BANDUNG, KP – Harga cabai rawit merah di Pasar Kosambi, Kota Bandung, Jawa Barat, melonjak dalam tiga hari terakhir. Pedagang kini menjual komoditas tersebut hingga Rp100.000 per kilogram, dari sebelumnya sekitar Rp60.000.
Pedagang sayur Pasar Kosambi, Eli Anita, mengatakan kenaikan harga berlangsung cukup cepat. Menurut dia, perubahan harga mulai terasa sejak tiga hari terakhir.
“Kenaikan sudah tiga hari ke belakang. Rawit merah dari Rp60.000 sekarang Rp100.000,” kata Eli saat ditemui di Pasar Kosambi, Rabu (23/9/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Harga Cabai Keriting Juga Naik
Selain cabai rawit merah, cabai keriting merah ikut mengalami kenaikan. Pedagang saat ini menjualnya sekitar Rp80.000 per kilogram, sedangkan harga sebelumnya berada di kisaran Rp60.000.
Kondisi berbeda terjadi pada cabai merah besar. Komoditas tersebut justru mengalami penurunan harga dari Rp100.000 menjadi sekitar Rp80.000 per kilogram.
“Harga cabai merah besar justru turun dari Rp100.000 menjadi Rp80.000 per kilogram,” ujar Eli.
Buncis dan Jagung Manis Ikut Naik
Fluktuasi harga juga terjadi pada sejumlah sayuran lain di Pasar Kosambi. Harga buncis, misalnya, naik dua kali lipat menjadi Rp30.000 per kilogram dari sebelumnya Rp15.000.
Sementara itu, pedagang menjual jagung manis sekitar Rp18.000 per kilogram. Sebelumnya, komoditas tersebut berada di kisaran Rp12.000.
“Kalau jagung manis sama buncis sudah sekitar sembilan hari,” kata Eli.
Berbeda dengan dua komoditas tersebut, bawang merah justru mengalami penurunan harga. Pedagang kini menjualnya sekitar Rp38.000 per kilogram, dari sebelumnya Rp50.000.
Harga timun juga turun menjadi sekitar Rp10.000 per kilogram. Adapun tomat masih bertahan di kisaran Rp14.000 per kilogram.
Pasokan Sayuran Terganggu Kemarau
Pedagang menilai kondisi cuaca menjadi salah satu faktor yang memengaruhi perubahan harga sayuran. Musim kemarau membuat pasokan dari sejumlah daerah penghasil berkurang.
Berkurangnya hasil panen kemudian memengaruhi pengiriman menuju pasar. Kondisi tersebut membuat ketersediaan barang di tingkat pedagang tidak selalu stabil.
“Karena kemarau, jadi pasokannya kurang, pengirimannya,” ujar Eli.
Untuk memenuhi kebutuhan dagangan, Eli mengambil sebagian pasokan dari Pasar Andir. Menurutnya, pasar tersebut menyediakan sayuran dengan kualitas yang lebih sesuai dengan kebutuhannya.
“Kalau Ibu dari Andir. Kalau di Pasar Caringin kan suka banyak yang jelek. Kalau Andir sudah dapat pilihan,” katanya.
Pembeli Mulai Mengurangi Belanja
Kenaikan harga sayuran turut mengubah pola belanja masyarakat. Konsumen kini cenderung membeli dalam jumlah lebih sedikit untuk menyesuaikan pengeluaran.
Eli mengatakan pembeli yang biasanya membeli satu kilogram mulai mengurangi pesanannya menjadi setengah kilogram. Sebagian pelanggan bahkan hanya membeli seperempat kilogram.
“Ya, satu beli timbangan biasa jadi setengah. Biasa setengah jadi seperempat,” tuturnya.
Perubahan pola belanja tersebut ikut menekan penjualan pedagang. Eli menyebut sejumlah pelanggan kini mengurangi volume pembelian dibandingkan sebelumnya.
“Sekarang banyak yang asalnya beli sekilo jadi setengah kilo. Sekarang juga pada turun (penjualan),” katanya.
Pedagang Harap Ada Bazar Murah
Ketersediaan pasokan menjadi faktor penting dalam menentukan harga sayuran di pasar. Ketika pasokan meningkat, harga dapat kembali turun dalam waktu singkat.
Sebaliknya, berkurangnya stok bisa langsung mendorong kenaikan harga di tingkat pedagang.
“Kalau barangnya kurang pasti naik terus. Kalau banyak pasti turun sayurannya. Banyak saja, turun langsung semalam juga,” ujar Eli.
Meski sejumlah harga naik, stok sayuran di Pasar Kosambi masih tersedia. Pedagang tetap melayani pembeli dengan menyesuaikan harga berdasarkan kondisi pasokan.
Eli berharap pemerintah dapat menggelar operasi pasar atau bazar murah untuk membantu masyarakat menghadapi kenaikan harga kebutuhan pokok.
“Ya mudah-mudahan ada operasi atau bazar murah dari pemerintah biar enggak naik terus. Kayak rawit kan lebih murah,” ucapnya. ***






