Malaysia dan Singapura Tolak Wacana Tarif Kapal di Selat Malaka

Kamis, 23 April 2026 - 16:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh dronepicr - Strait of Malacca, CC BY 2.0, (wikipedia)

Oleh dronepicr - Strait of Malacca, CC BY 2.0, (wikipedia)

KABAR PAJAJARAN – Pemerintah Malaysia dan Singapura menolak wacana Indonesia untuk memungut tarif kapal yang melintas di Selat Malaka. Kedua negara menegaskan seluruh kebijakan di jalur pelayaran strategis itu harus disepakati bersama negara pesisir.

Menteri Luar Negeri Malaysia Mohamad Hasan menyatakan empat negara—Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand—mengelola Selat Malaka melalui kerja sama kolektif. Ia menekankan tidak ada negara yang boleh mengambil keputusan sepihak, terutama terkait kebijakan yang memengaruhi lalu lintas pelayaran internasional.

Indonesia Dorong Wacana Tarif Kapal

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menggagas wacana pungutan bagi kapal yang melintas di Selat Malaka. Ia menilai negara pesisir dapat memanfaatkan posisi strategis jalur perdagangan global tersebut untuk memperoleh potensi pendapatan baru.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Purbaya mengaitkan gagasan itu dengan rencana pungutan kapal di Selat Hormuz. Ia bahkan menyinggung kemungkinan pembagian pendapatan antara Indonesia, Malaysia, dan Singapura, meski mengakui penerapan kebijakan tersebut tidak mudah.

Singapura Tegaskan Hak Lintas Transit

Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan menegaskan negaranya tidak akan mendukung kebijakan yang menutup, menghambat, atau mengenakan tarif pada kapal di Selat Malaka. Ia menegaskan hukum internasional menjamin kebebasan navigasi bagi seluruh kapal.

Menurut Balakrishnan, hak lintas transit merupakan hak universal yang tidak bisa diubah menjadi pungutan atau lisensi oleh negara pesisir.

Jalur Vital Perdagangan Global

Selat Malaka menampung lebih dari 200 kapal setiap hari atau sekitar 90 ribu kapal per tahun. Jalur ini menyalurkan seperempat perdagangan dunia, termasuk sekitar 80 persen impor minyak China.

Sekretaris Jenderal Perikatan Nasional Takiyuddin Hassan mengingatkan pemerintah Malaysia agar menjaga kebijakan luar negeri yang independen. Ia menilai peningkatan pengaruh kekuatan besar di Selat Malaka berpotensi memicu persaingan geopolitik dan mengganggu stabilitas kawasan. *** (Ant)

Facebook Comments Box

Sumber Berita: The Straits Times

Berita Terkait

Perekrutan Tentara Rusia Tak Pandang Usia, WNI Cukup Lolos Tes Kesehatan
Malaysia Desak Aturan Tegas untuk Perusahaan Terkait Kabut Asap dari Indonesia
Singapura Siap Bantu Indonesia Padamkan Karhutla, Kabut Asap Masih Ganggu Kualitas Udara
Harga Minyak Dunia Naik, Brent Tembus 103,50 Dollar AS per Barrel
Pesawat Flydubai FZ1073 Mendarat Darurat di Arab Saudi, Pilot Ditikam di Kokpit
China Siapkan Strategi Baru Kuasai AI, Gandeng BRICS Bangun Ekosistem Open Source
Konflik Houthi-Arab Saudi Memanas, Pemerintah Diminta Siapkan Skenario Evakuasi Jemaah Umrah
AirAsia Dibeli Rp4.300, Kini Hadapi Tekanan Keuangan, Rute Domestik Jadi Sorotan

Berita Terkait

Rabu, 4 November 2026 - 12:00 WIB

Perekrutan Tentara Rusia Tak Pandang Usia, WNI Cukup Lolos Tes Kesehatan

Selasa, 20 Oktober 2026 - 13:00 WIB

Malaysia Desak Aturan Tegas untuk Perusahaan Terkait Kabut Asap dari Indonesia

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 12:29 WIB

Singapura Siap Bantu Indonesia Padamkan Karhutla, Kabut Asap Masih Ganggu Kualitas Udara

Kamis, 1 Oktober 2026 - 14:00 WIB

Harga Minyak Dunia Naik, Brent Tembus 103,50 Dollar AS per Barrel

Kamis, 1 Oktober 2026 - 10:00 WIB

Pesawat Flydubai FZ1073 Mendarat Darurat di Arab Saudi, Pilot Ditikam di Kokpit

Berita Terbaru