KABAR PAJAJARAN– Indonesia resmi menjadi salah satu negara pendiri World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO). Pemerintah menandatangani dokumen pendirian organisasi tersebut di Shanghai, China. Langkah itu memperkuat posisi Indonesia dalam pengembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di tingkat global.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan Presiden Prabowo Subianto mengarahkan pemerintah untuk bergabung sebagai pendiri WAICO. Karena itu, Indonesia memperoleh kesempatan lebih besar untuk ikut menentukan arah pengembangan AI dunia.
Airlangga menjelaskan status sebagai negara pendiri memberi Indonesia akses lebih awal terhadap pembahasan AI. Dengan begitu, pemerintah dapat mengikuti perkembangan teknologi sekaligus menyampaikan kepentingan nasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Status sebagai negara pendiri memberi Indonesia akses awal terhadap pembahasan perkembangan AI,” kata Airlangga dalam konferensi pers daring, Jumat (17/7/2027).
Indonesia Ambil Peran Lebih Besar
Pemerintah tidak hanya ingin memanfaatkan AI. Sebaliknya, Indonesia juga ingin ikut menyusun aturan dan tata kelola AI di tingkat internasional.
Airlangga menegaskan pemerintah mendorong pengembangan AI yang inklusif dan bertanggung jawab. Selain itu, pemerintah ingin memastikan teknologi tersebut memberi manfaat bagi seluruh negara.
Komitmen tersebut sejalan dengan pesan Presiden China Xi Jinping. Ia mengajak seluruh negara membangun AI melalui kerja sama internasional. Sementara itu, Presiden Prabowo menekankan pentingnya penguasaan teknologi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan daya saing nasional.
Indonesia Ikut Menentukan Kebijakan AI
Status sebagai negara pendiri membuka peluang besar bagi Indonesia. Pemerintah dapat ikut menyusun kebijakan global. Pemerintah juga bisa berkontribusi dalam pengembangan kelembagaan WAICO.
Tak hanya itu, Indonesia berpeluang memperjuangkan kepentingan negara berkembang. Langkah tersebut membuat kebijakan AI menjadi lebih inklusif.
Airlangga menilai peluang itu sangat penting. Sebab, AI akan memengaruhi sektor industri, pendidikan, kesehatan, hingga pelayanan publik.
Puluhan Negara Bergabung
Sebanyak 29 negara menandatangani dokumen pendirian WAICO. Lima negara ASEAN ikut bergabung, yakni Indonesia, Malaysia, Kamboja, Myanmar, dan Laos.
Selain negara ASEAN, organisasi tersebut juga melibatkan negara dari kawasan Eurasia, BRICS, Afrika, Amerika Latin, dan Timur Tengah.
Pendaftaran sebagai negara pendiri masih berlangsung hingga 31 Juli. Oleh karena itu, jumlah anggota WAICO masih berpotensi bertambah.
Indonesia Dorong AI yang Inklusif
Pemerintah juga ingin memanfaatkan WAICO untuk mengurangi kesenjangan digital. Dengan demikian, manfaat AI dapat dirasakan lebih merata oleh berbagai negara.
Airlangga menegaskan Indonesia akan aktif berbagi pengalaman. Kemudian, pemerintah akan memperkuat kerja sama internasional dalam pengembangan AI. Langkah itu sekaligus mendukung target Sustainable Development Goals (SDGs).
AI Jadi Motor Ekonomi Digital
Pemerintah menilai AI mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi digital Indonesia. Nilai ekonomi digital nasional diproyeksikan mencapai US$130 miliar pada 2027. Selanjutnya, angka tersebut diperkirakan meningkat menjadi US$366 miliar pada 2030.
Pemerintah terus menjalankan transformasi digital melalui program Industri 4.0. Di sisi lain, pemerintah juga menyusun roadmap nasional AI agar pemanfaatannya lebih terarah.
Roadmap tersebut akan membantu dunia usaha meningkatkan produktivitas. Bahkan, pemerintah berharap AI mampu menciptakan nilai tambah bagi berbagai sektor ekonomi.
Pada akhirnya, keikutsertaan Indonesia sebagai pendiri WAICO memperkuat posisi nasional dalam ekosistem AI global. Dengan begitu, Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga ikut menentukan arah pengembangan AI yang aman, inklusif, dan bermanfaat bagi masyarakat dunia. ***(Ant)





