Kabar Pajajaran – Menjelang Hari Raya Idulfitri, aktivitas transaksi digital masyarakat Indonesia biasanya meningkat tajam. Mulai dari belanja kebutuhan Lebaran, pembelian tiket mudik, hingga pengiriman uang kepada keluarga di kampung halaman.
Namun di balik kemudahan transaksi digital tersebut, ancaman kejahatan siber juga ikut meningkat. Para pelaku penipuan memanfaatkan momentum Lebaran untuk melancarkan berbagai modus penipuan online yang semakin beragam dan canggih.
Data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencatat kerugian akibat penipuan di wilayah tersebut mencapai Rp157,34 miliar pada periode 2024–2025. Dari berbagai kasus yang dilaporkan, modus penipuan jual beli online menjadi yang paling banyak terjadi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Peningkatan transaksi digital sering kali membuat masyarakat lengah dan mudah tergiur oleh tawaran promo besar yang tidak masuk akal. Situasi ini dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan untuk menjerat korban melalui berbagai cara, mulai dari toko online palsu hingga tautan berbahaya.
Para pakar teknologi informasi pun mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat menerima pesan atau tautan dari nomor yang tidak dikenal. Penipuan digital tidak hanya berpotensi mencuri data pribadi, tetapi juga bisa menguras saldo rekening hingga merusak perangkat korban.
Modus Belanja Online dan Marketplace Palsu
Salah satu modus penipuan yang paling sering terjadi menjelang Lebaran adalah penipuan belanja online. Pelaku biasanya membuat situs web palsu, akun media sosial fiktif, atau toko online bodong yang menawarkan produk dengan harga sangat murah.
Misalnya diskon besar hingga 70 persen untuk smartphone atau pakaian Lebaran dengan harga jauh di bawah pasaran. Setelah korban melakukan pembayaran, barang yang dijanjikan tidak pernah dikirim atau kualitasnya tidak sesuai dengan deskripsi.
Dalam banyak kasus, akun penjual palsu langsung menghilang setelah menerima uang dari korban. Salah satu contoh yang pernah dilaporkan adalah akun Instagram Bellvania.idn yang menawarkan pakaian Lebaran dengan harga antara Rp225.000 hingga Rp935.000. Namun setelah pembayaran dilakukan, barang tidak pernah diterima oleh pembeli.
Selain itu, Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Batam juga mengingatkan adanya fenomena “iklan maut” yang menyamar sebagai promo diskon besar. Iklan tersebut berisi tautan berbahaya yang dapat menyebarkan malware.
Malware ini berpotensi mencuri data pribadi, membajak akun media sosial, menguras saldo rekening, bahkan merusak perangkat korban.
Ancaman Phishing dan Tautan Palsu
Modus lain yang juga marak terjadi adalah phishing atau pencurian data melalui tautan palsu. Pelaku biasanya mengirim pesan yang menyerupai komunikasi resmi dari bank, perusahaan logistik, atau instansi tertentu.
Pesan tersebut biasanya berisi notifikasi paket, promo Ramadan palsu, hingga iming-iming “THR Gratis dari Pemerintah” atau “Diskon Lebaran hingga 90 persen”.
Ketika korban mengklik tautan tersebut, mereka akan diarahkan ke halaman palsu yang dirancang menyerupai situs resmi. Di halaman ini, korban diminta memasukkan data sensitif seperti username, password, hingga kode OTP yang kemudian digunakan pelaku untuk mengakses akun korban.
Selain itu, teknologi Fake BTS juga mulai dimanfaatkan oleh penipu untuk mengirim pesan massal yang seolah-olah berasal dari bank atau lembaga resmi. Pesan tersebut bahkan bisa muncul di utas percakapan yang sama dengan pesan asli sehingga semakin sulit dibedakan.
File APK Berbahaya dan Panggilan Palsu
Modus penipuan lain yang juga perlu diwaspadai adalah pengiriman file APK berbahaya. File ini biasanya disamarkan sebagai:
• Cek status paket
• Undangan digital
• Dokumen pajak
• Kartu ucapan Lebaran
Jika korban menginstal file tersebut, aplikasi berbahaya akan bekerja secara diam-diam di latar belakang perangkat. Aplikasi ini dapat merekam aktivitas ponsel, mencuri kata sandi, hingga mengakses aplikasi mobile banking korban.
Tak hanya itu, penipu juga menggunakan modus panggilan telepon palsu (fake call). Dalam beberapa kasus, pelaku bahkan merekam suara korban saat mengucapkan kata “halo” dan menggunakan rekaman tersebut untuk menipu orang lain.
Teknologi kecerdasan buatan (AI) juga mulai dimanfaatkan untuk meniru suara anggota keluarga yang meminta bantuan dana darurat, misalnya untuk biaya perjalanan mudik atau perbaikan kendaraan.
Penipuan Tiket Mudik hingga Penukaran Uang Baru
Momen Lebaran juga dimanfaatkan oleh pelaku penipuan untuk menawarkan tiket pesawat atau paket perjalanan palsu melalui media sosial seperti Facebook dan Instagram.
Pelaku biasanya menawarkan harga yang jauh lebih murah dari harga normal dengan alasan promo terbatas. Setelah korban mentransfer uang, tiket yang dijanjikan tidak pernah diberikan.
Selain itu, meningkatnya permintaan penukaran uang baru menjelang Lebaran juga dimanfaatkan oleh penipu. Modusnya berupa situs penukaran uang palsu atau pesan berantai di WhatsApp yang menawarkan layanan tukar uang cepat.
Padahal, penukaran uang seharusnya dilakukan melalui lembaga resmi agar lebih aman.
Masyarakat Diminta Lebih Waspada
Melihat maraknya berbagai modus penipuan tersebut, masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan saat melakukan transaksi digital.
Beberapa langkah pencegahan yang dapat dilakukan antara lain:
• Tidak mudah tergiur promo yang terlalu murah
• Memeriksa keaslian toko online sebelum bertransaksi
• Tidak mengklik tautan dari sumber yang tidak dikenal
• Tidak membagikan data pribadi seperti PIN atau OTP
• Mengunduh aplikasi hanya dari toko aplikasi resmi
Dengan kewaspadaan yang lebih tinggi, masyarakat diharapkan dapat merayakan Lebaran dengan aman tanpa menjadi korban penipuan digital yang merugikan. *** (Chokie)
















