Rupiah Tembus Rp 18.201 per Dolar AS, Ekonom Ingatkan Ancaman Inflasi dan PHK

Senin, 8 Juni 2026 - 15:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Nilai Tukar Rupiah

Ilustrasi Nilai Tukar Rupiah

Rupiah Terus Melemah di Perdagangan Senin

KABAR PAJAJARAN – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan pada perdagangan Senin (8/6/2026). Hingga pukul 13.48 WIB, rupiah berada di level Rp 18.201 per dolar Amerika Serikat (AS) atau melemah 165 poin dibandingkan posisi sebelumnya.

Sejak pembukaan perdagangan, mata uang Garuda bergerak di zona merah. Bahkan, rupiah sempat menyentuh level Rp 18.170 per dolar AS sebelum kembali berfluktuasi hingga siang hari.

Pelemahan tersebut memicu perhatian pelaku pasar karena terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan sejumlah sentimen domestik yang membebani kepercayaan investor.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pelemahan Rupiah Ancam Daya Beli Masyarakat

Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjandra, menilai depresiasi rupiah dapat memberikan dampak langsung terhadap perekonomian nasional.

Menurut dia, pelemahan nilai tukar berpotensi mendorong kenaikan harga barang konsumsi dan biaya produksi. Kondisi itu dapat meningkatkan inflasi dan mengurangi daya beli masyarakat.

Selain itu, perusahaan yang memiliki kewajiban dalam mata uang dolar AS juga menghadapi beban yang lebih berat. Jika tekanan ekonomi berlangsung lama, dunia usaha berpotensi melakukan efisiensi, termasuk pengurangan tenaga kerja.

” Pelemahan rupiah berimbas pada kenaikan harga konsumsi dan biaya produksi sehingga memicu inflasi. Kondisi itu juga menekan daya beli, meningkatkan beban utang dolar AS, serta membuka potensi PHK,” kata Ariston.

Faktor Global Masih Menjadi Pemicu Utama

Ariston menjelaskan, pasar tidak hanya melihat faktor domestik dalam pergerakan rupiah. Penguatan dolar AS masih menjadi penyebab utama yang menekan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.

Di sisi lain, meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah ikut memperburuk sentimen pasar. Konflik tersebut mendorong harga minyak mentah dunia naik dan meningkatkan kekhawatiran investor terhadap prospek ekonomi global.

Ia menegaskan, tekanan yang terjadi saat ini tidak hanya menimpa rupiah. Sejumlah mata uang lain juga mengalami pelemahan terhadap dolar AS.

Sentimen Domestik Ikut Menambah Tekanan

Meski faktor eksternal mendominasi, Ariston menilai sejumlah isu dalam negeri turut memperbesar tekanan terhadap rupiah.

Pasar mencermati arus keluar investor asing dari pasar saham Indonesia. Penyesuaian indeks global, termasuk yang dilakukan MSCI, turut memengaruhi aliran modal keluar dari pasar domestik.

Selain itu, investor juga menyoroti beberapa program pemerintah yang membutuhkan dukungan anggaran besar. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes) menjadi dua kebijakan yang banyak masuk dalam perhatian pelaku pasar.

Menurut Ariston, investor lebih fokus pada dampak fiskal jangka panjang daripada tujuan program tersebut.

Danantara Masih Menjadi Sorotan Investor

Selain MBG dan Kopdes, investor juga terus memantau perkembangan Danantara. Hingga saat ini, pasar belum melihat dampak signifikan dari pembentukan lembaga tersebut terhadap perekonomian nasional maupun peningkatan kinerja BUMN.

Pelaku pasar juga masih mengevaluasi sejumlah kebijakan yang berkaitan dengan pengelolaan aset negara dan rencana ekspor melalui skema yang melibatkan Danantara.

Kondisi itu membuat investor cenderung bersikap hati-hati dalam menempatkan dana di pasar keuangan Indonesia.

Pemerintah Diminta Perbaiki Sentimen Pasar

Ariston menilai pemerintah perlu memperkuat kepercayaan investor untuk meredam tekanan terhadap rupiah.

Ia mendorong pemerintah memastikan seluruh program strategis berjalan dengan tata kelola yang transparan, akuntabel, dan mampu memberikan manfaat ekonomi yang terukur.

Selain itu, pemerintah perlu memperbesar pasokan devisa melalui peningkatan ekspor, penguatan sektor pariwisata, serta menarik investasi asing langsung dengan memberikan kepastian hukum dan kebijakan yang kompetitif.

BI Perlu Siap Menjaga Stabilitas Rupiah

Dalam jangka pendek, Ariston menilai Bank Indonesia harus tetap aktif menjaga stabilitas nilai tukar melalui langkah-langkah yang diperlukan di pasar valuta asing.

Sementara itu, pemerintah perlu fokus memperbaiki persepsi pasar terhadap berbagai kebijakan ekonomi yang menjadi sorotan investor.

Jika tekanan terhadap rupiah terus berlanjut dan bergerak jauh dari asumsi nilai tukar dalam APBN, pemerintah berpotensi melakukan penyesuaian terhadap postur anggaran negara.

Meski demikian, pelemahan rupiah juga dapat memberikan peluang bagi sektor ekspor. Pendapatan berbasis dolar AS berpotensi meningkat dan membantu menambah devisa negara apabila pelaku usaha mampu memanfaatkan momentum tersebut. ***(Ant)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

BMKG: Puncak Musim Kemarau 2026 Dominan Terjadi pada Agustus
Pengguna Pertamax Harus Tahu, Harga BBM Ini Mendadak Melonjak Mulai 10 Juni
Tol Getaci Siap Dilelang Ulang, Kemenkeu Turun Tangan Biayai Persiapan Proyek
Operasi Patuh 2026 Ditunda, Ini Alasannya
Gempa M 7,7 Guncang Sulawesi Utara, BMKG Keluarkan Peringatan Tsunami untuk Sejumlah Wilayah
Harga Cabai Turun Drastis, Ini Daftar Lengkap Harga Pangan Terbaru
Kementan Dorong MBG Serap Telur Peternak Lokal, Upaya Angkat Harga di Tingkat Kandang
Isu Reshuffle Menguat, Nama Chatib Basri Disebut Masuk Bursa Calon Menkeu

Berita Terkait

Rabu, 10 Juni 2026 - 14:00 WIB

BMKG: Puncak Musim Kemarau 2026 Dominan Terjadi pada Agustus

Rabu, 10 Juni 2026 - 06:36 WIB

Pengguna Pertamax Harus Tahu, Harga BBM Ini Mendadak Melonjak Mulai 10 Juni

Senin, 8 Juni 2026 - 17:00 WIB

Tol Getaci Siap Dilelang Ulang, Kemenkeu Turun Tangan Biayai Persiapan Proyek

Senin, 8 Juni 2026 - 15:00 WIB

Rupiah Tembus Rp 18.201 per Dolar AS, Ekonom Ingatkan Ancaman Inflasi dan PHK

Senin, 8 Juni 2026 - 08:09 WIB

Operasi Patuh 2026 Ditunda, Ini Alasannya

Berita Terbaru

Konferensi Pers BMKG terkait perkembangan musim kemarau 2026 (Foto: dok. tangkapan layar YouTube BMKG)

Nasional

BMKG: Puncak Musim Kemarau 2026 Dominan Terjadi pada Agustus

Rabu, 10 Jun 2026 - 14:00 WIB