Harga Minyak Dunia Menguat Setelah Ketegangan AS-Iran Kembali Memanas

Senin, 29 Juni 2026 - 11:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Minyak Dunia, Harga minyak dunia sempat anjlok tajam setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan perang dengan Iran hampir selesai. Namun, analis menilai penurunan harga tersebut belum mencerminkan kondisi pasokan energi global yang masih terganggu. (Google)

Ilustrasi Minyak Dunia, Harga minyak dunia sempat anjlok tajam setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan perang dengan Iran hampir selesai. Namun, analis menilai penurunan harga tersebut belum mencerminkan kondisi pasokan energi global yang masih terganggu. (Google)

KABAR PAJAJARAN – Harga minyak dunia kembali naik pada Senin (29/6/2026) seiring meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Pelaku pasar kembali mencermati potensi gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah setelah kedua negara kembali terlibat aksi militer.

Mengacu pada perdagangan internasional, kontrak minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 0,71 persen menjadi 69,72 dollar AS per barel. Kenaikan tersebut terjadi setelah harga WTI sempat turun di bawah level 70 dollar AS pada Jumat (26/6/2026), level terendah sejak akhir Februari 2026.

Sementara itu, minyak mentah acuan global Brent ikut menguat 0,36 persen menjadi 72,25 dollar AS per barel.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Perundingan Damai Belum Berlanjut

Kenaikan harga minyak turut dipengaruhi tertundanya pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Proses negosiasi berhenti sementara setelah Washington melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas militer Iran sebagai balasan atas serangan terhadap kapal-kapal komersial yang melintas di Selat Hormuz.

Selat Hormuz menjadi jalur strategis bagi perdagangan energi dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati kawasan tersebut sehingga setiap peningkatan konflik langsung memicu kekhawatiran terhadap stabilitas distribusi energi.

Seorang sumber dari Pakistan yang ikut terlibat dalam proses negosiasi menyebut seluruh delegasi masih berada di Swiss. Mereka menunggu persetujuan untuk melanjutkan pembahasan. Namun, sumber tersebut tidak menjelaskan pihak yang memutuskan penghentian sementara perundingan.

Pemerintah AS Bantah Negosiasi Gagal

Di tengah beredarnya kabar penundaan pembicaraan, pemerintah Presiden Donald Trump membantah bahwa proses negosiasi telah dibatalkan.

Seorang pejabat senior pemerintahan AS menegaskan pembahasan teknis mengenai implementasi nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) tetap berjalan sesuai agenda.

Pejabat AS lainnya juga memastikan kedua pihak masih melanjutkan pembahasan berbagai aspek teknis dalam MoU. Menurutnya, kondisi di jalur pelayaran internasional mulai membaik sehingga kapal-kapal komersial dapat kembali melintas.

Ketegangan Militer Kembali Meningkat

Situasi geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah Presiden Donald Trump memerintahkan serangan terhadap sejumlah fasilitas militer Iran. Langkah tersebut menjadi respons atas serangan yang sebelumnya menyasar jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Di saat yang sama, Kuwait dan Bahrain melaporkan serangan rudal serta pesawat nirawak pada Minggu malam. Perkembangan itu semakin meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi meluasnya konflik di kawasan.

Melalui akun Truth Social, Trump menyatakan militer AS menyerang lokasi penyimpanan rudal, drone, dan fasilitas radar pantai Iran. Ia menuding Teheran kembali melanggar kesepakatan gencatan senjata.

Pasar Energi Waspadai Gangguan Pasokan

Meningkatnya ketegangan di Timur Tengah membuat investor kembali memburu aset energi karena khawatir distribusi minyak mentah dari kawasan tersebut akan terganggu.

Selama konflik belum menunjukkan tanda-tanda mereda, pasar diperkirakan tetap mencermati setiap perkembangan diplomatik maupun militer yang berpotensi memengaruhi pasokan minyak global. Kondisi tersebut juga berpeluang menjaga harga minyak tetap bergerak fluktuatif dalam beberapa waktu ke depan.***(Ant)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Perekrutan Tentara Rusia Tak Pandang Usia, WNI Cukup Lolos Tes Kesehatan
Malaysia Desak Aturan Tegas untuk Perusahaan Terkait Kabut Asap dari Indonesia
Singapura Siap Bantu Indonesia Padamkan Karhutla, Kabut Asap Masih Ganggu Kualitas Udara
Harga Minyak Dunia Naik, Brent Tembus 103,50 Dollar AS per Barrel
Pesawat Flydubai FZ1073 Mendarat Darurat di Arab Saudi, Pilot Ditikam di Kokpit
China Siapkan Strategi Baru Kuasai AI, Gandeng BRICS Bangun Ekosistem Open Source
Konflik Houthi-Arab Saudi Memanas, Pemerintah Diminta Siapkan Skenario Evakuasi Jemaah Umrah
AirAsia Dibeli Rp4.300, Kini Hadapi Tekanan Keuangan, Rute Domestik Jadi Sorotan

Berita Terkait

Rabu, 4 November 2026 - 12:00 WIB

Perekrutan Tentara Rusia Tak Pandang Usia, WNI Cukup Lolos Tes Kesehatan

Selasa, 20 Oktober 2026 - 13:00 WIB

Malaysia Desak Aturan Tegas untuk Perusahaan Terkait Kabut Asap dari Indonesia

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 12:29 WIB

Singapura Siap Bantu Indonesia Padamkan Karhutla, Kabut Asap Masih Ganggu Kualitas Udara

Kamis, 1 Oktober 2026 - 14:00 WIB

Harga Minyak Dunia Naik, Brent Tembus 103,50 Dollar AS per Barrel

Kamis, 1 Oktober 2026 - 10:00 WIB

Pesawat Flydubai FZ1073 Mendarat Darurat di Arab Saudi, Pilot Ditikam di Kokpit

Berita Terbaru