Pernyataan ini disampaikan usai dirinya melaksanakan Salat Id di Plaza Balai Kota Bandung, Sabtu (21/3/2026). Menurutnya, momentum kemenangan ini seharusnya menjadi titik balik bagi warga untuk mengubah perilaku konsumsi dan pembuangan limbah.

Angka yang Mengkhawatirkan

Berdasarkan data terbaru, volume sampah harian di Kota Bandung telah menyentuh angka yang fantastis. Farhan memaparkan beberapa poin krusial:

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

  • Produksi Harian: Mencapai 1.600 hingga 1.800 ton per hari.

  • Penyebab Utama: Meningkatnya aktivitas ekonomi dan pola konsumsi masyarakat modern.

  • Status: Menjadi perhatian khusus pemerintah pusat karena volume yang terus membengkak.

“Sampah adalah residu dari kehidupan kita. Maka, pengelolaannya bukan hanya tugas pemerintah, tapi menjadi tanggung jawab kolektif bersama,” tegas Farhan.

Strategi Pemerintah vs Kesadaran Warga

Meski Pemerintah Kota Bandung telah menyiapkan berbagai langkah konkret—mulai dari penguatan kapasitas petugas di lapangan hingga program pengelolaan berbasis wilayah—Farhan menilai teknologi dan sistem secanggih apa pun tidak akan efektif tanpa perubahan perilaku di level hulu.

Ia menekankan bahwa solusi paling ampuh dimulai dari meja makan dan dapur warga sendiri.

“Kebersihan adalah bagian dari iman. Mari kita mulai dari hal sederhana: memilah sampah dari rumah. Kami optimis, dengan kesadaran kolektif, Bandung bisa keluar dari krisis ini,” tambahnya.

Penanganan Jangka Panjang

Pemkot Bandung kini tengah berupaya mengintegrasikan sistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan. Fokus utamanya adalah:

  1. Edukasi Pemilahan: Mendorong rumah tangga memisahkan sampah organik dan anorganik.

  2. Partisipasi Kewilayahan: Memperkuat peran RT/RW dalam mengelola sampah mandiri.

  3. Dukungan Pusat: Sinkronisasi program dengan pemerintah pusat untuk infrastruktur pengolahan limbah yang lebih modern.

Farhan berharap, semangat Idulfitri kali ini tidak hanya sebatas perayaan kemenangan spiritual, tetapi juga menjadi momentum lahirnya “budaya hijau” baru bagi masyarakat Kota Bandung. ***(Chq)