KABAR PAJAJARAN – Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) tidak lagi sekadar mengubah dunia bisnis dan teknologi. Kini, perusahaan-perusahaan mulai memanfaatkan AI untuk menghubungi pelanggan dan menagih utang secara otomatis.
Sejumlah warga mengaku menerima panggilan berulang dari sistem robot tanpa keterlibatan operator manusia. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran baru seiring semakin luasnya penggunaan AI di berbagai sektor.
GCHQ Soroti Risiko Perkembangan AI
Direktur Operasi GCHQ Inggris, Anne Keast-Butler, mengingatkan bahwa AI menghadirkan peluang sekaligus ancaman. Menurutnya, perusahaan teknologi terus meluncurkan inovasi baru dengan kecepatan yang sangat tinggi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menilai dunia perlu memahami dan mengelola dampak perkembangan AI sejak dini. Menurut Keast, teknologi ini mampu meningkatkan efisiensi di berbagai bidang. Namun, teknologi yang sama juga berpotensi memunculkan ancaman baru.
“AI merupakan kekuatan yang tidak dapat dihentikan dan menawarkan peluang luar biasa. Namun, teknologi ini juga menghadirkan berbagai risiko yang harus kita antisipasi,” ujarnya.
Rusia Tingkatkan Operasi Hibrida
Selain membahas AI, Keast juga menyoroti langkah Rusia yang terus meningkatkan operasi hibrida terhadap negara-negara Barat. Ia menuduh Moskow terus menyerang infrastruktur penting, sistem demokrasi, rantai pasok, dan kepercayaan publik.
Menurut Keast, Rusia menjalankan aktivitas yang membentang dari dasar laut hingga ruang siber. Selain itu, Rusia juga terus berupaya mencuri teknologi dan mengganggu berbagai fasilitas strategis.
Saat ini, Inggris memberi perhatian khusus terhadap aktivitas Rusia yang menyasar kabel telekomunikasi serta pipa energi bawah laut. Karena itu, GCHQ terus memantau kemampuan dan strategi yang digunakan Moskow.
Negara-Negara Eropa Perkuat Pertahanan Siber
Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah negara Eropa melaporkan peningkatan ancaman terhadap infrastruktur penting. Swedia, Polandia, Denmark, dan Norwegia menuduh kelompok peretas yang berafiliasi dengan Rusia mencoba mengganggu fasilitas strategis mereka.
Kelompok peretas tersebut berupaya menyerang pembangkit listrik, bendungan, serta berbagai sistem vital lainnya. Oleh sebab itu, pemerintah di berbagai negara Eropa memperkuat sistem keamanan siber untuk menekan risiko serangan berikutnya.
Sementara itu, Kepala Pusat Keamanan Siber Nasional Inggris, Richard Horne, menyebut Rusia, China, dan Iran sebagai aktor utama di balik sejumlah serangan siber serius yang mengancam Inggris.
Persaingan Teknologi Semakin Ketat
Di sisi lain, Keast menilai perkembangan AI membuat persaingan teknologi global semakin ketat. Ia menegaskan bahwa Inggris dan negara-negara sekutunya harus bergerak lebih cepat agar tidak tertinggal dari China yang terus memperkuat kapasitas sains dan teknologinya.
Persaingan tersebut tidak hanya berlangsung di darat maupun ruang siber. Sebaliknya, berbagai negara kini juga berlomba memperkuat pengaruh mereka di luar angkasa.
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah dan perusahaan teknologi meluncurkan ribuan satelit baru untuk mendukung kepentingan sipil maupun militer. Keast mengatakan bahwa China dan Rusia terus menggelontorkan investasi besar untuk memperkuat ambisi strategis mereka di sektor tersebut.
Inggris Kembangkan Perisai Siber Berbasis AI
Untuk menghadapi ancaman baru, GCHQ tengah mengembangkan sistem pertahanan siber berbasis agentic AI. Teknologi tersebut akan membantu melindungi infrastruktur nasional dan sektor bisnis dari serangan digital yang semakin kompleks.
Tim pengembang di GCHQ masih menyempurnakan proyek tersebut dan menargetkan penerapan penuh dalam beberapa tahun mendatang.
Keast menegaskan bahwa dunia kini memasuki era baru yang ditandai oleh perkembangan AI, persaingan teknologi global, dan meningkatnya ancaman siber. Karena itu, pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan sekaligus memanfaatkan AI secara bertanggung jawab. ***(Ant)





