Harga Cabai Rawit Merah di Bandung Tembus Rp100 Ribu per Kg, Pedagang Ungkap Penyebabnya

Kamis, 24 September 2026 - 07:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BANDUNG, KP – Harga cabai rawit merah di Pasar Kosambi, Kota Bandung, Jawa Barat, melonjak dalam tiga hari terakhir. Pedagang kini menjual komoditas tersebut hingga Rp100.000 per kilogram, dari sebelumnya sekitar Rp60.000.

Pedagang sayur Pasar Kosambi, Eli Anita, mengatakan kenaikan harga berlangsung cukup cepat. Menurut dia, perubahan harga mulai terasa sejak tiga hari terakhir.

“Kenaikan sudah tiga hari ke belakang. Rawit merah dari Rp60.000 sekarang Rp100.000,” kata Eli saat ditemui di Pasar Kosambi, Rabu (23/9/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Harga Cabai Keriting Juga Naik

Selain cabai rawit merah, cabai keriting merah ikut mengalami kenaikan. Pedagang saat ini menjualnya sekitar Rp80.000 per kilogram, sedangkan harga sebelumnya berada di kisaran Rp60.000.

Kondisi berbeda terjadi pada cabai merah besar. Komoditas tersebut justru mengalami penurunan harga dari Rp100.000 menjadi sekitar Rp80.000 per kilogram.

Harga cabai merah besar justru turun dari Rp100.000 menjadi Rp80.000 per kilogram,” ujar Eli.

Buncis dan Jagung Manis Ikut Naik

Fluktuasi harga juga terjadi pada sejumlah sayuran lain di Pasar Kosambi. Harga buncis, misalnya, naik dua kali lipat menjadi Rp30.000 per kilogram dari sebelumnya Rp15.000.

Sementara itu, pedagang menjual jagung manis sekitar Rp18.000 per kilogram. Sebelumnya, komoditas tersebut berada di kisaran Rp12.000.

“Kalau jagung manis sama buncis sudah sekitar sembilan hari,” kata Eli.

Berbeda dengan dua komoditas tersebut, bawang merah justru mengalami penurunan harga. Pedagang kini menjualnya sekitar Rp38.000 per kilogram, dari sebelumnya Rp50.000.

Harga timun juga turun menjadi sekitar Rp10.000 per kilogram. Adapun tomat masih bertahan di kisaran Rp14.000 per kilogram.

Pasokan Sayuran Terganggu Kemarau

Pedagang menilai kondisi cuaca menjadi salah satu faktor yang memengaruhi perubahan harga sayuran. Musim kemarau membuat pasokan dari sejumlah daerah penghasil berkurang.

Berkurangnya hasil panen kemudian memengaruhi pengiriman menuju pasar. Kondisi tersebut membuat ketersediaan barang di tingkat pedagang tidak selalu stabil.

“Karena kemarau, jadi pasokannya kurang, pengirimannya,” ujar Eli.

Untuk memenuhi kebutuhan dagangan, Eli mengambil sebagian pasokan dari Pasar Andir. Menurutnya, pasar tersebut menyediakan sayuran dengan kualitas yang lebih sesuai dengan kebutuhannya.

“Kalau Ibu dari Andir. Kalau di Pasar Caringin kan suka banyak yang jelek. Kalau Andir sudah dapat pilihan,” katanya.

Pembeli Mulai Mengurangi Belanja

Kenaikan harga sayuran turut mengubah pola belanja masyarakat. Konsumen kini cenderung membeli dalam jumlah lebih sedikit untuk menyesuaikan pengeluaran.

Eli mengatakan pembeli yang biasanya membeli satu kilogram mulai mengurangi pesanannya menjadi setengah kilogram. Sebagian pelanggan bahkan hanya membeli seperempat kilogram.

“Ya, satu beli timbangan biasa jadi setengah. Biasa setengah jadi seperempat,” tuturnya.

Perubahan pola belanja tersebut ikut menekan penjualan pedagang. Eli menyebut sejumlah pelanggan kini mengurangi volume pembelian dibandingkan sebelumnya.

“Sekarang banyak yang asalnya beli sekilo jadi setengah kilo. Sekarang juga pada turun (penjualan),” katanya.

Pedagang Harap Ada Bazar Murah

Ketersediaan pasokan menjadi faktor penting dalam menentukan harga sayuran di pasar. Ketika pasokan meningkat, harga dapat kembali turun dalam waktu singkat.

Sebaliknya, berkurangnya stok bisa langsung mendorong kenaikan harga di tingkat pedagang.

“Kalau barangnya kurang pasti naik terus. Kalau banyak pasti turun sayurannya. Banyak saja, turun langsung semalam juga,” ujar Eli.

Meski sejumlah harga naik, stok sayuran di Pasar Kosambi masih tersedia. Pedagang tetap melayani pembeli dengan menyesuaikan harga berdasarkan kondisi pasokan.

Eli berharap pemerintah dapat menggelar operasi pasar atau bazar murah untuk membantu masyarakat menghadapi kenaikan harga kebutuhan pokok.

“Ya mudah-mudahan ada operasi atau bazar murah dari pemerintah biar enggak naik terus. Kayak rawit kan lebih murah,” ucapnya. ***

Facebook Comments Box

Berita Terkait

FIFA ASEAN Cup 2026 di Si Jalak Harupat, Pelajar Nonton Gratis
Farhan Tegaskan Fasilitas Kesehatan di Bandung Tak Boleh Tolak Pasien Bergejala Flu
Macet Panjang di Soekarno-Hatta Bandung, Farhan Soroti Kontraktor
Pemkot Bandung Kaji Ulang Investasi Revitalisasi Pasar Baru Rp800 Miliar
Super Flu Ramai di Media Sosial, IGD Rumah Sakit di Bandung Dipadati Pasien
Mantan Gubernur Jabar Danny Setiawan Meninggal Dunia, Dedi Mulyadi Sampaikan Belasungkawa
Kecelakaan Kendaraan Terjadi di Jalur Nagreg Arah Garut-Tasikmalaya
Polresta Bandung Ungkap Produksi Uang Palsu Rp300 Juta, Dua Kakak Beradik Diamankan

Berita Terkait

Kamis, 24 September 2026 - 19:00 WIB

FIFA ASEAN Cup 2026 di Si Jalak Harupat, Pelajar Nonton Gratis

Kamis, 24 September 2026 - 07:00 WIB

Harga Cabai Rawit Merah di Bandung Tembus Rp100 Ribu per Kg, Pedagang Ungkap Penyebabnya

Rabu, 23 September 2026 - 15:00 WIB

Farhan Tegaskan Fasilitas Kesehatan di Bandung Tak Boleh Tolak Pasien Bergejala Flu

Rabu, 23 September 2026 - 14:00 WIB

Macet Panjang di Soekarno-Hatta Bandung, Farhan Soroti Kontraktor

Rabu, 23 September 2026 - 12:00 WIB

Pemkot Bandung Kaji Ulang Investasi Revitalisasi Pasar Baru Rp800 Miliar

Berita Terbaru

Stadion Si Jalak Harupat di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, menjadi salah satu calon venue Piala Dunia U20 2021. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/nz

Bandung Raya

FIFA ASEAN Cup 2026 di Si Jalak Harupat, Pelajar Nonton Gratis

Kamis, 24 Sep 2026 - 19:00 WIB

Gubernur Jabar saat menghadiri peringatan Hari Olahraga Nasional (HAORNAS) ke-43 Tahun 2026 di Lapangan Sport Arcamanik, Kota Bandung, Selasa (22/9/2026).

Jawa Barat

HAORNAS ke-43, Dedi Mulyadi Tekankan Sportivitas dan Kejujuran

Kamis, 24 Sep 2026 - 06:00 WIB