Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda 2026 Catat Perputaran Ekonomi Rp80 Miliar Tanpa APBD

Kamis, 21 Mei 2026 - 21:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengikuti prosesi pengembalian Mahkota Binokasih Sanghyang Pake ke Museum Prabu Geusan Ulun, Kabupaten Sumedang, Senin (18/5/2026), usai rangkaian Kirab Milangkala Tatar Sunda di sejumlah daerah di Jawa Barat. Foto: Humas Jabar

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengikuti prosesi pengembalian Mahkota Binokasih Sanghyang Pake ke Museum Prabu Geusan Ulun, Kabupaten Sumedang, Senin (18/5/2026), usai rangkaian Kirab Milangkala Tatar Sunda di sejumlah daerah di Jawa Barat. Foto: Humas Jabar

BANDUNG, KABAR PAJAJARAN – Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda 2026 tidak hanya memperkuat pelestarian budaya di Jawa Barat, tetapi juga menggerakkan ekonomi daerah secara signifikan. Kegiatan yang berlangsung pada 2–16 Mei 2026 di sembilan kabupaten/kota itu mencatat perputaran ekonomi lebih dari Rp80 miliar tanpa menggunakan dana APBD.

Penyelenggara mengandalkan pola gotong royong dan partisipasi masyarakat untuk membiayai seluruh rangkaian kegiatan Kirab Mahkota Binokasih tersebut.

Perputaran Ekonomi Tembus Rp80 Miliar

Berdasarkan data penyelenggara, aktivitas utama kirab menghasilkan perputaran ekonomi sebesar Rp60,67 miliar. Nilai itu berasal dari konsumsi masyarakat, transportasi, jasa pendukung, hingga perdagangan UMKM di sepanjang lokasi acara.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Selain itu, panitia mencatat belanja langsung selama penyelenggaraan mencapai Rp24,3 miliar. Jika digabungkan, total dampak ekonomi kegiatan ini melampaui Rp80 miliar.

Panitia juga mencatat kehadiran lebih dari 1,2 juta penonton yang tersebar di titik awal, rute kirab, hingga lokasi akhir kegiatan.

Bandung Jadi Penyumbang Ekonomi Terbesar

Sejumlah daerah mencatat kontribusi ekonomi signifikan selama pelaksanaan kirab. Kota Bandung mencatat sekitar 281 ribu penonton dengan nilai ekonomi Rp14,05 miliar.

Selain itu, Sumedang mencatat 170 ribu pengunjung dengan dampak Rp8,5 miliar, sementara Cianjur mencatat 165 ribu penonton dengan nilai Rp8,25 miliar.

Di wilayah lain, Tasikmalaya mencatat 120 ribu pengunjung dengan perputaran Rp6 miliar, Ciamis 106 ribu penonton senilai Rp5,3 miliar, dan Cirebon 97.500 pengunjung dengan nilai Rp4,87 miliar. Sementara itu, Karawang mencatat 125 ribu pengunjung, Bogor sekitar Rp6,25 miliar, dan Garut Rp3,25 miliar.

Panitia menghitung seluruh nilai ekonomi tersebut berdasarkan estimasi belanja masyarakat untuk konsumsi, transportasi, akomodasi, serta produk UMKM selama mengikuti acara.

Libatkan Ribuan UMKM dan Tenaga Kerja

Selain mencatat dampak ekonomi, penyelenggara juga melibatkan ribuan pelaku usaha dan pekerja. Panitia menggerakkan sedikitnya 2.305 pelaku UMKM selama kegiatan berlangsung.

Selain itu, panitia menyerap 3.920 tenaga kerja untuk mendukung operasional acara di berbagai daerah.

Di sisi budaya, panitia melibatkan 10.983 pelaku seni, peserta kirab, dan talenta budaya dari 27 kabupaten/kota di Jawa Barat.

Dedi Mulyadi: Kirab Dorong Ekonomi Daerah

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menilai Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda memberi dampak langsung terhadap ekonomi daerah.

Ia menyebut kegiatan ini mendorong tingkat kunjungan wisata, okupansi hotel, dan aktivitas ekonomi lokal.

“Hotel-hotel penuh, kunjungan meningkat, dan banyak daerah terlihat lebih tertata,” kata Dedi dalam keterangannya, Kamis (21/5/2026).

Ia menegaskan pemerintah daerah perlu menjadikan momentum ini untuk memperkuat penataan wilayah, kebersihan, serta branding budaya daerah.

Tanpa APBD, Gunakan Gotong Royong

Sekretaris Daerah Jawa Barat Herman Suryatman menegaskan seluruh rangkaian kegiatan tidak menggunakan dana APBD. Ia menjelaskan panitia mengandalkan partisipasi tokoh masyarakat, pelaku seni, dan komunitas budaya.

Ia menyebut berbagai pihak memberikan dukungan dalam bentuk fasilitas seperti sound system, tim musik, dan kelompok seni.

“Semua berjalan dari partisipasi masyarakat, bukan dari APBD,” ujar Herman.

Ia juga mencontohkan sejumlah daerah seperti Garut yang melibatkan tokoh budaya untuk mendukung penyelenggaraan acara secara langsung.

Gotong Royong Jadi Kunci Sukses

Herman menilai semangat gotong royong menjadi faktor utama keberhasilan kirab yang berlangsung lintas daerah. Ia menegaskan banyak tokoh budaya berkontribusi karena kepedulian terhadap pelestarian budaya Sunda.

Menurut dia, model kolaborasi ini memperkuat penyelenggaraan acara sekaligus menciptakan dampak ekonomi yang luas di masyarakat. ***(Chq)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Bojan Hodak Tinggalkan Kursi Pelatih Persib, Kini Jabat Penasihat Teknis
Dedi Mulyadi Larang Praktik Titipan dalam Penerimaan Siswa Sekolah Maung
Wagub Jabar Berharap Persib Bisa Berprestasi di Level Internasional
Jelang Idul Adha, Disperindag Jabar Gelar Pasar Murah di Enam Daerah
KDM Beri Bonus Rp1 Miliar untuk Persib Usai Juara Super League 2025/2026
Euforia Juara Persib Bandung Ternoda, Ratusan Korban Kecelakaan dan Insiden Kekerasan Terjadi di Bandung
Polisi Kejar Pelaku Pembunuhan di Bogor, Tersangka Tewas Usai Kecelakaan di Tol
Prakiraan Cuaca Bandung dan Jawa Barat Hari Ini, 25 Mei 2026: Hujan Guyur Siang hingga Malam

Berita Terkait

Selasa, 26 Mei 2026 - 12:40 WIB

Bojan Hodak Tinggalkan Kursi Pelatih Persib, Kini Jabat Penasihat Teknis

Senin, 25 Mei 2026 - 20:03 WIB

Dedi Mulyadi Larang Praktik Titipan dalam Penerimaan Siswa Sekolah Maung

Senin, 25 Mei 2026 - 19:44 WIB

Wagub Jabar Berharap Persib Bisa Berprestasi di Level Internasional

Senin, 25 Mei 2026 - 19:01 WIB

Jelang Idul Adha, Disperindag Jabar Gelar Pasar Murah di Enam Daerah

Senin, 25 Mei 2026 - 11:00 WIB

Euforia Juara Persib Bandung Ternoda, Ratusan Korban Kecelakaan dan Insiden Kekerasan Terjadi di Bandung

Berita Terbaru

Nasional

Konversi LPG ke CNG Dinilai Bisa Kurangi Impor Energi

Selasa, 26 Mei 2026 - 21:00 WIB