BMKG Prediksi Kemarau 2026 Lebih Kering, BPBD Jabar Siapkan Strategi Hadapi Krisis Air dan Karhutla

Sabtu, 2 Mei 2026 - 12:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Kemarau - Musim kemarau tahun 2026 di wilayah Jawa Barat diperkirakan datang lebih cepat dibandingkan pola normalnya (Google)

Ilustrasi Kemarau - Musim kemarau tahun 2026 di wilayah Jawa Barat diperkirakan datang lebih cepat dibandingkan pola normalnya (Google)

Bandung, Kabar PajajaranBadan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memprediksi sebagian besar wilayah Jawa Barat mulai memasuki musim kemarau pada Mei 2026. Musim kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung lebih kering dan berdurasi lebih panjang, dengan puncak kemarau sekitar 90 persen terjadi pada Agustus mendatang.

Menghadapi kondisi tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Jawa Barat menggelar rapat koordinasi bersama perangkat daerah serta BPBD kabupaten/kota. Rapat ini bertujuan menyatukan strategi menghadapi dua ancaman utama musim kemarau, yakni krisis air bersih dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Pranata Humas Ahli Muda BPBD Jabar, Hadi Rahmat Hardjasasmita, menegaskan koordinasi lintas instansi menjadi kunci untuk mengantisipasi potensi bencana. “Kami menginternalisasi potensi ancaman kekeringan dan karhutla sekaligus memperkuat sinergi dengan berbagai stakeholder,” ujarnya, Jumat (1/5/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Siapkan Tim Pemantau dan Armada Air Bersih

Sebagai langkah konkret, BPBD Jabar menyiapkan tim pemantau di berbagai wilayah rawan. Armada pendukung, termasuk mobil tangki air, juga disiapkan untuk membantu distribusi air bersih bagi daerah yang mengalami kekeringan.

BPBD kabupaten/kota akan didukung dalam layanan operasi distribusi air bersih agar masyarakat tetap mendapatkan akses air selama musim kemarau berlangsung.

Ancaman Kekeringan dan Karhutla Tergolong Serius

Berdasarkan kajian risiko bencana Provinsi Jawa Barat periode 2025–2029, ancaman kekeringan di wilayah ini tergolong serius. Tercatat lima kabupaten dan satu kota berada pada kategori risiko tinggi, sementara 13 kabupaten dan delapan kota berada pada tingkat risiko sedang.

Untuk potensi karhutla, sebanyak 10 kabupaten dan satu kota masuk kategori risiko tinggi. Data historis menunjukkan tren peningkatan signifikan: kejadian kekeringan naik dari tiga kasus pada 2022 menjadi 27 kasus pada 2023. Sementara kebakaran hutan dan lahan mencapai 711 kejadian pada tahun yang sama.

Secara geografis, wilayah Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Garut, hingga Kabupaten Bandung Barat menjadi daerah dengan potensi terdampak paling luas. Sukabumi bahkan tercatat memiliki potensi area terdampak kekeringan terbesar, mencapai lebih dari 422.463 hektare.

Dari sisi populasi, sekitar 49,8 juta jiwa di Jawa Barat masuk kategori berisiko tinggi terdampak kekeringan. Kabupaten Bogor menjadi wilayah dengan jumlah penduduk terdampak terbesar, mencapai 5,5 juta jiwa, disusul Kabupaten Bandung dan Bekasi yang masing-masing mencapai sekitar 3 juta jiwa. Di kawasan perkotaan, Kota Bekasi dan Depok juga masuk wilayah berisiko tinggi.

Potensi Kerugian Ekonomi Capai Triliunan Rupiah

Kerugian ekonomi akibat kekeringan diperkirakan sangat besar. Kabupaten Garut dan Sukabumi berpotensi mengalami kerugian lebih dari Rp9 triliun, terutama pada sektor pertanian dan infrastruktur, disertai dampak kerusakan lingkungan yang signifikan.

Untuk mempercepat respons, BPBD kabupaten/kota telah menyiapkan nomor darurat yang dapat diakses masyarakat. Sistem ini diperkuat koordinasi lintas aparat kewilayahan agar laporan dapat segera ditindaklanjuti.

Rekomendasi BMKG untuk Hadapi Kemarau

BMKG juga mengeluarkan sejumlah rekomendasi lintas sektor. Pada sektor sumber daya air, pengelolaan waduk dan penyimpanan air perlu dioptimalkan guna mengantisipasi krisis air. Sektor pertanian diimbau menyesuaikan kalender tanam serta menggunakan varietas tahan kekeringan.

Di sektor kebencanaan, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan, karhutla, serta dampak kesehatan seperti ISPA akibat asap. Edukasi hidrasi, perlindungan panas, serta pengawasan kualitas air dan sanitasi menjadi langkah penting selama musim kemarau.

BPBD menegaskan, pemantauan dan deteksi dini menjadi bagian utama mitigasi agar bencana tidak berkembang menjadi lebih luas dan sulit dikendalikan. ***(Chq)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Kabar Mengejutkan! Kepala BGN Nanik S Deyang Mundur, Istana Akhirnya Buka Suara
Resmi! Persib Bandung Datangkan Mariano Peralta, Winger Argentina Bertaji Dikunci hingga 2028
BMKG Ingatkan Potensi Hujan Lebat dan Angin Kencang di Sejumlah Wilayah Indonesia Hari Ini
Wagub Erwan Ajak Investor Selangor Perkuat Kolaborasi Investasi Berkelanjutan di Jawa Barat
248 Titik Infrastruktur Dikerjakan, Bupati Majalengka Minta Warga Bersabar
Ribuan Siswa Terancam Tak Masuk Negeri, Dedi Mulyadi: Itu Tanggung Jawab Kami
Cuaca Bandung Hari Ini: Hujan Sedang Berpotensi Turun di Sejumlah Wilayah
PHK Mengintai Lagi, Sektor Ini Disebut Paling Rentan Terkena Dampaknya

Berita Terkait

Rabu, 22 Juli 2026 - 11:32 WIB

Kabar Mengejutkan! Kepala BGN Nanik S Deyang Mundur, Istana Akhirnya Buka Suara

Senin, 20 Juli 2026 - 09:00 WIB

Resmi! Persib Bandung Datangkan Mariano Peralta, Winger Argentina Bertaji Dikunci hingga 2028

Jumat, 17 Juli 2026 - 08:25 WIB

BMKG Ingatkan Potensi Hujan Lebat dan Angin Kencang di Sejumlah Wilayah Indonesia Hari Ini

Selasa, 14 Juli 2026 - 08:30 WIB

Wagub Erwan Ajak Investor Selangor Perkuat Kolaborasi Investasi Berkelanjutan di Jawa Barat

Kamis, 18 Juni 2026 - 11:00 WIB

248 Titik Infrastruktur Dikerjakan, Bupati Majalengka Minta Warga Bersabar

Berita Terbaru