BANDUNG, KABAR PAJAJARAN – Festival Asia Afrika 2026 menyedot perhatian ribuan warga dan wisatawan di kawasan Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Sabtu (11/7/2026). Kegiatan yang berlangsung pada 10–12 Juli 2026 itu menghadirkan pawai budaya, pertunjukan seni, hingga diplomasi budaya.
Sejak pagi, peserta mengenakan pakaian adat dan busana khas dari berbagai daerah serta negara Asia-Afrika. Kemudian, mereka memeriahkan pawai budaya di sepanjang Jalan Asia Afrika. Alhasil, penampilan tersebut mendapat sambutan meriah dari masyarakat yang memadati kawasan.
Festival ini mengusung semangat Konferensi Asia Afrika (KAA). Melalui kegiatan tersebut, panitia mengajak masyarakat mengenang nilai persahabatan, perdamaian, dan kerja sama antarbangsa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Hadirkan Pawai Budaya hingga Diplomasi Kopi
Selama tiga hari pelaksanaan, panitia menyelenggarakan beragam kegiatan. Agenda tersebut meliputi History Walk, pawai budaya, bazar produk kreatif, seminar, diplomasi kopi, dan pertunjukan seni.
Selain itu, seniman, pelaku UMKM, dan komunitas lokal ikut berpartisipasi dalam festival ini. Kehadiran mereka menambah semarak acara sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada para pengunjung.
Tak hanya itu, program diplomasi kopi menjadi salah satu daya tarik utama. Kegiatan tersebut memperkenalkan kopi Indonesia sebagai bagian dari diplomasi budaya. Sementara itu, para pengunjung dapat berinteraksi langsung dengan pelaku industri kreatif dan menikmati beragam produk unggulan.
Panitia juga mengusung nilai inklusivitas. Karena itu, berbagai komunitas memperoleh ruang untuk berpartisipasi dan menampilkan karya terbaik mereka.

Pemkot Bandung Perkuat Usulan ke UNESCO
Di sisi lain, Pemerintah Kota Bandung terus memperkuat pengusulan kawasan Jalan Asia Afrika sebagai Warisan Dunia UNESCO. Langkah itu bertujuan menjaga nilai sejarah kawasan sekaligus meningkatkan daya tarik wisata budaya.
Pemkot menilai kawasan Jalan Asia Afrika memiliki nilai sejarah penting bagi dunia. Pasalnya, kawasan tersebut menjadi saksi lahirnya semangat solidaritas negara-negara Asia dan Afrika melalui Konferensi Asia Afrika 1955.
Oleh sebab itu, status Warisan Dunia UNESCO diharapkan mampu memperkuat pelestarian kawasan bersejarah. Selain itu, pengakuan tersebut juga berpotensi meningkatkan kunjungan wisatawan dan memperkuat posisi Bandung sebagai kota budaya bertaraf internasional.
Pada akhirnya, Festival Asia Afrika 2026 menjadi momentum untuk mengenalkan kembali warisan sejarah tersebut kepada masyarakat. Dengan demikian, Kota Bandung ingin menjaga semangat Konferensi Asia Afrika tetap hidup sekaligus memperkuat citranya sebagai destinasi budaya berkelas dunia. ***(Chq)






