Kabar Pajajaran – Ponsel pintar kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan remaja. Mereka tidak lagi sekadar menggunakan perangkat ini untuk berkomunikasi, tetapi juga menjadikannya sebagai “tas sekolah digital” untuk berinteraksi, mengikuti tren, hingga memantau pola makan dan aktivitas fisik.
Namun, di balik kemudahan tersebut, para peneliti menemukan ancaman serius terhadap kesehatan mental remaja.
Studi Ungkap Risiko Gangguan Makan
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Para peneliti dari King’s College London menganalisis 35 studi yang melibatkan lebih dari 52 ribu responden dengan rata-rata usia 17 tahun. Hasilnya menunjukkan bahwa penggunaan ponsel secara kompulsif berkaitan erat dengan gangguan makan, ketidakpuasan terhadap bentuk tubuh, serta perilaku makan berlebihan akibat dorongan emosional.
Laporan yang dipublikasikan dalam JMIR Mental Health ini menegaskan adanya hubungan konsisten antara penggunaan ponsel bermasalah dan tingginya skor gejala gangguan makan di berbagai negara.
Remaja Rentan Terjebak Perbandingan Sosial
Remaja berada dalam fase penting pembentukan jati diri. Pada tahap ini, mereka активно membandingkan diri dengan orang lain untuk memahami identitasnya.
Paparan konten di ponsel, terutama media sosial, mempercepat proses perbandingan ini. Remaja terus melihat standar tubuh “ideal” yang sering kali tidak realistis. Akibatnya, mereka mudah merasa tidak puas dengan penampilan sendiri.
Dr. Johanna Keeler menjelaskan bahwa paparan berulang terhadap citra ideal dapat menurunkan rasa percaya diri dan memicu gangguan makan.
Fenomena Kecanduan Ponsel Kian Meningkat
Para peneliti mencatat sekitar satu dari empat remaja mengalami Problematic Smartphone Use (PSU), yaitu kondisi ketergantungan terhadap ponsel yang menyerupai kecanduan perilaku.
Remaja dengan PSU cenderung merasa cemas saat jauh dari ponsel dan kesulitan mengurangi waktu penggunaannya. Kondisi ini memperbesar risiko paparan konten yang memicu gangguan makan.
Batas Aman Penggunaan: Tujuh Jam Jadi Titik Kritis
Penelitian ini juga menyoroti durasi penggunaan ponsel sebagai faktor penting.
Remaja yang menggunakan ponsel selama tujuh jam atau lebih setiap hari memiliki risiko jauh lebih tinggi mengalami gejala gangguan makan dibandingkan mereka yang hanya menggunakan sekitar dua jam. Sementara itu, penggunaan tiga hingga enam jam tidak menunjukkan lonjakan risiko yang signifikan.
Temuan ini menegaskan bahwa risiko meningkat tajam ketika penggunaan sudah mencapai level ekstrem.
Konten Digital Bisa Jadi “Senjata Makan Tuan”
Tidak hanya durasi, jenis konten yang dikonsumsi juga berperan besar.
Aplikasi pelacak kalori dan kebugaran yang seharusnya membantu gaya hidup sehat justru dapat memicu perilaku obsesif. Fitur seperti target harian, notifikasi, dan sistem gamifikasi mendorong pengguna untuk terus memantau tubuh dan makanan secara berlebihan.
Di sisi lain, algoritma media sosial memperkuat masalah ini. Sistem akan terus menampilkan konten serupa berdasarkan interaksi pengguna. Remaja yang mulai merasa tidak percaya diri akan semakin sering melihat konten tubuh ideal, diet ketat, hingga olahraga ekstrem.
Profesor Ben Carter menegaskan bahwa penggunaan ponsel berlebihan berkaitan dengan rendahnya kepuasan tubuh dan perubahan perilaku makan, bahkan pada individu tanpa diagnosis gangguan makan.
Emosi Labil dan Gangguan Tidur Perburuk Kondisi
Remaja sering menggunakan ponsel sebagai pelarian dari stres dan emosi negatif. Sayangnya, kebiasaan ini justru memperburuk kondisi mental mereka.
Penggunaan ponsel secara kompulsif mengurangi kemampuan mengelola emosi dan meningkatkan paparan konten yang memicu rasa minder.
Selain itu, penggunaan ponsel di malam hari mengganggu kualitas tidur. Kurang tidur dapat meningkatkan stres emosional dan memperburuk pola makan tidak sehat. Kondisi ini menciptakan lingkaran masalah yang sulit diputus.
Edukasi Digital Jadi Kunci Pencegahan
Para peneliti menekankan pentingnya edukasi penggunaan ponsel dalam program pencegahan gangguan makan. Mereka tidak menyarankan pelarangan total, tetapi mendorong pola penggunaan yang lebih sehat dan terkontrol.
Dengan memahami risiko di balik layar, orang tua, sekolah, dan remaja dapat bekerja sama untuk menjaga kesehatan mental generasi muda di era digital. ***(Chq)
















