Pulau Jawa Terancam Krisis Air, Bappenas Ungkap Wilayah yang Paling Rentan

Sabtu, 14 Maret 2026 - 11:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Kemarau - Musim kemarau tahun 2026 di wilayah Jawa Barat diperkirakan datang lebih cepat dibandingkan pola normalnya (Google)

Ilustrasi Kemarau - Musim kemarau tahun 2026 di wilayah Jawa Barat diperkirakan datang lebih cepat dibandingkan pola normalnya (Google)

Kabar Pajajaran – Ketersediaan sumber daya air di Indonesia mulai menghadapi tantangan serius di sejumlah wilayah, khususnya di Pulau Jawa. Meski secara nasional cadangan air masih tergolong cukup, ketimpangan distribusi air antarwilayah membuat beberapa daerah berpotensi mengalami krisis air dalam beberapa dekade ke depan.

Hal tersebut disampaikan Direktur Kehutanan dan Konservasi Sumber Daya Air di Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional atau Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Dadang Jainal Mutaqin. Ia menjelaskan bahwa secara umum kondisi ketersediaan air di Indonesia masih relatif aman jika dilihat secara nasional. Namun, jika dianalisis berdasarkan wilayah atau pulau, terdapat daerah-daerah yang menghadapi tekanan besar terhadap ketersediaan air, dilansir dari Antara, Sabtu (14/3/2026).

Menurut Dadang, wilayah yang paling rentan terhadap kekurangan air berada di Pulau Jawa. Pulau dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia ini memiliki tingkat kebutuhan air yang sangat tinggi, sementara ketersediaan sumber airnya semakin terbatas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Secara rata-rata, Indonesia masih aman dalam hal ketersediaan air. Tetapi jika dilihat per pulau atau per wilayah, daerah yang paling banyak mengalami kekurangan air berada di Pulau Jawa,” ujarnya.

Ia menyebut sejumlah wilayah di Pulau Jawa yang menghadapi tekanan serius terhadap ketersediaan air, di antaranya Jakarta serta beberapa daerah di Jawa Timur. Selain itu, beberapa wilayah di Jawa Barat juga mulai menunjukkan gejala yang sama terkait keterbatasan sumber daya air.

Tidak hanya Pulau Jawa, beberapa kota besar di luar pulau tersebut juga menjadi perhatian pemerintah. Di antaranya adalah Medan di Sumatera Utara serta Makassar di Sulawesi Selatan yang dinilai mulai menghadapi tekanan terhadap ketersediaan air bersih.

Konsumsi Air Didominasi Sektor Pertanian

Salah satu faktor utama yang menyebabkan potensi krisis air adalah tingginya konsumsi air di sektor pertanian. Berdasarkan data yang dirilis Bank Dunia pada tahun 2021, total stok air Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 3,9 miliar meter kubik per tahun.

Namun dari jumlah tersebut, sekitar 80 persen digunakan untuk kebutuhan sektor pertanian, terutama untuk sistem irigasi. Sementara itu, sisanya digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, industri, dan sektor lainnya.

Tingginya penggunaan air untuk irigasi menunjukkan bahwa sektor pertanian masih menjadi pengguna air terbesar di Indonesia. Kondisi ini membuat pengelolaan air yang efisien menjadi semakin penting, terutama di daerah dengan tingkat kebutuhan air yang tinggi.

Kebutuhan Air Diperkirakan Terus Meningkat

Selain tingginya konsumsi air saat ini, tantangan ke depan juga datang dari peningkatan kebutuhan air di masa mendatang. Pemerintah memproyeksikan permintaan air nasional dapat meningkat hingga 31 persen pada tahun 2045.

Kenaikan kebutuhan air tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya pertumbuhan jumlah penduduk yang terus meningkat. Semakin besar jumlah penduduk, semakin tinggi pula kebutuhan air untuk keperluan rumah tangga.

Selain itu, perkembangan sektor industri juga diperkirakan akan mendorong lonjakan kebutuhan air secara signifikan. Permintaan air dari sektor industri bahkan diprediksi dapat meningkat hingga empat kali lipat dibandingkan dengan kondisi saat ini.

Ancaman Penurunan Muka Tanah dan Kerusakan Lingkungan

Permasalahan ketersediaan air juga diperparah oleh pengambilan air tanah secara berlebihan di berbagai daerah, khususnya di wilayah perkotaan. Penggunaan air tanah yang tidak terkendali dapat menyebabkan penurunan muka tanah yang berpotensi menimbulkan berbagai dampak lingkungan.

Selain itu, luasnya lahan kritis juga menjadi faktor yang memperburuk kondisi sumber daya air di Indonesia. Saat ini tercatat sekitar 12,7 juta hektar lahan di Indonesia berada dalam kondisi kritis.

Lahan kritis yang tidak mampu menyerap dan menyimpan air secara optimal membuat daerah tangkapan air semakin berkurang. Akibatnya, cadangan air tanah menjadi lebih sulit untuk dipulihkan secara alami.

Pemerintah Perkuat Program Konservasi Air

Menghadapi berbagai tantangan tersebut, pemerintah terus mendorong berbagai program konservasi sumber daya air untuk menjaga keberlanjutan ketersediaan air di masa depan.

Upaya yang dilakukan antara lain melalui pengendalian pencemaran air serta peningkatan kualitas sumber air di berbagai daerah. Selain itu, pemerintah juga mendorong pengelolaan daerah aliran sungai secara lebih berkelanjutan.

Program swasembada air juga menjadi salah satu fokus kebijakan pemerintah. Program ini mencakup berbagai langkah, mulai dari rehabilitasi hutan dan lahan hingga penguatan fungsi daerah tangkapan air.

Di sisi lain, pembangunan infrastruktur sumber daya air juga terus dilakukan. Pemerintah membangun bendungan multifungsi yang tidak hanya berfungsi sebagai sumber irigasi, tetapi juga sebagai cadangan air baku, pengendali banjir, serta pembangkit listrik tenaga air.

Perbaikan sistem irigasi juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan efisiensi penggunaan air, khususnya di sektor pertanian yang selama ini menjadi pengguna air terbesar.

Dengan berbagai langkah tersebut, pemerintah berharap pengelolaan sumber daya air di Indonesia dapat dilakukan secara lebih berkelanjutan. Upaya ini dinilai penting untuk memastikan ketersediaan air tetap terjaga di tengah meningkatnya kebutuhan air serta tekanan lingkungan yang semakin besar, terutama di wilayah padat penduduk seperti Pulau Jawa. *** (Chokie)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Perselisihan Satpam dan Pengemudi Alphard di Bundaran HI Berakhir Damai, Propam Tetap Dalami Kasus
Kopdes Merah Putih Banyuwangi Luncurkan Radio Streaming untuk Perkuat Layanan Informasi
KPK Ungkap Kronologi Penitipan Penahanan Febrie Adriansyah di Rutan Gedung Merah Putih
Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,6 Persen, Menkeu Purbaya Sebut APBN Semester I-2026 Makin Solid
Prabowo Tunjuk Sudaryono Jadi Kepala BGN, Gantikan Nanik S Deyang
Kabar Mengejutkan! Kepala BGN Nanik S Deyang Mundur, Istana Akhirnya Buka Suara
Pembangunan IKN Berlanjut, Basuki Usulkan Anggaran Tambahan Rp2,7 Triliun
Banyak Warga Panik Isi BBM, Pertamina Beri Penjelasan Mengejutkan soal Stok

Berita Terkait

Sabtu, 25 Juli 2026 - 10:00 WIB

Perselisihan Satpam dan Pengemudi Alphard di Bundaran HI Berakhir Damai, Propam Tetap Dalami Kasus

Sabtu, 25 Juli 2026 - 09:00 WIB

Kopdes Merah Putih Banyuwangi Luncurkan Radio Streaming untuk Perkuat Layanan Informasi

Kamis, 23 Juli 2026 - 07:00 WIB

Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,6 Persen, Menkeu Purbaya Sebut APBN Semester I-2026 Makin Solid

Rabu, 22 Juli 2026 - 13:21 WIB

Prabowo Tunjuk Sudaryono Jadi Kepala BGN, Gantikan Nanik S Deyang

Rabu, 22 Juli 2026 - 11:32 WIB

Kabar Mengejutkan! Kepala BGN Nanik S Deyang Mundur, Istana Akhirnya Buka Suara

Berita Terbaru