Sejarah Kerajaan Sunda Jadi Sorotan, Mahkota Binokasih Simbol Kejayaan Tatar Sunda

Senin, 4 Mei 2026 - 11:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mahkota Binokasih yang menjadi simbol penobatan raja-raja Sunda diarak dalam kirab budaya Hari Tatar Sunda sebagai pengingat kejayaan sejarah dan identitas budaya masyarakat Jawa Barat. Foto: sumedangkab.go.id

Mahkota Binokasih yang menjadi simbol penobatan raja-raja Sunda diarak dalam kirab budaya Hari Tatar Sunda sebagai pengingat kejayaan sejarah dan identitas budaya masyarakat Jawa Barat. Foto: sumedangkab.go.id

Kota Bandung, Kabar Pajajaran – Sejarah panjang kerajaan-kerajaan di Tatar Sunda kembali menjadi perhatian publik seiring digelarnya rangkaian peringatan Hari Tatar Sunda yang menampilkan kirab budaya Mahkota Binokasih.

Peneliti sejarah dari Universitas Padjadjaran, Prof. Nina Herlina, menjelaskan bahwa Tatar Sunda merupakan wilayah luas yang membentang dari Banten, DKI Jakarta, hingga sebagian Jawa Tengah. Wilayah ini menyimpan jejak peradaban panjang dari berbagai kerajaan yang saling berkaitan.

Menurut Nina, salah satu kerajaan tertua yang memiliki bukti sejarah kuat adalah Kerajaan Tarumanagara yang dipimpin Raja Purnawarman. Keberadaan kerajaan ini didukung oleh berbagai prasasti yang ditemukan di wilayah Bogor, Jakarta, hingga Banten.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Seiring berakhirnya Tarumanagara pada abad ke-7, muncul Kerajaan Sunda di bawah kepemimpinan Sri Maharaja Tarusbawa. Momen pergantian tersebut terjadi pada 18 Mei 669 Masehi, yang kini dijadikan sebagai dasar penetapan Hari Tatar Sunda.

Baca juga: Kirab Karnaval Binokasih Meriahkan Milangkala Tatar Sunda, Mahkota Diarak 3 Km di Sumedang

Puncak Kejayaan Pajajaran

Kerajaan Sunda mencapai puncak kejayaannya saat dipimpin Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi dengan pusat pemerintahan di Pakuan Pajajaran (Bogor).

Pada masa inilah Mahkota Binokasih digunakan sebagai simbol penobatan raja. Mahkota tersebut dibuat di Kerajaan Galuh dan menjadi lambang legitimasi kekuasaan raja-raja Sunda.

“Mahkota Binokasih bukan sekadar benda, tetapi simbol kesinambungan kekuasaan dan nilai luhur kepemimpinan,” tulis Nina dalam kajiannya.

Warisan Hingga Sumedang

Setelah runtuhnya Kerajaan Sunda pada 1579, Mahkota Binokasih diselamatkan dan diserahkan kepada Prabu Geusan Ulun dari Kerajaan Sumedanglarang sebagai penerus legitimasi kekuasaan Sunda.

Kini, mahkota tersebut disimpan di Museum Prabu Geusan Ulun di Kabupaten Sumedang dan menjadi salah satu pusaka penting dalam sejarah Sunda.

Keberadaan Mahkota Binokasih yang diarak dalam kirab budaya Hari Tatar Sunda menjadi simbol pengingat akan kejayaan masa lalu sekaligus ajakan untuk menjaga nilai budaya dan identitas masyarakat Sunda.

Baca juga: Hari Tatar Sunda Perdana Bakal Meriah, Mahkota Binokasih hingga Karnaval Budaya Siap Keliling Jabar

Refleksi Budaya dan Identitas

Nina menegaskan bahwa pemahaman sejarah kerajaan-kerajaan di Tatar Sunda penting untuk memperkuat jati diri masyarakat Jawa Barat.

Menurutnya, berbagai kerajaan seperti Tarumanagara, Sunda, Galuh, hingga Sumedanglarang memiliki keterkaitan historis yang membentuk peradaban Sunda hingga saat ini.

Momentum Hari Tatar Sunda diharapkan tidak hanya menjadi perayaan seremonial, tetapi juga sarana edukasi sejarah serta penguatan identitas budaya di tengah arus modernisasi.***(BePe)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Fenomena Bocil SD Koleksi Parfum Ramai di Media Sosial
KDM Antar Kembali Mahkota Binokasih ke Museum Prabu Geusan Ulun
Wagub Jabar Optimistis 3.600 Koperasi Merah Putih Rampung Juli 2026
Drama Kolosal “Peuting Munggaran” Meriahkan Puncak Milangkala Tatar Sunda di Gedung Sate
Heboh! 15 Ribu Pengunjung Ramaikan Festival Musik dan Kuliner di Cirebon
KDM Dukung Kajian Akademik Prasasti Batutulis dan Mahkota Binokasih
Puluhan Ribu Warga Padati Bandung, Puncak Milangkala Tatar Sunda Berlangsung Semarak
Viral Ancaman di Media Sosial, Paguyuban Sunda Muda Minta Pengawalan Hukum untuk Dedi Mulyadi

Berita Terkait

Selasa, 19 Mei 2026 - 22:00 WIB

Fenomena Bocil SD Koleksi Parfum Ramai di Media Sosial

Selasa, 19 Mei 2026 - 16:57 WIB

KDM Antar Kembali Mahkota Binokasih ke Museum Prabu Geusan Ulun

Senin, 18 Mei 2026 - 23:36 WIB

Wagub Jabar Optimistis 3.600 Koperasi Merah Putih Rampung Juli 2026

Senin, 18 Mei 2026 - 18:57 WIB

Drama Kolosal “Peuting Munggaran” Meriahkan Puncak Milangkala Tatar Sunda di Gedung Sate

Senin, 18 Mei 2026 - 09:54 WIB

Heboh! 15 Ribu Pengunjung Ramaikan Festival Musik dan Kuliner di Cirebon

Berita Terbaru

Ilustrasi Parfum (Pinterest)

Ragam

Fenomena Bocil SD Koleksi Parfum Ramai di Media Sosial

Selasa, 19 Mei 2026 - 22:00 WIB

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengikuti prosesi pengembalian Mahkota Binokasih Sanghyang Pake ke Museum Prabu Geusan Ulun, Kabupaten Sumedang, Senin (18/5/2026), usai rangkaian Kirab Milangkala Tatar Sunda di sejumlah daerah di Jawa Barat. Foto: Humas Jabar

Jawa Barat

KDM Antar Kembali Mahkota Binokasih ke Museum Prabu Geusan Ulun

Selasa, 19 Mei 2026 - 16:57 WIB