BANDUNG BARAT, KABAR PAJAJARAN – Aktivitas hiking di kawasan Gunung Tangkuban Parahu, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, hingga kini masih berlangsung. Kondisi tersebut terjadi meski Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi telah menerbitkan surat edaran yang melarang aktivitas pendakian gunung dan hutan selama musim kemarau.
Perum Perhutani Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Lembang menyatakan belum menutup akses pendakian karena masih menunggu instruksi dari pimpinan.
Asisten Perhutani (Asper) BKPH Lembang, Cucu Supriatna, mengatakan pihaknya sudah menerima Surat Edaran (SE) Gubernur Jawa Barat Nomor 116/KH.02.04.03/ASDA.EKBANG tentang Larangan Pendakian Gunung/Hutan di Wilayah Jawa Barat Selama Musim Kemarau.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Cucu, pihaknya langsung menyebarkan surat tersebut kepada jajaran di lapangan. Namun, sampai Rabu (2/9/2026), Perhutani belum menerapkan penutupan sementara akses hiking di kawasan yang mereka kelola.
“Kami sudah menerima surat edaran kemarin dan langsung disebarkan. Tapi belum tutup sementara, masih menunggu pimpinan,” kata Cucu saat dikonfirmasi, Rabu (2/9/2026).
Upas Hill Jadi Lokasi Hiking
BKPH Lembang mengelola kawasan hutan seluas sekitar 4.100 hektare. Wilayah tersebut terbagi menjadi tiga Resort Pengelolaan Hutan (RPH), yaitu RPH Lembang, RPH Cisarua, dan RPH Cikole.
Cucu menjelaskan, aktivitas pendakian yang biasa berlangsung di wilayah pengelolaan BKPH Lembang berada di kawasan Upas Hill, Gunung Tangkuban Parahu.
Pendaki dapat menuju lokasi melalui Trek 11 Sukawana dan Lorong Lumut. Aktivitas di kawasan tersebut biasanya berupa hiking tanpa kegiatan berkemah.
“Di kita ada Upas Hill saja Gunung Tangkuban Parahu. Aksesnya dari Trek 11 Sukawana dan Lorong Lumut. Itu juga cuma hiking, enggak nge-camp,” ujar Cucu.
Dengan adanya surat edaran gubernur, aktivitas hiking di kawasan tersebut berpotensi dihentikan sementara. Kebijakan itu menjadi bagian dari langkah pemerintah untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau.
Meski demikian, Perhutani masih menunggu keputusan internal sebelum menerapkan penutupan akses pendakian.
Perhutani Tingkatkan Antisipasi Karhutla
Sebelum surat edaran tersebut terbit, BKPH Lembang telah melakukan berbagai langkah untuk mengantisipasi karhutla.
Perhutani menjalankan patroli bersama unsur Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam), Polisi Hutan (Polhut), serta petani yang tergabung dalam Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH).
Petugas juga memasang spanduk imbauan dan memberikan edukasi kepada pendaki serta masyarakat yang masuk ke kawasan hutan.
Menurut Cucu, aktivitas warga yang mencari rumput juga menjadi perhatian selama musim kemarau. Sebagian peternak sapi mengalami kekurangan pakan sehingga harus masuk ke kawasan hutan untuk mencari rumput.
Dalam aktivitas tersebut, warga terkadang membuat kopi atau memasak air menggunakan api. Bara yang tidak sepenuhnya padam dapat memicu kebakaran.
“Kan para peternak sapi kekurangan pakan, jadi masuk ke kawasan gunung mencari rumput. Mereka kadang suka bikin kopi, masak air kadang masih ada bara api,” katanya.
Perbatasan Cisarua-Lembang Rawan Kebakaran
Selain aktivitas manusia, kondisi vegetasi dan cuaca juga meningkatkan risiko karhutla di sejumlah wilayah BKPH Lembang.
Salah satu kawasan yang mendapat perhatian khusus berada di perbatasan Cisarua-Lembang. Kawasan tersebut banyak ditumbuhi ilalang yang mudah mengering ketika musim kemarau.
Angin kencang dapat mempercepat penyebaran api ketika kebakaran terjadi di area tersebut.
Cucu menyebut aktivitas manusia sebelumnya juga menjadi salah satu pemicu kebakaran di kawasan perbatasan tersebut.
“Beberapa tahun ke belakang yang sering terjadi di wilayah perbatasan Cisarua-Lembang. Hasil identifikasi suka ada yang cari burung, bikin api kecil buat memanaskan air. Dikira sudah mati apinya, padahal belum,” ujarnya.
Api yang masih menyisakan bara kemudian dapat menyebar ketika warga meninggalkan lokasi. Kondisi cuaca yang panas dan angin kencang membuat api semakin mudah membakar ilalang kering.
Perhutani juga menghadapi tantangan dalam melakukan pengawasan di kawasan tersebut. Pasalnya, sebagian wilayah perbatasan didominasi ilalang dan tidak termasuk lahan garapan agroforestri maupun area penyadapan.
“Memang kalau di perbatasan gitu dominannya ilalang jadi kan kering dan lahan yang seperti itu yang tidak digarap memang memantaunya lebih susah,” ucap Cucu.
Untuk sementara, Perhutani BKPH Lembang masih menunggu instruksi pimpinan terkait penerapan penutupan akses hiking. Langkah tersebut nantinya akan mengikuti kebijakan pemerintah Jawa Barat dalam mencegah risiko kebakaran hutan selama musim kemarau. ***(Chq)



![Cara operasikan AC mobil. Sebagai ilustrasi [Shutterstock].](https://kabarpajajaran.com/wp-content/uploads/2026/09/ac-225x129.jpg)

