BANDUNG, KABAR PAJAJARAN — Program Sekolah Manusia Unggul (Maung) gagasan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menarik perhatian para orangtua calon siswa di Kota Bandung. Banyak orangtua melihat program tersebut sebagai peluang baru untuk memasukkan anak ke SMA negeri favorit tanpa terkendala sistem zonasi.
Pemerintah menetapkan SMA Negeri 3 Bandung dan SMA Negeri 5 Bandung sebagai pelaksana program Sekolah Maung di Kota Bandung.
Program itu menyediakan tiga jalur penerimaan siswa baru. Jalur potensi akademik mendapat kuota 10 persen, kompetensi akademik 70 persen, dan kompetensi non-akademik 20 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sejumlah orangtua mendatangi SMAN 5 Bandung untuk mencari informasi terkait mekanisme penilaian dan proses seleksi.
“Saya coba daftar Sekolah Maung dulu sebelum ikut jalur lain,” kata Edwin (52), warga Riung Bandung, Selasa (26/5/2026).
Edwin mengaku ingin memahami lebih rinci sistem penilaian akademik maupun non-akademik dalam seleksi Sekolah Maung.
“Saya sudah memahami sebagian besar juknisnya. Saya ingin tahu teknis penilaian dan skor akademik maupun non-akademik secara langsung,” ujarnya.
Orangtua Sambut Positif Program Sekolah Maung
Edwin berencana mendaftarkan anaknya melalui jalur non-akademik. Namun, anaknya juga akan mencoba jalur prestasi Matematika dan mengikuti tes IQ sebagai pendukung seleksi.
Ia mengatakan keluarganya tidak mengalami kendala saat menyiapkan dokumen pendaftaran. Keluarganya menyiapkan seluruh berkas sebelum masa pendaftaran dimulai.
“Dokumen sudah kami siapkan jauh hari. Saat pendaftaran dibuka, kami tinggal mengunggah berkas,” katanya.
Edwin menilai jadwal pendaftaran Sekolah Maung yang berlangsung lebih awal dibanding jalur reguler memberi keuntungan bagi calon siswa. Jika gagal lolos, siswa masih memiliki kesempatan mengikuti jalur penerimaan lain.
Ia juga menilai program tersebut memberi harapan baru bagi warga yang selama ini kesulitan masuk sekolah favorit karena aturan zonasi.
“Program ini sangat positif karena membuka peluang bagi warga yang rumahnya jauh dari sekolah favorit. Dari Riung Bandung ke SMAN 5 cukup jauh kalau memakai jalur zonasi,” ucapnya.
Jalur Prestasi Jadi Daya Tarik
Bobby (41), warga Arcamanik, Kota Bandung, juga memilih mendaftarkan anaknya ke Sekolah Maung. Ia melihat program itu memberi ruang lebih besar bagi siswa berprestasi.
“Programnya menarik karena membuka peluang lewat jalur prestasi. Anak kami punya hafalan Al Quran yang bisa menjadi prestasi tingkat provinsi,” kata Bobby.
Menurut dia, pemisahan jadwal pendaftaran Sekolah Maung dengan SPMB reguler membuat orangtua lebih leluasa menentukan strategi pendaftaran sekolah.
Bobby menilai program tersebut kembali membangkitkan harapan masyarakat untuk masuk SMA negeri favorit.
“Sekolah Maung memberi kesempatan baru bagi kami. Karena program ini tidak memakai zonasi, kami jadi punya semangat lagi untuk mencoba masuk sekolah favorit,” ujarnya. ***(Ant)






