Kabar Pajajaran – Kontroversi besar sedang melanda dunia kecerdasan buatan. Jutaan pengguna dilaporkan meninggalkan layanan chatbot populer ChatGPT setelah perusahaan pengembangnya, OpenAI, diketahui menjalin kerja sama dengan United States Department of Defense atau Departemen Pertahanan Amerika Serikat.
Dalam waktu kurang dari 48 jam setelah kabar tersebut mencuat, jumlah pelanggan ChatGPT disebut menyusut hingga 1,5 juta pengguna.
Kabar ini memicu gelombang kritik keras dari warganet di berbagai platform media sosial. Banyak pengguna menilai kerja sama tersebut membuka peluang penggunaan kecerdasan buatan untuk kepentingan militer, mulai dari pengawasan massal hingga pengembangan sistem senjata otonom.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
OpenAI menyebut teknologi AI mereka akan digunakan dalam “sistem yang aman” atau jaringan rahasia milik Pentagon. Namun penjelasan itu tidak sepenuhnya meredakan kekhawatiran publik.
Gerakan Boikot ChatGPT Makin Meluas
Protes terhadap OpenAI kemudian berkembang menjadi gerakan boikot besar-besaran. Sebuah situs bernama QuitGPT.org bahkan muncul untuk mengajak pengguna berhenti memakai ChatGPT.
Pantauan pada Jumat (6/3/2026) menunjukkan lebih dari 2,5 juta orang telah bergabung dalam gerakan boikot tersebut.
Angka ini meningkat drastis dari data awal yang menyebut sekitar 1,5 juta pelanggan telah meninggalkan ChatGPT.
Menurut pengelola situs QuitGPT, jumlah tersebut dihitung dari beberapa indikator, termasuk pengguna yang mendaftar dalam gerakan boikot, aktivitas berbagi kampanye di media sosial, hingga data penggunaan aplikasi dari pihak ketiga.
Hingga saat ini, OpenAI belum memberikan konfirmasi resmi terkait jumlah pengguna yang benar-benar berhenti menggunakan layanan ChatGPT.
“Aib” OpenAI Ikut Dibongkar
Selain mempersoalkan kerja sama dengan militer, situs QuitGPT juga memuat berbagai kritik lain terhadap OpenAI.
Beberapa isu yang diangkat antara lain kedekatan eksekutif OpenAI dengan politik Amerika Serikat, potensi dampak psikologis penggunaan chatbot AI, hingga rencana penambahan iklan dalam layanan ChatGPT.
Tak hanya itu, ekspansi pusat data AI juga disorot karena dinilai berpotensi meningkatkan dampak terhadap lingkungan.
Sebagian pengguna bahkan menilai OpenAI telah menyimpang dari misi awalnya sebagai organisasi nirlaba yang bertujuan mengembangkan AI demi kepentingan umat manusia.
Pengguna Mulai Beralih ke AI Lain
Di tengah gelombang boikot, sejumlah pengguna dilaporkan mulai beralih ke layanan AI lain seperti Gemini dan Claude.
Chatbot Claude yang dikembangkan oleh perusahaan AI Anthropic bahkan disebut mengalami lonjakan popularitas dalam beberapa hari terakhir.
Beberapa laporan menyebut aplikasi Claude kini berhasil mengungguli ChatGPT sebagai aplikasi gratis paling populer di Apple App Store.
Situasi ini juga dipicu oleh gerakan “Cancel ChatGPT” yang membuat angka uninstall meningkat dan rating aplikasi ChatGPT turun di toko aplikasi.
Anthropic tampaknya memanfaatkan momentum tersebut dengan merilis panduan resmi yang memungkinkan pengguna memindahkan riwayat percakapan atau “memori” dari ChatGPT ke Claude dengan mudah. *** (Anton)
Sumber Times of India






