Puluhan CCTV di Israel Diretas Iran, Rekaman Diduga Dipakai Pantau Target Serangan

Rabu, 11 Maret 2026 - 09:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Hacker (Freepik)

Ilustrasi Hacker (Freepik)

TEL AVIV, Kabar Pajajaran – Konflik antara Israel dan Iran tidak hanya berlangsung di medan militer, tetapi juga merambah ruang digital. Otoritas keamanan siber Israel mengungkap adanya puluhan upaya peretasan terhadap kamera pengawas atau CCTV yang diduga dilakukan oleh peretas yang berafiliasi dengan Iran.

Direktorat Siber Nasional Israel menyatakan bahwa aksi peretasan tersebut berpotensi digunakan untuk kegiatan spionase di tengah meningkatnya ketegangan konflik di kawasan Timur Tengah.

Dalam pernyataannya di media sosial X pada Senin (10/3/2026), otoritas keamanan siber Israel mengaku telah mengidentifikasi sejumlah kamera pengawas yang berhasil ditembus oleh peretas. Mereka kini tengah menghubungi ratusan pemilik perangkat untuk meningkatkan keamanan sistem.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Direktorat tengah bekerja memperingatkan ratusan pemilik kamera dan menyerukan kepada publik untuk segera mengganti kata sandi serta memperbarui perangkat lunak guna mencegah risiko keamanan,” tulis lembaga tersebut.

CCTV Jadi Celah Keamanan

Firma keamanan siber Israel, Check Point Software Technologies, menyebut serangan terhadap perangkat kamera pengawas meningkat tajam sejak operasi militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu.

Kepala intelijen siber Check Point, Gil Messing, menjelaskan bahwa rekaman video dari kamera yang diretas berpotensi dimanfaatkan untuk kepentingan militer.

Menurutnya, data visual yang diperoleh bisa digunakan untuk menilai dampak serangan atau memantau aktivitas di lokasi tertentu sebelum dilakukan operasi militer lanjutan.

“Rekaman tersebut bisa dipakai untuk menilai kerusakan akibat serangan, atau mengumpulkan informasi tentang kebiasaan target maupun lokasi yang akan diserang,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa aktivitas peretasan ini bukan dilakukan oleh kelompok peretas biasa. Banyak di antaranya diduga terhubung dengan lembaga militer dan intelijen Iran.

Perang Siber yang Sudah Lama Terjadi

Serangan digital antara Israel dan Iran sebenarnya bukan hal baru. Kedua negara telah lama terlibat dalam perang siber sebagai bagian dari konflik geopolitik yang lebih luas.

Salah satu kasus yang sempat menjadi sorotan terjadi pada Desember 2025 ketika akun Telegram milik mantan Perdana Menteri Israel, Naftali Bennett, diretas oleh kelompok peretas. Pelaku mengklaim berhasil mengakses data pribadi dari ponsel Bennett dan menyebarkan sejumlah pesan serta file pribadi di internet.

Kelompok peretas yang menggunakan nama Handala—simbol yang identik dengan perjuangan Palestina—mengaku berada di balik aksi tersebut.

Spionase Digital Dua Arah

Meski Israel menuding Iran melakukan peretasan kamera pengawas, laporan media internasional menunjukkan bahwa praktik serupa juga dilakukan oleh pihak Israel.

Harian bisnis Inggris, Financial Times, melaporkan bahwa Israel disebut telah meretas hampir seluruh kamera lalu lintas di ibu kota Iran, Teheran, selama bertahun-tahun.

Aksi tersebut diduga menjadi bagian dari persiapan operasi militer rahasia yang menargetkan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, pada hari pertama serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel.

Ancaman Baru di Era Perang Modern

Kasus peretasan CCTV ini memperlihatkan bagaimana perangkat teknologi yang digunakan sehari-hari dapat berubah menjadi alat intelijen dalam konflik modern.

Para ahli keamanan siber mengingatkan bahwa banyak perangkat Internet of Things (IoT), termasuk kamera pengawas rumahan, sering kali memiliki sistem keamanan yang lemah sehingga mudah dieksploitasi oleh peretas.

Karena itu, otoritas Israel mengimbau masyarakat untuk memperkuat keamanan perangkat digital dengan mengganti kata sandi secara berkala, memperbarui perangkat lunak, serta menggunakan sistem keamanan tambahan.

Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah perangkat pribadi dimanfaatkan sebagai sumber informasi dalam konflik siber yang semakin intens antara Israel dan Iran. *** (Ant)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Perekrutan Tentara Rusia Tak Pandang Usia, WNI Cukup Lolos Tes Kesehatan
Cara Memperbesar Tulisan WhatsApp di Android dan iPhone, Mudah Tanpa Aplikasi Tambahan
ChatGPT Digugat Usai Wanita 31 Tahun Meninggal, Diduga Sarankan Berhenti Minum Obat
Malaysia Desak Aturan Tegas untuk Perusahaan Terkait Kabut Asap dari Indonesia
Spyware Lewat Iklan Target Jurnalis Al Jazeera, Perusahaan Israel Disorot
Cara Melihat Pesan WhatsApp yang Dihapus Pengirim Tanpa Aplikasi, Cek Fitur Ini
Singapura Siap Bantu Indonesia Padamkan Karhutla, Kabut Asap Masih Ganggu Kualitas Udara
WhatsApp Bakal Blokir Login di HP dengan OS Lawas, Ini Alasannya

Berita Terkait

Rabu, 4 November 2026 - 12:00 WIB

Perekrutan Tentara Rusia Tak Pandang Usia, WNI Cukup Lolos Tes Kesehatan

Selasa, 3 November 2026 - 17:00 WIB

Cara Memperbesar Tulisan WhatsApp di Android dan iPhone, Mudah Tanpa Aplikasi Tambahan

Selasa, 3 November 2026 - 14:00 WIB

ChatGPT Digugat Usai Wanita 31 Tahun Meninggal, Diduga Sarankan Berhenti Minum Obat

Selasa, 20 Oktober 2026 - 13:00 WIB

Malaysia Desak Aturan Tegas untuk Perusahaan Terkait Kabut Asap dari Indonesia

Jumat, 16 Oktober 2026 - 16:29 WIB

Spyware Lewat Iklan Target Jurnalis Al Jazeera, Perusahaan Israel Disorot

Berita Terbaru