIB

ChatGPT Digugat Usai Wanita 31 Tahun Meninggal, Diduga Sarankan Berhenti Minum Obat

Selasa, 3 November 2026 - 10:18 WIB

Penggeledahan Ponpes Sukoharjo Berujung Pencopotan Kapolres, Ini Kronologi Lengkapnya

Senin, 2 November 2026 - 20:00 WIB

PPN Pembalut 11 Persen Disorot DPR, Anis Byarwati Minta Pemerintah Evaluasi Kebijakan

Berita Terbaru