Kota Bandung, Kabar Pajajaran – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menekankan pentingnya kepemimpinan yang autentik dan berakar pada nilai-nilai kejujuran dalam kuliah umum di hadapan Perwira Siswa Pendidikan Reguler (Pasis Dikreg) LXVII Sesko TNI Tahun Ajaran 2026.
Kuliah umum tersebut digelar di Grha Widya Adibrata, Sesko TNI, Kota Bandung, Senin (6/4/2026), dengan tema kepemimpinan dan komunikasi publik.
Dalam paparannya, Dedi yang akrab disapa KDM menegaskan bahwa Indonesia membutuhkan pemimpin yang lahir dari ketulusan dan kecintaan terhadap bangsa, bukan sekadar hasil pencitraan atau rekayasa komunikasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Yang kita butuhkan hari ini adalah kepemimpinan yang original. Bukan kepemimpinan settingan, bukan framing, tapi kepemimpinan yang lahir dari rasa dan cinta terhadap bangsa,” ujarnya.
Baca juga: Usia ke-78, Subang Ngebut Bangun Jalan 92 Km, Target 2027 Bebas Jalan Rusak
TNI sebagai Kekuatan Ideologis
KDM juga mengulas karakter TNI sebagai institusi yang tidak hanya bersifat struktural, tetapi memiliki dimensi ideologis, historis, dan filosofis yang kuat.
Menurutnya, TNI lahir dari nurani rakyat Indonesia yang menginginkan kemerdekaan, perdamaian, dan keadilan sosial.
Ia menggambarkan TNI sebagai bagian dari “milieu kultural” yang tidak terpisahkan dari unsur alam seperti tanah, air, udara, dan matahari, yang menjadi fondasi kekuatan pertahanan nasional.
“Prajurit sejati adalah mereka yang tidak mengkhianati tanah, air, udara, dan mataharinya karena dari sanalah kekuatan pertahanan itu lahir,” tegasnya.
Baca juga: BMKG Ingatkan Potensi Hujan Lebat Sepekan di Jawa Barat, Warga Diminta Waspada
Ideologi Lebih Penting dari Teknologi
Dalam kuliah tersebut, KDM menekankan bahwa kekuatan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh kemajuan teknologi, tetapi juga oleh kekuatan ideologi dan kesadaran kolektif.
“Teknologi itu penting, tapi ideologi adalah seni utama. Teknologi tanpa ideologi hanya akan menjadi barang pajangan,” katanya.
Ia juga menyoroti pentingnya menjaga lingkungan sebagai bagian dari sistem pertahanan negara, serta mengingatkan bahwa eksploitasi alam yang berlebihan dapat melemahkan ketahanan nasional.
Selain itu, KDM mengkritisi sikap pragmatisme yang masih kuat di kalangan elite, baik politik maupun birokrasi, yang dinilai berpotensi menggerus nilai nasionalisme.
Baca juga: Dedi Mulyadi Tepati Janji Bayar Upah, Karyawan Bonbin Bandung Beri Apresiasi
Empat Pilar Kepemimpinan
Menutup kuliahnya, KDM menegaskan bahwa kepemimpinan masa depan harus dibangun di atas empat pilar utama, yakni ideologis, historis, filosofis, dan teknokratis.
Keempat aspek tersebut, menurutnya, harus berjalan seimbang agar mampu menjawab tantangan zaman.
“Kepemimpinan masa depan harus mampu memadukan ideologi, sejarah, filosofi, dan teknologi. Tanpa itu, kita hanya akan menjadi bangsa yang kuat di permukaan, tapi rapuh di dalam,” pungkasnya.***(Nalika)






