Era Baru Debt Collector AI, Warga Mulai Diteror Telepon Robot

Selasa, 2 Juni 2026 - 07:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KABAR PAJAJARAN  – Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) tidak lagi sekadar mengubah dunia bisnis dan teknologi. Kini, perusahaan-perusahaan mulai memanfaatkan AI untuk menghubungi pelanggan dan menagih utang secara otomatis.

Sejumlah warga mengaku menerima panggilan berulang dari sistem robot tanpa keterlibatan operator manusia. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran baru seiring semakin luasnya penggunaan AI di berbagai sektor.

GCHQ Soroti Risiko Perkembangan AI

Direktur Operasi GCHQ Inggris, Anne Keast-Butler, mengingatkan bahwa AI menghadirkan peluang sekaligus ancaman. Menurutnya, perusahaan teknologi terus meluncurkan inovasi baru dengan kecepatan yang sangat tinggi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia menilai dunia perlu memahami dan mengelola dampak perkembangan AI sejak dini. Menurut Keast, teknologi ini mampu meningkatkan efisiensi di berbagai bidang. Namun, teknologi yang sama juga berpotensi memunculkan ancaman baru.

“AI merupakan kekuatan yang tidak dapat dihentikan dan menawarkan peluang luar biasa. Namun, teknologi ini juga menghadirkan berbagai risiko yang harus kita antisipasi,” ujarnya.

Rusia Tingkatkan Operasi Hibrida

Selain membahas AI, Keast juga menyoroti langkah Rusia yang terus meningkatkan operasi hibrida terhadap negara-negara Barat. Ia menuduh Moskow terus menyerang infrastruktur penting, sistem demokrasi, rantai pasok, dan kepercayaan publik.

Menurut Keast, Rusia menjalankan aktivitas yang membentang dari dasar laut hingga ruang siber. Selain itu, Rusia juga terus berupaya mencuri teknologi dan mengganggu berbagai fasilitas strategis.

Saat ini, Inggris memberi perhatian khusus terhadap aktivitas Rusia yang menyasar kabel telekomunikasi serta pipa energi bawah laut. Karena itu, GCHQ terus memantau kemampuan dan strategi yang digunakan Moskow.

Negara-Negara Eropa Perkuat Pertahanan Siber

Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah negara Eropa melaporkan peningkatan ancaman terhadap infrastruktur penting. Swedia, Polandia, Denmark, dan Norwegia menuduh kelompok peretas yang berafiliasi dengan Rusia mencoba mengganggu fasilitas strategis mereka.

Kelompok peretas tersebut berupaya menyerang pembangkit listrik, bendungan, serta berbagai sistem vital lainnya. Oleh sebab itu, pemerintah di berbagai negara Eropa memperkuat sistem keamanan siber untuk menekan risiko serangan berikutnya.

Sementara itu, Kepala Pusat Keamanan Siber Nasional Inggris, Richard Horne, menyebut Rusia, China, dan Iran sebagai aktor utama di balik sejumlah serangan siber serius yang mengancam Inggris.

Persaingan Teknologi Semakin Ketat

Di sisi lain, Keast menilai perkembangan AI membuat persaingan teknologi global semakin ketat. Ia menegaskan bahwa Inggris dan negara-negara sekutunya harus bergerak lebih cepat agar tidak tertinggal dari China yang terus memperkuat kapasitas sains dan teknologinya.

Persaingan tersebut tidak hanya berlangsung di darat maupun ruang siber. Sebaliknya, berbagai negara kini juga berlomba memperkuat pengaruh mereka di luar angkasa.

Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah dan perusahaan teknologi meluncurkan ribuan satelit baru untuk mendukung kepentingan sipil maupun militer. Keast mengatakan bahwa China dan Rusia terus menggelontorkan investasi besar untuk memperkuat ambisi strategis mereka di sektor tersebut.

Inggris Kembangkan Perisai Siber Berbasis AI

Untuk menghadapi ancaman baru, GCHQ tengah mengembangkan sistem pertahanan siber berbasis agentic AI. Teknologi tersebut akan membantu melindungi infrastruktur nasional dan sektor bisnis dari serangan digital yang semakin kompleks.

Tim pengembang di GCHQ masih menyempurnakan proyek tersebut dan menargetkan penerapan penuh dalam beberapa tahun mendatang.

Keast menegaskan bahwa dunia kini memasuki era baru yang ditandai oleh perkembangan AI, persaingan teknologi global, dan meningkatnya ancaman siber. Karena itu, pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan sekaligus memanfaatkan AI secara bertanggung jawab. ***(Ant)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Indonesia Masuk Jajaran Pendiri WAICO, Siap Ikut Menentukan Masa Depan AI Global
Robot Humanoid Agibot Buktikan Kemampuan di Pabrik Tablet, Jalankan Produksi Selama 64 Jam Nonstop
OpenAI Luncurkan GPT-Live, ChatGPT Voice Kini Bisa Mengobrol Senatural Manusia
Google Ubah Aturan Backup Android, Mulai Sekarang Seluruh Data Ikut Memakan Kuota Penyimpanan
WhatsApp Mulai Gulirkan Fitur Username di Indonesia, Pengguna Tak Perlu Lagi Bagikan Nomor HP
Bukan Lagi Pakai Listrik, China Kini Kembangkan Chip Berbasis Cahaya untuk AI
Agen AI dan Bot Kuasai Internet Dunia, Trafiknya Lampaui Aktivitas Manusia
Hacker Bobol Sistem Peringatan Darurat Brasil, Jutaan Ponsel Mendadak Berbunyi Tengah Malam

Berita Terkait

Sabtu, 18 Juli 2026 - 09:00 WIB

Indonesia Masuk Jajaran Pendiri WAICO, Siap Ikut Menentukan Masa Depan AI Global

Jumat, 10 Juli 2026 - 07:18 WIB

Robot Humanoid Agibot Buktikan Kemampuan di Pabrik Tablet, Jalankan Produksi Selama 64 Jam Nonstop

Kamis, 9 Juli 2026 - 09:25 WIB

OpenAI Luncurkan GPT-Live, ChatGPT Voice Kini Bisa Mengobrol Senatural Manusia

Rabu, 8 Juli 2026 - 10:00 WIB

Google Ubah Aturan Backup Android, Mulai Sekarang Seluruh Data Ikut Memakan Kuota Penyimpanan

Selasa, 30 Juni 2026 - 12:50 WIB

WhatsApp Mulai Gulirkan Fitur Username di Indonesia, Pengguna Tak Perlu Lagi Bagikan Nomor HP

Berita Terbaru