Harga Solar Nonsubsidi Tembus Rp27 Ribu, Ratusan Kapal Nelayan Indramayu Berhenti Melaut

Rabu, 6 Mei 2026 - 15:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nelayan sedang bersandar di dermaga (Foto Basarnas)

Nelayan sedang bersandar di dermaga (Foto Basarnas)

INDRAMAYU, KABAR PAJAJARAN – Lonjakan harga solar nonsubsidi dari Rp16 ribu menjadi Rp27 ribu per liter mulai menekan aktivitas nelayan di Kabupaten Indramayu. Dampaknya, ratusan kapal nelayan kini memilih berhenti beroperasi dan terparkir di Pelabuhan Karangsong.

Ketua Umum Gerakan Nelayan Pantura (GNP), Kajidin, menyatakan para nelayan tidak mampu menanggung lonjakan biaya operasional akibat mahalnya bahan bakar. Menurutnya, kondisi tersebut sudah berlangsung sekitar dua bulan terakhir.

“Kenaikan harga solar nonsubsidi sangat tinggi sehingga nelayan tidak mampu membeli bahan bakar untuk melaut,” ujar Kajidin, Rabu (6/5/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Biaya Operasional Melonjak, Kapal Terpaksa Parkir

Para nelayan kini menahan kapal di pelabuhan karena biaya melaut meningkat drastis. Harga solar menjadi komponen utama pengeluaran operasional kapal, terutama bagi kapal berukuran besar yang membutuhkan konsumsi bahan bakar tinggi.

Ketua Koperasi Perikanan Laut Mina Sumitra Karangsong, Suwarto, menyebut sekitar 600 kapal biasanya beroperasi di Pelabuhan Karangsong. Dari jumlah tersebut, sekitar 300 kapal memiliki bobot di atas 30 gross ton (GT) dan menggunakan solar nonsubsidi, sementara sisanya merupakan kapal di bawah 30 GT yang masih memakai solar bersubsidi.

Namun, sejak akhir Maret 2026, lebih dari 100 kapal berbobot di atas 30 GT berhenti melaut karena tidak mampu menanggung biaya bahan bakar.

Ribuan ABK Terancam Menganggur

Setiap kapal umumnya mempekerjakan 15 hingga 17 anak buah kapal (ABK). Karena ratusan kapal tidak beroperasi, ribuan ABK kini berpotensi kehilangan pekerjaan.

Suwarto menjelaskan, sebagian kapal yang masih melaut berangkat sebelum harga solar melonjak tajam. Karena itu, biaya operasional mereka masih tertutup. Namun, kapal-kapal tersebut diperkirakan juga akan berhenti beroperasi setelah kembali ke pelabuhan.

“Kapal yang masih di laut kemungkinan tidak bisa melaut lagi setelah pulang, karena biaya operasional sudah membengkak,” katanya.

Nelayan Khawatir Dampak Berlanjut

Kondisi ini memicu kekhawatiran akan penurunan produksi tangkapan ikan dan dampaknya terhadap ekonomi pesisir. Nelayan berharap pemerintah segera menghadirkan solusi agar aktivitas melaut kembali berjalan normal dan roda ekonomi masyarakat pesisir tidak terhenti. ***(Chq)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

BMKG Ungkap Penyebab Hujan Es dan Angin Kencang yang Rusak Puluhan Rumah di Kuningan
Jabar Perluas Kerja Sama dengan Korea Selatan, Bidik Investasi dan Perdagangan
WJES 2026 Hasilkan 45 Rekomendasi untuk Perkuat Ekonomi Jawa Barat
Ekspor Jabar Tembus USD31,22 Miliar, Neraca Perdagangan Surplus USD22,09 Miliar
Dedi Mulyadi Luncurkan Jabar Merawat, Warga Bisa Adukan Pelayanan Rumah Sakit
Pariwisata Jawa Barat Melonjak, Bandara Kertajati Kebanjiran Penumpang Umrah
Krisis Air Bersih Cianjur Meluas, 7.234 KK Terdampak Kemarau 2026
Pemprov Jabar Pasang 1.185 Lampu Jalan di Priangan Timur, Anggaran Capai Rp48,3 Miliar

Berita Terkait

Kamis, 5 November 2026 - 09:44 WIB

BMKG Ungkap Penyebab Hujan Es dan Angin Kencang yang Rusak Puluhan Rumah di Kuningan

Kamis, 5 November 2026 - 08:20 WIB

Jabar Perluas Kerja Sama dengan Korea Selatan, Bidik Investasi dan Perdagangan

Rabu, 4 November 2026 - 12:00 WIB

WJES 2026 Hasilkan 45 Rekomendasi untuk Perkuat Ekonomi Jawa Barat

Rabu, 4 November 2026 - 07:00 WIB

Ekspor Jabar Tembus USD31,22 Miliar, Neraca Perdagangan Surplus USD22,09 Miliar

Selasa, 3 November 2026 - 15:00 WIB

Dedi Mulyadi Luncurkan Jabar Merawat, Warga Bisa Adukan Pelayanan Rumah Sakit

Berita Terbaru