BI Rate Naik, Modal Asing Mengalir Deras dan Rupiah Menguat

Sabtu, 13 Juni 2026 - 10:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bank Indonesia (bi.go.id)

Bank Indonesia (bi.go.id)

JAKARTA, KABAR PAJAJARAN – Bank Indonesia (BI) mulai merasakan dampak positif dari kenaikan suku bunga acuan. Setelah BI menaikkan BI Rate menjadi 5,50 persen, investor asing meningkatkan pembelian instrumen keuangan domestik dan mendorong penguatan nilai tukar rupiah.

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan rupiah ditutup pada kisaran Rp 17.865-Rp 17.875 per dollar AS pada Jumat (12/6/2026). Posisi tersebut menguat 0,84 persen dibandingkan pekan sebelumnya yang berada pada level Rp 18.010-Rp 18.020 per dollar AS.

Menurut Destry, pasar memberikan respons positif terhadap berbagai kebijakan yang dijalankan bank sentral untuk menjaga stabilitas ekonomi dan nilai tukar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

BI menaikkan BI Rate menjadi 5,50 persen, memperkuat struktur suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), memberikan insentif hedging swap bagi investor asing, membuka akses repo untuk memperkuat likuiditas perbankan, serta meningkatkan operasi moneter rupiah dan valuta asing.

“Sinergi BI dan pemerintah turut memperkuat kepercayaan pasar terhadap ekonomi Indonesia,” ujar Destry.

Investor Asing Tingkatkan Pembelian SRBI dan SBN

Kenaikan suku bunga acuan meningkatkan daya tarik instrumen keuangan dalam negeri. Investor global menambah kepemilikan pada SRBI dan Surat Berharga Negara (SBN).

Pada Rabu (10/6/2026), investor asing membukukan aliran dana masuk sebesar Rp 15,11 triliun ke kedua instrumen tersebut. Sehari kemudian, investor kembali menempatkan dana senilai Rp 3,91 triliun.

Selain itu, Danantara berhasil menarik minat investor internasional melalui penerbitan obligasi global. Penawaran perdana instrumen tersebut mengumpulkan dana sebesar Rp 26,9 triliun.

Destry menilai tingginya minat investor mencerminkan kepercayaan terhadap prospek ekonomi Indonesia dan aset keuangan domestik.

BI Naikkan Suku Bunga untuk Jaga Stabilitas

Dalam Rapat Dewan Gubernur Mingguan pada 9 Juni 2026, BI menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen.

BI juga menaikkan suku bunga Deposit Facility menjadi 4,50 persen dan Lending Facility menjadi 6,25 persen.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan langkah tersebut bertujuan menjaga stabilitas rupiah di tengah tingginya ketidakpastian global. BI juga menggunakan kebijakan itu untuk menjaga ketahanan eksternal ekonomi nasional dan mengendalikan inflasi sesuai target.

BI Perkuat Kerja Sama dengan China dan Hong Kong

Selain menjalankan kebijakan moneter, BI memperkuat kerja sama keuangan dengan People’s Bank of China (PBOC) dan Hong Kong Monetary Authority (HKMA).

Ketiga pihak menyepakati penguatan stabilitas keuangan regional, perluasan Bilateral Currency Swap Agreement (BCSA), serta peningkatan penggunaan mata uang lokal melalui skema Local Currency Transaction (LCT).

Destry menegaskan kerja sama tersebut membantu mengurangi ketergantungan terhadap dollar AS dan memperkuat stabilitas rupiah dalam jangka panjang.

BI Optimistis Rupiah Terus Menguat

Ke depan, BI akan mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan untuk menjaga stabilitas pasar keuangan dan nilai tukar rupiah.

BI juga akan memperkuat koordinasi dengan pemerintah serta berbagai pemangku kepentingan guna menjaga kepercayaan investor dan ketahanan ekonomi nasional.

Melihat peningkatan arus modal asing dan membaiknya sentimen pasar, BI optimistis rupiah memiliki peluang untuk terus menguat menuju level yang sejalan dengan fundamental ekonomi Indonesia.***

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Kementerian ESDM: Harga Pertamax dan BBM Nonsubsidi Ikuti Harga Pasar
Pemerintah Mau Ganti BBM Lagi, Mulai 1 Juli 2026
Kejagung Kembangkan Kasus MBG, Penerima Dana Ikut Dibidik
BMKG Catat Gempa M 6,7 di Palu, Infrastruktur Publik Terdampak
Prabowo Gelar Pertemuan Tertutup dengan Purbaya dan Bahlil, Ada Apa?
Sony Sonjaya Ajukan Justice Collaborator, Kejagung Berpeluang Ungkap Aktor Besar Kasus MBG
Banyak yang Mengeluh Pertamax Naik, Pertamina Ungkap Penyebabnya
Seskab Teddy Jelaskan Kenaikan Pertamax ke Rp 16.250, Klaim Masih Termurah di ASEAN

Berita Terkait

Rabu, 17 Juni 2026 - 13:02 WIB

Kementerian ESDM: Harga Pertamax dan BBM Nonsubsidi Ikuti Harga Pasar

Selasa, 16 Juni 2026 - 20:00 WIB

Pemerintah Mau Ganti BBM Lagi, Mulai 1 Juli 2026

Selasa, 16 Juni 2026 - 17:00 WIB

Kejagung Kembangkan Kasus MBG, Penerima Dana Ikut Dibidik

Selasa, 16 Juni 2026 - 16:02 WIB

BMKG Catat Gempa M 6,7 di Palu, Infrastruktur Publik Terdampak

Senin, 15 Juni 2026 - 09:00 WIB

Prabowo Gelar Pertemuan Tertutup dengan Purbaya dan Bahlil, Ada Apa?

Berita Terbaru