BANDUNG, KABAR PAJAJARAN – Ketua Tim Peneliti Hari Jadi Tatar Sunda, Prof. Dr. Nina Herlina, M.S. memaparkan sejarah kerajaan-kerajaan di Tatar Sunda di tengah pelaksanaan kirab budaya Mahkota Binokasih yang berlangsung di sejumlah daerah Jawa Barat.
Penjelasan itu muncul setelah sebagian masyarakat mempertanyakan keterlibatan beberapa kabupaten dan kota dalam kirab budaya tersebut. Menurut Nina Herlina, banyak kerajaan di Tatar Sunda memiliki hubungan sejarah dengan Kerajaan Sunda dan Mahkota Binokasih Sanghyang Pake.
“Mahkota Binokasih merupakan mahkota penobatan raja-raja Sunda yang dibuat di Kerajaan Galuh dan kini tersimpan di Museum Prabu Geusan Ulun Sumedang,” ujarnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tatar Sunda Membentang hingga Jawa Tengah
Nina Herlina menjelaskan wilayah Tatar Sunda membentang dari Banten, Jakarta, hingga sebagian wilayah Jawa Tengah seperti Brebes dan Cilacap.
Dalam perjalanan sejarahnya, kawasan itu melahirkan sejumlah kerajaan besar seperti Salakanagara, Tarumanagara, Sunda, Galuh, Talaga, Cirebon, Banten, hingga Sumedanglarang.
Tarumanagara Jadi Kerajaan Awal
Kerajaan Tarumanagara menjadi salah satu pusat kekuasaan awal di Tatar Sunda yang meninggalkan banyak bukti sejarah berupa prasasti.
Raja terkenal kerajaan itu, Purnawarman, memperluas pengaruh Tarumanagara hingga wilayah Pandeglang, Bogor, Bekasi, Karawang, dan Jakarta.
Sejumlah prasasti Tarumanagara tersebar di beberapa wilayah, mulai dari Bogor hingga Pandeglang. Catatan musafir Tiongkok Fa-hsien pada tahun 414 juga menyebut keberadaan wilayah yang berkaitan dengan Tarumanagara.
Tarusbawa Lahirkan Kerajaan Sunda
Setelah masa Tarumanagara berakhir, Tarusbawa mengganti nama kerajaan menjadi Kerajaan Sunda pada 669 Masehi.
Menurut Nina Herlina, tanggal penobatan Tarusbawa pada 18 Mei 669 Masehi kini menjadi dasar penetapan Hari Jadi Tatar Sunda.
Tarusbawa kemudian memindahkan pusat kerajaan dari Sundapura di wilayah Bekasi menuju Pakuan yang kini berada di Bogor.
Galuh dan Pajajaran Capai Puncak Kejayaan
Di bagian timur Tatar Sunda, Kerajaan Galuh berkembang sekitar tahun 670. Kerajaan itu melahirkan sejumlah raja besar, termasuk Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi.
Sri Baduga menyatukan kekuasaan Sunda dan Galuh setelah menikahi putri Raja Sunda. Ia kemudian membawa Kerajaan Sunda mencapai masa kejayaan dengan pusat pemerintahan di Pakuan Pajajaran.
Mahkota Binokasih ikut menjadi simbol penting dalam penobatan raja-raja Sunda, termasuk saat Sri Baduga naik tahta.
Masyarakat kemudian lebih mengenal Kerajaan Sunda dengan sebutan Pajajaran karena pusat pemerintahan kerajaan berada di Pakuan Pajajaran.
Sumedanglarang Simpan Mahkota Binokasih
Selain Sunda dan Galuh, Tatar Sunda juga memiliki Kerajaan Talaga dan Kerajaan Sumedanglarang yang memiliki hubungan erat dengan sejarah Sunda.
Saat Kerajaan Sunda runtuh pada 1579, para panglima kerajaan membawa Mahkota Binokasih ke Sumedang dan menyerahkannya kepada Geusan Ulun.
Penyerahan mahkota itu menandai posisi Sumedanglarang sebagai penerus simbolik Kerajaan Sunda.
Kini, Museum Prabu Geusan Ulun menyimpan Mahkota Binokasih dan berbagai peninggalan sejarah Sunda lainnya. ***(Ant)






