BANDUNG – Kondisi macan tutul Jawa (Panthera pardus melas) yang sempat memasuki permukiman warga di Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung, kini berangsur membaik. Satwa jantan tersebut masih menjalani rehabilitasi sebelum BBKSDA Jawa Barat melepasliarkannya kembali ke habitat yang sesuai.
Macan tutul Jawa itu sebelumnya mengalami luka setelah memasuki wilayah permukiman warga Desa Maruyung, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung, pada Februari 2026.
Tim kemudian mengevakuasi satwa tersebut untuk mendapatkan perawatan. Setelah proses evakuasi, macan tutul jantan itu menjalani rehabilitasi awal di Taman Satwa Cikembulan, Kabupaten Garut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dokter hewan dan tim medis memantau kondisi macan tutul tersebut setiap hari. Perawatan intensif itu perlahan menunjukkan hasil.
Satwa mulai mampu berjalan dan kembali menyantap makanan secara normal. Kondisinya pun terus menunjukkan perkembangan positif selama menjalani rehabilitasi.
Kondisi Macan Tutul Jawa Kini Membaik
Kepala Seksi Konservasi Wilayah V Garut BBKSDA Jawa Barat, Vitriana Yulalita, mengatakan kondisi macan tutul tersebut saat ini secara umum sudah sehat.
Meski begitu, tim belum menghentikan proses perawatan. Mereka masih memastikan kondisi fisik dan kemampuan satwa sebelum mengambil keputusan terkait pelepasliaran.
“Yang jelas untuk sementara ini dalam kondisi sehat, tapi masih perlu perawatan lebih lanjut,” ujar Vitriana di Garut, Kamis (3/9/2026), dikutip dari Antara.
BBKSDA Jawa Barat tidak ingin terburu-buru melepas macan tutul tersebut. Tim perlu memastikan satwa memiliki kondisi yang cukup baik untuk bertahan hidup ketika kembali ke habitat alaminya.
Macan Tutul Dipindahkan dari Cikembulan ke Sukabumi
Setelah menjalani rehabilitasi awal di Taman Satwa Cikembulan, BBKSDA Jawa Barat memindahkan macan tutul tersebut ke Yayasan Cikananga Konservasi Terpadu (YCKT), Sukabumi.
Pemindahan itu bertujuan memberikan penanganan lanjutan yang lebih sesuai dengan kebutuhan satwa liar sekaligus mempersiapkan proses pelepasliaran.
Vitriana menjelaskan, Cikembulan memiliki fungsi sebagai taman satwa. Sementara itu, YCKT menjalankan fungsi sebagai pusat penyelamatan satwa.
“Kalau Cikembulan kan dia taman satwa, jadi fokus kelolanya berbeda, kalau lembaga seperti YCKT itu dia fokusnya sebagai pusat penyelamatan,” kata Vitriana.
Dengan perbedaan fungsi tersebut, BBKSDA Jawa Barat menilai YCKT dapat memberikan fasilitas dan penanganan yang lebih mendukung proses pemulihan macan tutul Jawa.
BBKSDA Siapkan Macan Tutul Kembali ke Alam
BBKSDA Jawa Barat kini terus memantau perkembangan kondisi macan tutul Jawa tersebut.
Selain memastikan kesehatan fisik, tim juga perlu menilai kesiapan satwa sebelum melepasnya kembali ke alam. Proses tersebut penting agar macan tutul mampu beradaptasi dan bertahan hidup setelah meninggalkan tempat rehabilitasi.
BBKSDA Jawa Barat berharap macan tutul jantan itu dapat kembali ke habitat alaminya setelah seluruh tahapan rehabilitasi selesai.
“Kita semua berharap masih bisa dilepasliarkan kembali di lokasi yang tepat,” ujar Vitriana.
Pihak BBKSDA juga akan mempertimbangkan lokasi pelepasliaran dengan memperhatikan kondisi habitat dan aspek keselamatan satwa maupun masyarakat.
Macan tutul Jawa merupakan salah satu satwa liar yang mendapat perhatian dalam upaya konservasi. Karena itu, proses rehabilitasi hingga pelepasliaran harus melalui pemantauan dan persiapan yang matang. ***(Chq)



![Cara operasikan AC mobil. Sebagai ilustrasi [Shutterstock].](https://kabarpajajaran.com/wp-content/uploads/2026/09/ac-225x129.jpg)

