Panglima TNI Ungkap Alasan Kerahkan 20.980 Personel ke Jakarta, Ini Penjelasannya

Kamis, 5 November 2026 - 18:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Panglima TNI Agus Subiyanto menjelaskan pengerahan 20.980 personel ke Jakarta. Simak alasan, tingkatan status siaga, dan ancaman yang diantisipasi TNI.

Panglima TNI Agus Subiyanto menjelaskan pengerahan 20.980 personel ke Jakarta. Simak alasan, tingkatan status siaga, dan ancaman yang diantisipasi TNI.

BANDUNG, KABAR PAJAJARAN – Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto menjelaskan alasan pengerahan 20.980 personel TNI ke Jakarta pada awal November 2026. Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga kesiapsiagaan militer dalam menghadapi berbagai potensi ancaman.

Agus menyebut pengerahan pasukan itu mengacu pada Surat Telegram Panglima TNI Nomor STR/96/2026. Sebagian besar personel yang masuk dalam daftar pengerahan berasal dari TNI Angkatan Laut.

Menurut Agus, TNI memiliki mekanisme kesiapsiagaan yang terbagi dalam tiga tingkatan. Ketiga tingkatan tersebut meliputi siaga 3, siaga 2, dan siaga 1.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

TNI menerapkan sistem tersebut untuk menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ancaman yang menjadi perhatian militer mencakup bencana alam maupun gangguan keamanan akibat aktivitas manusia.

“Di dalam internal TNI kita menggunakan istilah siaga. Siaga ini digunakan untuk dalam rangka mempertahankan kedaulatan NKRI dari ancaman, berbagai ancaman yaitu ancaman itu ada dua, ancaman alam dan buatan,” ujar Agus.

Agus menyampaikan penjelasan tersebut setelah memimpin pemakaman militer Letkol CPN Anumerta Dudi Firmansyah di Taman Makam Pahlawan (TMP) Cikutra, Kota Bandung, Kamis (5/11/2026).

TNI Antisipasi Bencana hingga Ancaman Keamanan

Agus menjelaskan, TNI mengantisipasi berbagai ancaman alam, seperti tanah longsor, banjir, kebakaran hutan, dan tsunami.

Selain bencana alam, TNI juga mewaspadai ancaman yang muncul akibat ulah manusia. Beberapa di antaranya meliputi konflik sosial, terorisme, separatisme, hingga makar.

Untuk menghadapi berbagai kemungkinan tersebut, TNI menyesuaikan kesiapan personel dan alat utama sistem persenjataan (alutsista) berdasarkan tingkat ancaman.

Pada status siaga 3, kondisi keamanan masih tergolong aman. Prajurit tetap menjalankan kegiatan rutin dan latihan di satuan masing-masing. Sementara itu, personel dan alutsista berada dalam posisi siap siaga.

“Personel dan alutsista stand by di satuan masing-masing dan prajurit melaksanakan kegiatan rutin latihan di dalam satuan. Kemudian diberlakukan, prajurit tidak boleh keluar kesatrian,” jelas Agus.

Ini Perbedaan Siaga 3, Siaga 2, dan Siaga 1 TNI

Ketika situasi mulai menunjukkan peningkatan risiko, TNI dapat menaikkan status kesiapsiagaan menjadi siaga 2.

Pada tingkat ini, TNI menyiapkan sekitar 50 hingga 75 persen kekuatan personel dan alutsista. Pasukan kemudian bersiap menempati pos yang telah ditentukan sesuai kebutuhan operasi.

Adapun status siaga 1 berlaku ketika eskalasi ancaman meningkat. Dalam kondisi tersebut, personel dan alutsista sudah berada di pos masing-masing untuk menghadapi kemungkinan terburuk.

“Personel dan alutsistanya sudah disiagakan dan masuk ke pos masing-masing. Tentunya personel, atau prajurit tidak boleh keluar kesatrian. Itu yang biasa dilakukan oleh internal TNI,” kata Agus.

Panglima TNI Tegaskan Status Siaga Tidak Memiliki Batas Waktu

Agus juga menegaskan bahwa TNI tidak menetapkan batas waktu tertentu dalam penerapan status siaga.

TNI akan mengevaluasi perkembangan situasi sebelum menurunkan tingkat kesiapsiagaan. Jika kondisi sudah kembali kondusif, komando akan menurunkan status secara bertahap dari siaga 1 ke siaga 2, kemudian siaga 3.

“Siaga itu tidak ada waktu. Jadi lihat situasi sudah kondusif, baru kita siaga 1, kita menurunkan siaga 2 dan siaga 3,” tegasnya.

Saat wartawan menanyakan kemungkinan adanya ancaman khusus di Jakarta, Agus tidak menyebut adanya ancaman tertentu yang menjadi alasan pengerahan pasukan tersebut.

Ia justru menekankan bahwa TNI menerapkan kesiapsiagaan di berbagai wilayah Indonesia. Kebijakan itu bertujuan memastikan seluruh personel dan alutsista mampu merespons setiap perkembangan situasi.

Selain mengantisipasi gangguan keamanan, TNI juga meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana alam. Terlebih, Indonesia mulai memasuki periode musim hujan yang berpotensi memicu banjir dan tanah longsor di sejumlah daerah.

“Kita selalu mengantisipasi setiap wilayah, kita berlakukan siaga tersebut supaya kesiapsiagaan personel dan alutsista tetap terjaga. Makanya kita melakukan siaga terus,” pungkas Agus. ***(Chq)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Dedi Mulyadi Ingatkan Warga Jabar Hindari Judol dan Pinjol, Ini Alasannya
Mobil Tabrak Pohon dan Kursi Taman di Jalan Banceuy Bandung, Tiga Orang Luka
Musim Hujan Tiba, BPBD Bandung Petakan Wilayah Rawan Banjir dan Longsor
BREAKING NEWS : Prabowo Ambil Keputusan Tegas! Listyo Sigit Dicopot dari Jabatan KSP
Listyo Sigit Prabowo Jadi Tersangka Kasus Penyadapan Ilegal, Dua Jenderal Polri Ikut Terseret
Mabes Polri Cek Kabar Penangkapan Sejumlah Jenderal, Isu Bintang Empat Ikut Mencuat
Penggeledahan Ponpes Sukoharjo Berujung Pencopotan Kapolres, Ini Kronologi Lengkapnya
PPN Pembalut 11 Persen Disorot DPR, Anis Byarwati Minta Pemerintah Evaluasi Kebijakan

Berita Terkait

Kamis, 5 November 2026 - 18:59 WIB

Panglima TNI Ungkap Alasan Kerahkan 20.980 Personel ke Jakarta, Ini Penjelasannya

Kamis, 5 November 2026 - 12:00 WIB

Dedi Mulyadi Ingatkan Warga Jabar Hindari Judol dan Pinjol, Ini Alasannya

Kamis, 5 November 2026 - 10:00 WIB

Mobil Tabrak Pohon dan Kursi Taman di Jalan Banceuy Bandung, Tiga Orang Luka

Rabu, 4 November 2026 - 14:52 WIB

BREAKING NEWS : Prabowo Ambil Keputusan Tegas! Listyo Sigit Dicopot dari Jabatan KSP

Rabu, 4 November 2026 - 09:06 WIB

Listyo Sigit Prabowo Jadi Tersangka Kasus Penyadapan Ilegal, Dua Jenderal Polri Ikut Terseret

Berita Terbaru