Dentuman di Bandung Ternyata Berasal dari Erupsi Gunung Anak Krakatau

Senin, 7 September 2026 - 10:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Peta Gunung di Indonesia (Tangkapan Layar Magma Indonesia)

Ilustrasi Peta Gunung di Indonesia (Tangkapan Layar Magma Indonesia)

BANDUNG – Dentuman dan suara gemuruh yang terdengar di Bandung Raya serta sejumlah wilayah Jawa Barat pada 4-5 September 2026 akhirnya mendapat penjelasan.

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengaitkan fenomena tersebut dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.

Analisis kedua lembaga menunjukkan adanya kesesuaian waktu antara letusan Gunung Anak Krakatau dengan sinyal yang terekam pada sejumlah stasiun pemantauan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kondisi atmosfer kemudian memungkinkan energi dari erupsi merambat hingga wilayah yang berjarak jauh dari sumber letusan.

Badan Geologi Temukan Kesesuaian Waktu

Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menjelaskan bahwa pihaknya menemukan hubungan kuat antara aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau dan sinyal yang tercatat di stasiun pemantauan.

Menurut Lana, kesesuaian waktu tersebut memperkuat dugaan bahwa dentuman yang dirasakan masyarakat Bandung Raya berasal dari gelombang akustik akibat erupsi.

Gelombang tersebut memiliki frekuensi rendah sehingga dapat menempuh jarak yang cukup jauh ketika kondisi atmosfer mendukung.

Masyarakat kemudian dapat menangkap energi gelombang itu dalam bentuk suara dentuman, gemuruh, bahkan getaran pada sejumlah benda seperti kaca dan pintu.

Fenomena Serupa Pernah Terjadi

Lana mengatakan fenomena suara erupsi yang terdengar hingga wilayah jauh bukan kejadian baru.

Erupsi Gunung Kelud, misalnya, pernah menghasilkan suara yang terdengar hingga wilayah Jawa Tengah.

Fenomena serupa juga terjadi ketika Gunung Lewotobi mengalami erupsi. Suara letusan tersebut dilaporkan terdengar sampai Maumere dan Pulau Alor.

Karena itu, jarak yang cukup jauh dari sumber erupsi tidak serta-merta menutup kemungkinan suara letusan terdengar di wilayah lain.

BMKG Analisis Gangguan Magnet Bumi

BMKG juga melakukan analisis terhadap fenomena dentuman atau skyquake yang dirasakan masyarakat.

Tim BMKG memeriksa sejumlah data, mulai dari aktivitas magnet bumi, petir, hingga dinamika atmosfer.

Hasil pemantauan menunjukkan adanya gangguan pada data magnet yang terekam di stasiun Geofisika Lampung Selatan, Serang, Sukabumi, dan Tretes.

Gangguan tersebut muncul pada waktu yang berdekatan dengan aktivitas letusan Gunung Anak Krakatau.

Data tersebut memperkuat hubungan antara aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau dengan fenomena dentuman yang terdengar di sejumlah wilayah.

Angin Membelokkan Gelombang Suara

Selain mencermati data magnetik, BMKG juga mempelajari kondisi atmosfer di sepanjang jalur antara Gunung Anak Krakatau dan Bandung.

Hasil pemodelan menunjukkan adanya perubahan arah dan kecepatan angin pada berbagai lapisan atmosfer.

Kondisi tersebut dapat membelokkan gelombang suara ke arah atas atau upward refraction.

Dengan mekanisme itu, gelombang suara tidak selalu bergerak lurus mengikuti permukaan bumi.

Sebagian energi suara dapat naik ke lapisan atmosfer tertentu, kemudian kembali turun dan mencapai permukaan pada wilayah yang lebih jauh.

Mengapa Bandung Bisa Mendengar Dentuman?

Fenomena tersebut juga menjelaskan perbedaan intensitas suara di sejumlah wilayah.

Daerah yang lebih dekat dengan sumber erupsi, seperti sebagian wilayah Banten, Jakarta, dan Bogor, justru dapat mengalami kondisi yang disebut acoustic shadow zone.

Wilayah tersebut berada pada zona bayangan suara akibat pembelokan gelombang di atmosfer. Akibatnya, suara erupsi bisa terdengar lebih lemah atau bahkan tidak terdengar.

Sementara itu, energi akustik yang bergerak lebih jauh ke arah timur dapat kembali mencapai permukaan di sekitar Bandung.

Proses refraksi dan hamburan atmosfer kemudian membuat sebagian energi gelombang terdengar sebagai dentuman di wilayah Bandung Raya.

Abu Vulkanik dan Suara Memiliki Jalur Berbeda

BMKG juga menemukan bahwa perubahan angin pada berbagai ketinggian memberikan pengaruh berbeda terhadap abu vulkanik dan gelombang suara.

Abu vulkanik mengikuti pola pergerakan atmosfer tertentu, sedangkan gelombang suara merespons perubahan struktur angin dan suhu di setiap lapisan.

Perbedaan tersebut menjelaskan mengapa sebaran abu vulkanik dan jangkauan suara erupsi tidak selalu mengikuti pola yang sama.

Pemodelan atmosfer membantu BMKG menggambarkan bagaimana gelombang suara bergerak dari kawasan Gunung Anak Krakatau menuju wilayah Jawa Barat.

BMKG Kaitkan Dentuman dengan Erupsi Anak Krakatau

Setelah menggabungkan data pemantauan instrumen dan hasil pemodelan atmosfer, BMKG menyimpulkan bahwa aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau menjadi sumber yang paling kuat terkait dentuman yang terdengar pada dini hari tersebut.

Dengan demikian, suara gemuruh yang membuat masyarakat Bandung Raya bertanya-tanya memiliki kaitan dengan energi yang dilepaskan saat Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi.

Fenomena ini sekaligus menunjukkan bagaimana aktivitas gunung api dapat menghasilkan gelombang akustik yang menjangkau wilayah sangat jauh ketika kondisi atmosfer mendukung. ***(Chq)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Dedi Mulyadi Ingatkan Warga Jabar Hindari Judol dan Pinjol, Ini Alasannya
Mobil Tabrak Pohon dan Kursi Taman di Jalan Banceuy Bandung, Tiga Orang Luka
Musim Hujan Tiba, BPBD Bandung Petakan Wilayah Rawan Banjir dan Longsor
Jabar Perluas Kerja Sama dengan Korea Selatan, Bidik Investasi dan Perdagangan
WJES 2026 Hasilkan 45 Rekomendasi untuk Perkuat Ekonomi Jawa Barat
Ekspor Jabar Tembus USD31,22 Miliar, Neraca Perdagangan Surplus USD22,09 Miliar
Dedi Mulyadi Luncurkan Jabar Merawat, Warga Bisa Adukan Pelayanan Rumah Sakit
Pariwisata Jawa Barat Melonjak, Bandara Kertajati Kebanjiran Penumpang Umrah

Berita Terkait

Kamis, 5 November 2026 - 12:00 WIB

Dedi Mulyadi Ingatkan Warga Jabar Hindari Judol dan Pinjol, Ini Alasannya

Kamis, 5 November 2026 - 10:00 WIB

Mobil Tabrak Pohon dan Kursi Taman di Jalan Banceuy Bandung, Tiga Orang Luka

Kamis, 5 November 2026 - 09:00 WIB

Musim Hujan Tiba, BPBD Bandung Petakan Wilayah Rawan Banjir dan Longsor

Kamis, 5 November 2026 - 08:20 WIB

Jabar Perluas Kerja Sama dengan Korea Selatan, Bidik Investasi dan Perdagangan

Rabu, 4 November 2026 - 12:00 WIB

WJES 2026 Hasilkan 45 Rekomendasi untuk Perkuat Ekonomi Jawa Barat

Berita Terbaru