Kurs Rupiah Melemah dan Harga Minyak Naik, APBN 2026 Terancam Tertekan

Jumat, 5 Juni 2026 - 10:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pegawai menunjukan mata uang rupiah dan dolar Amerika Serikat di Dolar Asia Money Changer, Jakarta, Senin (18/7/2022). Bisnis/Himawan L Nugraha

Pegawai menunjukan mata uang rupiah dan dolar Amerika Serikat di Dolar Asia Money Changer, Jakarta, Senin (18/7/2022). Bisnis/Himawan L Nugraha

JAKARTA, KABAR PAJAJARAN – Nilai tukar rupiah terus melemah dan kini menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Pada saat yang sama, harga minyak dunia juga terus naik akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Harga minyak mentah Brent pada Jumat (5/6/2026) mencapai 95,03 dolar AS per barel. Kondisi tersebut meningkatkan biaya impor energi Indonesia yang masih bergantung pada pasokan minyak dari luar negeri.

Pelemahan Rupiah Langsung Dongkrak Biaya Impor

Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) memperkirakan setiap pelemahan rupiah sebesar Rp250 per dolar AS dapat menambah biaya impor minyak sekitar Rp7,10 triliun.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

INDEF menggunakan asumsi dasar APBN 2026 dalam perhitungannya. Pemerintah menetapkan kurs sebesar Rp16.500 per dolar AS dan harga minyak mentah Indonesia (ICP) sebesar 70 dolar AS per barel.

Data impor minyak menunjukkan Indonesia mengimpor sekitar 405,56 juta barel minyak sepanjang 2025.

Dengan volume tersebut, kenaikan harga minyak sebesar 1 dolar AS per barel dapat menambah biaya impor sekitar Rp6,69 triliun. Sementara itu, pelemahan kurs Rp250 per dolar AS dapat menambah tagihan impor sekitar Rp7,10 triliun.

Karena itu, pergerakan kurs rupiah sangat memengaruhi kebutuhan anggaran untuk impor energi.

Skenario Kurs Rp18.000 dan Minyak 90 Dolar AS

INDEF menyusun sejumlah simulasi untuk mengukur dampak kurs dan harga minyak terhadap APBN.

Dalam skenario kurs Rp18.000 per dolar AS dan harga minyak 90 dolar AS per barel, biaya impor minyak dapat meningkat sekitar Rp188,58 triliun dibandingkan asumsi dasar APBN.

Kenaikan tersebut berpotensi mendorong defisit APBN dari 2,68 persen menjadi sekitar 3,41 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Angka itu sudah melampaui batas 3 persen yang selama ini menjadi acuan pengelolaan fiskal.

Harga Minyak 95 Dolar AS Perbesar Tekanan Fiskal

Tekanan terhadap APBN akan semakin besar jika harga minyak bertahan di level 95 dolar AS per barel.

Dalam skenario tersebut, biaya impor minyak dapat bertambah sekitar Rp225,08 triliun dibandingkan baseline APBN 2026.

Akibatnya, defisit APBN berpotensi naik menjadi sekitar 3,56 persen terhadap PDB.

Kondisi itu menunjukkan bahwa kenaikan harga energi global dapat memperburuk dampak pelemahan rupiah terhadap keuangan negara.

Risiko Lebih Besar Jika Minyak Sentuh 100 Dolar AS

INDEF juga menghitung skenario harga minyak 100 dolar AS per barel.

Jika kurs rupiah tetap berada di level Rp18.000 per dolar AS, biaya impor minyak dapat meningkat sekitar Rp261,58 triliun.

Kondisi tersebut dapat mendorong defisit APBN hingga sekitar 3,7 persen terhadap PDB.

Angka itu jauh lebih tinggi dibandingkan target defisit APBN 2026 yang sebesar 2,68 persen terhadap PDB.

INDEF Dorong Langkah Mitigasi

INDEF menilai kondisi fiskal masih cukup aman jika harga minyak berada pada kisaran 70 hingga 80 dolar AS per barel. Risiko juga lebih terkendali jika kurs rupiah tidak jauh dari asumsi APBN.

Sebaliknya, tekanan fiskal akan meningkat ketika kurs melewati Rp17.000 per dolar AS dan harga minyak mendekati 90 dolar AS per barel.

Karena itu, INDEF meminta pemerintah memperkuat langkah mitigasi. Lembaga tersebut mendorong pengendalian subsidi energi, diversifikasi pasokan energi, dan penguatan cadangan devisa.

Selain itu, INDEF juga mendorong penyesuaian harga energi yang lebih terarah. Langkah tersebut dapat membantu mengurangi tekanan terhadap APBN di tengah gejolak global

Facebook Comments Box

Berita Terkait

KPK Bongkar Kasus Pemerasan WNA dari Jejak Transaksi M-Banking
Wamen Imipas Serahkan Diri ke KPK Usai OTT Imigrasi Jakbar
Operasi Patuh 2026 Resmi Digelar 8-21 Juni, Ini Pelanggaran yang Jadi Target
Rupiah Ambruk ke Rp18.001 per Dolar AS pagi ini, Ini Pemicu Utamanya
Mantan Kepala BGN Dadan Hindayana Berompi Tahanan, Kejagung Siapkan Konferensi Pers
Usai Evaluasi 1,5 Tahun, Prabowo Rombak Pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN)
Resmi Jadi Kepala BGN, Nanik S Deyang Siap Pastikan Anak Indonesia Dapat Gizi Terbaik
Harga Solar Turun Drastis di Shell dan BP, Simak Daftar Lengkapnya

Berita Terkait

Jumat, 5 Juni 2026 - 10:13 WIB

Kurs Rupiah Melemah dan Harga Minyak Naik, APBN 2026 Terancam Tertekan

Jumat, 5 Juni 2026 - 08:00 WIB

KPK Bongkar Kasus Pemerasan WNA dari Jejak Transaksi M-Banking

Kamis, 4 Juni 2026 - 12:00 WIB

Wamen Imipas Serahkan Diri ke KPK Usai OTT Imigrasi Jakbar

Kamis, 4 Juni 2026 - 10:00 WIB

Operasi Patuh 2026 Resmi Digelar 8-21 Juni, Ini Pelanggaran yang Jadi Target

Kamis, 4 Juni 2026 - 08:17 WIB

Rupiah Ambruk ke Rp18.001 per Dolar AS pagi ini, Ini Pemicu Utamanya

Berita Terbaru