Rupiah Melemah ke Rp18.000, Ini Faktor Penyebab Utamanya

Sabtu, 6 Juni 2026 - 15:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pegawai menunjukan mata uang rupiah dan dolar Amerika Serikat di Dolar Asia Money Changer, Jakarta, Senin (18/7/2022). Bisnis/Himawan L Nugraha

Pegawai menunjukan mata uang rupiah dan dolar Amerika Serikat di Dolar Asia Money Changer, Jakarta, Senin (18/7/2022). Bisnis/Himawan L Nugraha

KABAR PAJAJARAN – Nilai tukar dolar Amerika Serikat terus menguat terhadap rupiah hingga menembus level Rp18.000. Tekanan ini muncul seiring meningkatnya ketidakpastian global dan derasnya arus modal keluar dari negara berkembang.

Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti menjelaskan bahwa pelemahan rupiah tidak berdiri sendiri. Ia menilai ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat dan mendorong harga minyak tetap tinggi. Kondisi ini kemudian memicu tekanan inflasi global serta mempercepat keluarnya dana dari pasar negara berkembang.

Selain faktor eksternal, Destry menegaskan tekanan juga datang dari dalam negeri. Ia mencatat permintaan dolar masih tinggi, terutama untuk kebutuhan repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Selain itu kebutuhan domestik masih cukup besar sesuai dengan pola repatriasi dividen dan pembayaran Utang Luar Negeri (ULN),” ujar Destry dalam keterangan tertulis, Kamis (4/6/2026).

Di sisi lain, Destry menyebut pelemahan rupiah juga terjadi di banyak negara kawasan. Secara year to date, rupiah tercatat melemah sekitar 7,44%. Meski begitu, ia memastikan cadangan devisa tetap solid di level US$146,2 miliar pada akhir April 2026.

BI Jaga Stabilitas Lewat Intervensi dan Operasi Pasar

Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan global. Gubernur dan jajaran Bank Indonesia memperkuat langkah intervensi di pasar valas agar mekanisme pasar tetap berjalan sehat.

BI memperluas intervensi melalui berbagai instrumen, termasuk transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot, serta Domestic NDF (DNDF) di pasar domestik. Selain itu, BI juga melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder untuk menjaga keseimbangan likuiditas.

BI juga meningkatkan daya tarik instrumen moneter agar arus modal asing tetap masuk ke aset domestik. Langkah ini bertujuan menahan tekanan lanjutan terhadap rupiah.

Dorong Transaksi Mata Uang Lokal untuk Kurangi Ketergantungan Dolar

Selain intervensi pasar, BI juga memperluas penggunaan Local Currency Transaction (LCT) dalam perdagangan bilateral. Skema ini membantu mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS sekaligus menekan risiko volatilitas nilai tukar.

BI mencatat transaksi LCT terus meningkat. Pada April 2026, nilai transaksi mencapai sekitar US$22,7 miliar. Sebagai perbandingan, total transaksi sepanjang tahun sebelumnya hanya sekitar US$25,7 miliar.

Skema LCT saat ini sudah berjalan dengan sejumlah mitra dagang, termasuk China, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab. BI menilai perluasan kerja sama ini akan memperkuat stabilitas eksternal Indonesia dalam jangka menengah.

Tekanan Rupiah Masih Dipengaruhi Faktor Global dan Domestik

Secara keseluruhan, BI menilai tekanan terhadap rupiah berasal dari kombinasi faktor global dan domestik. Ketegangan geopolitik, harga minyak tinggi, serta arus modal keluar menambah tekanan dari sisi eksternal.

Sementara dari dalam negeri, kebutuhan dolar untuk pembayaran kewajiban luar negeri dan repatriasi dividen masih menjadi faktor dominan yang memengaruhi permintaan valas.

Meski demikian, BI menegaskan akan terus hadir di pasar dan menjaga stabilitas rupiah agar tetap sejalan dengan fundamental ekonomi Indonesia.

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Defisit APBN Mei 2026 Tercatat 0,70%, Pemerintah Pastikan Fiskal Tetap Stabil
Operasi Patuh 2026 Dimulai, Ini Daftar Lengkap Denda Pelanggaran Lalu Lintas
Bahlil Pastikan Harga BBM dan Elpiji Bersubsidi Tetap hingga Akhir 2026
Kurs Rupiah Melemah dan Harga Minyak Naik, APBN 2026 Terancam Tertekan
KPK Bongkar Kasus Pemerasan WNA dari Jejak Transaksi M-Banking
Wamen Imipas Serahkan Diri ke KPK Usai OTT Imigrasi Jakbar
Operasi Patuh 2026 Resmi Digelar 8-21 Juni, Ini Pelanggaran yang Jadi Target
Rupiah Ambruk ke Rp18.001 per Dolar AS pagi ini, Ini Pemicu Utamanya

Berita Terkait

Sabtu, 6 Juni 2026 - 15:00 WIB

Rupiah Melemah ke Rp18.000, Ini Faktor Penyebab Utamanya

Sabtu, 6 Juni 2026 - 14:00 WIB

Defisit APBN Mei 2026 Tercatat 0,70%, Pemerintah Pastikan Fiskal Tetap Stabil

Sabtu, 6 Juni 2026 - 09:02 WIB

Bahlil Pastikan Harga BBM dan Elpiji Bersubsidi Tetap hingga Akhir 2026

Jumat, 5 Juni 2026 - 10:13 WIB

Kurs Rupiah Melemah dan Harga Minyak Naik, APBN 2026 Terancam Tertekan

Jumat, 5 Juni 2026 - 08:00 WIB

KPK Bongkar Kasus Pemerasan WNA dari Jejak Transaksi M-Banking

Berita Terbaru

Pegawai menunjukan mata uang rupiah dan dolar Amerika Serikat di Dolar Asia Money Changer, Jakarta, Senin (18/7/2022). Bisnis/Himawan L Nugraha

Nasional

Rupiah Melemah ke Rp18.000, Ini Faktor Penyebab Utamanya

Sabtu, 6 Jun 2026 - 15:00 WIB

Aktivitas pembungaan sampah di TPA Sarimukti, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. (Dok. Humas Jabar)

Bandung Raya

DLH Jabar Targetkan Optimalisasi TPA Sarimukti Dimulai 2027

Sabtu, 6 Jun 2026 - 13:00 WIB