KABAR PAJAJARAN – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia turut memengaruhi kualitas udara di sejumlah wilayah Malaysia. Hingga Selasa (25/8/2026) pukul 14.00 waktu setempat, sebanyak 29 wilayah di Malaysia mencatat Indeks Polusi Udara (API) dalam kategori tidak sehat.
Kondisi udara memburuk terutama di kawasan pesisir barat Semenanjung Malaysia dan beberapa wilayah di Sarawak. Pemerintah Malaysia meningkatkan pemantauan setelah mendeteksi pergerakan asap lintas batas dari Indonesia serta asap yang berasal dari kebakaran lokal.
Asap Kalimantan Bergerak ke Sarawak
Wakil Direktur Jenderal Departemen Lingkungan Malaysia (DOE) bidang Pengembangan, Azuri Azizah Saedon, mengatakan pergerakan asap terjadi dari sejumlah arah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut dia, asap dengan intensitas sedang hingga pekat terdeteksi di Kalimantan Barat. Angin kemudian membawa asap tersebut bergerak ke arah utara menuju bagian barat Sarawak, Malaysia.
“Asap lintas batas dengan intensitas sedang hingga pekat terdeteksi di Kalimantan Barat, Indonesia, bergerak ke utara menuju bagian barat Sarawak,” ujar Azuri seperti dikutip Bernama.
Selain Kalimantan Barat, petugas juga menemukan asap dengan intensitas sedang hingga pekat di sejumlah wilayah Kalimantan lainnya. Kondisi serupa terjadi di wilayah Sumatera bagian tengah dan selatan.
Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Indonesia
Laporan ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC) berdasarkan citra satelit National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) pada 24 Agustus 2026 menunjukkan tingginya aktivitas titik panas di Indonesia.
ASMC mencatat 287 titik panas di Kalimantan dan 65 titik panas di Sumatera. Sementara itu, Malaysia mendeteksi 11 titik panas yang tersebar di Sarawak, Johor, dan Selangor.
Dari jumlah tersebut, delapan titik panas berada di Sarawak, dua titik di Johor, dan satu titik di Selangor.
Aktivitas titik panas tersebut berkontribusi terhadap penurunan kualitas udara di sejumlah wilayah. Stasiun pemantauan di Kalimantan Barat, Sarawak bagian barat, pesisir barat Semenanjung Malaysia, serta Sumatera bagian tengah dan selatan mencatat kualitas udara dari kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat.
29 Wilayah Malaysia Catat API Tidak Sehat
Penurunan kualitas udara terlihat dari angka API di sejumlah wilayah Malaysia. Selangor menjadi salah satu daerah yang mencatat banyak wilayah dengan kualitas udara tidak sehat.
Johan Setia mencatat API tertinggi di Selangor dengan angka 173. Berikutnya Shah Alam mencapai 162, Kuala Selangor 153, Petaling Jaya 152, Klang 151, dan Banting 146.
Sarawak juga menghadapi kondisi serupa. Serian mencatat API 182, menjadi salah satu angka tertinggi yang terpantau. Sri Aman berada di angka 170, Kuching 160, Samarahan 156, dan Sarikei 153.
Sejumlah wilayah di Perak, Penang, Melaka, Negeri Sembilan, Johor, Putrajaya, Kuala Lumpur, dan Kedah juga mencatat API di atas 100.
Malaysia Sebut Asap Tidak Hanya Berasal dari Indonesia
Pemerintah Malaysia menegaskan bahwa penurunan kualitas udara saat ini tidak sepenuhnya disebabkan oleh asap dari Indonesia.
DOE juga menemukan sumber asap lokal yang berasal dari titik panas di bagian selatan Semenanjung Malaysia. Selain itu, pergerakan asap dari Kepulauan Riau serta Kepulauan Bangka-Belitung turut terpantau.
Dengan demikian, kondisi kabut asap di Malaysia merupakan kombinasi antara asap lintas batas dari Indonesia dan sumber kebakaran lokal.
Pemerintah Malaysia kini memperketat pengawasan terhadap aktivitas pembakaran terbuka, terutama di wilayah yang rawan kebakaran.
Malaysia Tingkatkan Patroli dan Penegakan Aturan
DOE meningkatkan patroli harian serta penegakan aturan untuk mencegah pembakaran terbuka. Pemerintah juga mengaktifkan National Open Burning Action Plan dan National Haze Action Plan untuk mengoordinasikan penanganan kebakaran dan kabut asap.
Malaysia memiliki sejumlah langkah mitigasi apabila kualitas udara terus memburuk. Jika API mencapai lebih dari 150 selama lebih dari 24 jam, Badan Pengelolaan Bencana Nasional Malaysia (NADMA) dapat mengaktifkan komite penanggulangan bencana.
Langkah penanganan dapat mencakup penghentian aktivitas di luar ruangan, penutupan sekolah dan pusat penitipan anak, hingga operasi penyemaian awan jika kondisi membutuhkan.
Pemerintah Malaysia juga meminta masyarakat rutin memantau perkembangan kualitas udara melalui sistem API Departemen Lingkungan. ***(Ant)
Sumber Berita: Bernama






