7 Jam Sehari di HP, Remaja Lebih Mudah Alami Gangguan Makan

Selasa, 24 Maret 2026 - 08:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Remaja sedang menggunakan ponsel pintar, (Freepik)

Ilustrasi Remaja sedang menggunakan ponsel pintar, (Freepik)

Kabar Pajajaran – Ponsel pintar kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan remaja. Mereka tidak lagi sekadar menggunakan perangkat ini untuk berkomunikasi, tetapi juga menjadikannya sebagai “tas sekolah digital” untuk berinteraksi, mengikuti tren, hingga memantau pola makan dan aktivitas fisik.

Namun, di balik kemudahan tersebut, para peneliti menemukan ancaman serius terhadap kesehatan mental remaja.

Studi Ungkap Risiko Gangguan Makan

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Para peneliti dari King’s College London menganalisis 35 studi yang melibatkan lebih dari 52 ribu responden dengan rata-rata usia 17 tahun. Hasilnya menunjukkan bahwa penggunaan ponsel secara kompulsif berkaitan erat dengan gangguan makan, ketidakpuasan terhadap bentuk tubuh, serta perilaku makan berlebihan akibat dorongan emosional.

Laporan yang dipublikasikan dalam JMIR Mental Health ini menegaskan adanya hubungan konsisten antara penggunaan ponsel bermasalah dan tingginya skor gejala gangguan makan di berbagai negara.

Remaja Rentan Terjebak Perbandingan Sosial

Remaja berada dalam fase penting pembentukan jati diri. Pada tahap ini, mereka активно membandingkan diri dengan orang lain untuk memahami identitasnya.

Paparan konten di ponsel, terutama media sosial, mempercepat proses perbandingan ini. Remaja terus melihat standar tubuh “ideal” yang sering kali tidak realistis. Akibatnya, mereka mudah merasa tidak puas dengan penampilan sendiri.

Dr. Johanna Keeler menjelaskan bahwa paparan berulang terhadap citra ideal dapat menurunkan rasa percaya diri dan memicu gangguan makan.

Fenomena Kecanduan Ponsel Kian Meningkat

Para peneliti mencatat sekitar satu dari empat remaja mengalami Problematic Smartphone Use (PSU), yaitu kondisi ketergantungan terhadap ponsel yang menyerupai kecanduan perilaku.

Remaja dengan PSU cenderung merasa cemas saat jauh dari ponsel dan kesulitan mengurangi waktu penggunaannya. Kondisi ini memperbesar risiko paparan konten yang memicu gangguan makan.

Batas Aman Penggunaan: Tujuh Jam Jadi Titik Kritis

Penelitian ini juga menyoroti durasi penggunaan ponsel sebagai faktor penting.

Remaja yang menggunakan ponsel selama tujuh jam atau lebih setiap hari memiliki risiko jauh lebih tinggi mengalami gejala gangguan makan dibandingkan mereka yang hanya menggunakan sekitar dua jam. Sementara itu, penggunaan tiga hingga enam jam tidak menunjukkan lonjakan risiko yang signifikan.

Temuan ini menegaskan bahwa risiko meningkat tajam ketika penggunaan sudah mencapai level ekstrem.

Konten Digital Bisa Jadi “Senjata Makan Tuan”

Tidak hanya durasi, jenis konten yang dikonsumsi juga berperan besar.

Aplikasi pelacak kalori dan kebugaran yang seharusnya membantu gaya hidup sehat justru dapat memicu perilaku obsesif. Fitur seperti target harian, notifikasi, dan sistem gamifikasi mendorong pengguna untuk terus memantau tubuh dan makanan secara berlebihan.

Di sisi lain, algoritma media sosial memperkuat masalah ini. Sistem akan terus menampilkan konten serupa berdasarkan interaksi pengguna. Remaja yang mulai merasa tidak percaya diri akan semakin sering melihat konten tubuh ideal, diet ketat, hingga olahraga ekstrem.

Profesor Ben Carter menegaskan bahwa penggunaan ponsel berlebihan berkaitan dengan rendahnya kepuasan tubuh dan perubahan perilaku makan, bahkan pada individu tanpa diagnosis gangguan makan.

Emosi Labil dan Gangguan Tidur Perburuk Kondisi

Remaja sering menggunakan ponsel sebagai pelarian dari stres dan emosi negatif. Sayangnya, kebiasaan ini justru memperburuk kondisi mental mereka.

Penggunaan ponsel secara kompulsif mengurangi kemampuan mengelola emosi dan meningkatkan paparan konten yang memicu rasa minder.

Selain itu, penggunaan ponsel di malam hari mengganggu kualitas tidur. Kurang tidur dapat meningkatkan stres emosional dan memperburuk pola makan tidak sehat. Kondisi ini menciptakan lingkaran masalah yang sulit diputus.

Edukasi Digital Jadi Kunci Pencegahan

Para peneliti menekankan pentingnya edukasi penggunaan ponsel dalam program pencegahan gangguan makan. Mereka tidak menyarankan pelarangan total, tetapi mendorong pola penggunaan yang lebih sehat dan terkontrol.

Dengan memahami risiko di balik layar, orang tua, sekolah, dan remaja dapat bekerja sama untuk menjaga kesehatan mental generasi muda di era digital. ***(Chq)

 

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Harga Emas Pegadaian Hari Ini Tetap Stabil, Antam Bertahan di Rp2,885 Juta per Gram
Peabo Bryson Meninggal Dunia di Usia 75 Tahun, Dunia Musik Kehilangan Suara Emas Disney
Era Baru Debt Collector AI, Warga Mulai Diteror Telepon Robot
Catat Tanggalnya! 9 Fenomena Langit Spektakuler Akan Hiasi Langit Juni 2026
Indonesia Nomor Satu! Warganya Paling Takut Lapangan Kerja Hilang karena AI
Cek Kalender! Awal Juni 2026 Langsung Libur 3 Hari Berturut-turut
Dari Viral di TikTok hingga Telinga Menteri, Lagu ‘My Little Bolu Ketan’ Bikin Bahlil Penasaran
Instagram, Facebook, dan WhatsApp Berbayar? Ini Penjelasan Lengkap dari Meta

Berita Terkait

Kamis, 4 Juni 2026 - 09:00 WIB

Harga Emas Pegadaian Hari Ini Tetap Stabil, Antam Bertahan di Rp2,885 Juta per Gram

Rabu, 3 Juni 2026 - 19:00 WIB

Peabo Bryson Meninggal Dunia di Usia 75 Tahun, Dunia Musik Kehilangan Suara Emas Disney

Selasa, 2 Juni 2026 - 07:00 WIB

Era Baru Debt Collector AI, Warga Mulai Diteror Telepon Robot

Selasa, 2 Juni 2026 - 06:00 WIB

Catat Tanggalnya! 9 Fenomena Langit Spektakuler Akan Hiasi Langit Juni 2026

Senin, 1 Juni 2026 - 20:30 WIB

Indonesia Nomor Satu! Warganya Paling Takut Lapangan Kerja Hilang karena AI

Berita Terbaru

Foto: Wakil Menteri Imigrasi dan Permasyarakatan (Wamen Imipas), Silmy Karim

Nasional

Wamen Imipas Serahkan Diri ke KPK Usai OTT Imigrasi Jakbar

Kamis, 4 Jun 2026 - 12:00 WIB

Pemerintah Kota Bandung mencatat sebanyak 35 dari 55 TPS di Kota Bandung mengalami kelebihan kapasitas yang diakibatkan oleh permasalahan yang berada di TPA Sarimukti. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/foc.

Bandung Raya

Pemkot Bandung Siapkan Langkah Alternatif Hadapi Krisis Sampah

Kamis, 4 Jun 2026 - 11:00 WIB