Nilai Tinggi Tak Menjamin Tepat Jurusan, Pemetaan Bakat Mulai Disorot Sekolah

Sabtu, 10 Januari 2026 - 07:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Talents Mapping sebagai pendekatan pemetaan potensi siswa untuk membantu menentukan arah pendidikan dan karier secara lebih tepat, sejalan dengan kebutuhan dunia pendidikan di era Kurikulum Merdeka. Ilustrasi: AI-generated

Ilustrasi Talents Mapping sebagai pendekatan pemetaan potensi siswa untuk membantu menentukan arah pendidikan dan karier secara lebih tepat, sejalan dengan kebutuhan dunia pendidikan di era Kurikulum Merdeka. Ilustrasi: AI-generated

Oleh: Bambang Purnama, S.Pd., CHA
Praktisi Talents Mapping Profesional – Interpreter of Human Potential

Kota Bandung, Kabar Pajajaran – Fenomena siswa berprestasi akademik namun bingung menentukan jurusan pendidikan dan arah karier masih menjadi persoalan klasik di dunia pendidikan. Nilai rapor yang tinggi kerap dianggap cukup sebagai penentu masa depan, padahal tidak sedikit siswa justru mengalami kebingungan, tekanan psikologis, bahkan penyesalan setelah salah memilih jurusan.

Kondisi ini semakin terlihat menjelang masa pemilihan jurusan SMA, SNBP, hingga SNBT, ketika siswa dan orang tua dihadapkan pada keputusan besar dalam waktu yang relatif singkat. Tidak jarang, pilihan pendidikan akhirnya lebih ditentukan oleh tren, gengsi, atau dorongan lingkungan, bukan berdasarkan kecenderungan alami siswa.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sejumlah praktisi pendidikan menilai, persoalan tersebut muncul karena proses pengenalan diri siswa belum dilakukan secara utuh. Selama ini, sekolah lebih banyak menilai kemampuan akademik, sementara potensi bawaan berupa pola berpikir, minat, dan dorongan alami sering luput dari perhatian.

Baca juga: Siswa SD Plus Al Ghifari Tampil Gemilang di Taekwondo Gubernur Cup V 2025

Dalam konteks inilah pendekatan pemetaan bakat atau Talents Mapping mulai mendapat perhatian. Pendekatan ini tidak berfokus pada penilaian pintar atau tidak pintar, melainkan memetakan kecenderungan berpikir, merasa, dan bertindak yang bersifat berulang dan produktif pada diri seseorang.

Berbeda dengan tes akademik yang bersifat kompetitif, pemetaan bakat digunakan sebagai alat refleksi untuk membantu siswa memahami dirinya sendiri. Dari pemetaan tersebut, siswa diharapkan dapat melihat kekuatan alaminya, sekaligus menyadari keterbatasan yang perlu dikelola, bukan disangkal.

Sejumlah sekolah mulai melihat pemetaan bakat sebagai pelengkap layanan bimbingan konseling. Terutama di tengah rasio guru BK dan siswa yang tidak seimbang, pendekatan ini dinilai membantu guru mendapatkan gambaran awal karakter dan kecenderungan siswa secara lebih terstruktur.

Baca juga: Waspada Influenza A H3N2 Subclade K

Masalah salah jurusan sendiri bukan isu sepele. Data nasional menunjukkan angka mahasiswa pindah jurusan dan putus kuliah masih cukup tinggi. Selain berdampak pada pemborosan waktu dan biaya, kondisi ini juga memengaruhi kesehatan mental siswa yang merasa gagal atau tidak sesuai ekspektasi.

Pemetaan bakat sejak jenjang SMA dinilai dapat menjadi langkah preventif. Bukan untuk mengunci masa depan siswa, melainkan memberi peta awal agar keputusan pendidikan diambil secara lebih sadar dan realistis.

Para pemerhati pendidikan menekankan, pendekatan ini sejalan dengan semangat Kurikulum Merdeka yang mendorong diferensiasi dan pengembangan potensi unik peserta didik. Namun, diferensiasi dinilai sulit terwujud jika sekolah tidak memiliki alat yang memadai untuk mengenali karakter siswa secara mendalam.

Baca juga: Tak Sekadar Wacana, Program Sirkular Sampah Mulai Diterapkan di Kota Bandung

Meski demikian, pemetaan bakat bukan solusi instan. Pendekatan ini tetap membutuhkan pendampingan, dialog antara siswa, orang tua, guru, dan praktisi Talents Mapping profesional, serta pemahaman bahwa setiap anak memiliki jalur sukses yang berbeda.

Dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya pengenalan diri dalam pendidikan, pemetaan bakat dinilai dapat menjadi salah satu instrumen penting untuk membantu siswa tidak sekadar berprestasi di atas kertas, tetapi juga tepat arah dalam menapaki masa depannya.***

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Pemprov Jabar Lepas 1.147 Mahasiswa UPI Ikuti Probidik Gema Jabar, Bantu Atasi Kekurangan Guru
Pemprov Jabar Integrasikan Sekolah Maung dengan Industri, Siapkan Pemimpin Masa Depan Indonesia Emas 2045
Bupati Majalengka Resmikan Gedung Baru SMPN 1 Leuwimunding, Ingatkan Pentingnya Merawat Fasilitas Sekolah
Disdik Jabar Nonaktifkan Sementara Kepala SMKN 3 Bogor, Diduga Rencanakan Pungutan Rp750 Ribu untuk Program Panca Waluya
Disdik Bandung Temukan Restoran Jadi Alamat 20 KK, Verifikasi SPMB Jalur Domisili Makin Ketat
Dedi Mulyadi Gandeng 1.015 Sekolah Swasta, Ancam Cabut Subsidi Siswa Perokok
Beasiswa Keolahragaan Kemenpora-LPDP Tahap 2 Tahun 2026 Dibuka, Pendaftaran Berlangsung hingga 10 Juli
SPMB Tahap 1 Ditutup, Calon Murid Baru Bersiap Daftar Ulang dan Sambut Tahap 2

Berita Terkait

Rabu, 15 Juli 2026 - 07:00 WIB

Pemprov Jabar Lepas 1.147 Mahasiswa UPI Ikuti Probidik Gema Jabar, Bantu Atasi Kekurangan Guru

Rabu, 15 Juli 2026 - 06:15 WIB

Pemprov Jabar Integrasikan Sekolah Maung dengan Industri, Siapkan Pemimpin Masa Depan Indonesia Emas 2045

Selasa, 14 Juli 2026 - 10:01 WIB

Bupati Majalengka Resmikan Gedung Baru SMPN 1 Leuwimunding, Ingatkan Pentingnya Merawat Fasilitas Sekolah

Rabu, 1 Juli 2026 - 19:00 WIB

Disdik Jabar Nonaktifkan Sementara Kepala SMKN 3 Bogor, Diduga Rencanakan Pungutan Rp750 Ribu untuk Program Panca Waluya

Minggu, 28 Juni 2026 - 10:00 WIB

Disdik Bandung Temukan Restoran Jadi Alamat 20 KK, Verifikasi SPMB Jalur Domisili Makin Ketat

Berita Terbaru