JAKARTA, KABAR PAJAJARAN — Perbincangan soal cuaca panas yang terasa semakin menyengat ramai di media sosial, termasuk di platform X. Sejumlah warganet membagikan citra satelit Pulau Jawa yang tampak “memerah” dan menyimpulkan Mei 2026 sebagai puncak suhu panas tahun ini. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menilai kesimpulan tersebut tidak sepenuhnya tepat.
Ketua Tim Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG, Agita Vivi, menegaskan analisis suhu tidak bisa hanya bertumpu pada rata-rata bulanan. Ia menyebut masyarakat perlu melihat suhu maksimum harian yang sering kali menjadi indikator utama kondisi panas ekstrem.
Menurut Agita, suhu rata-rata Maret 2026 tercatat 27,1 derajat Celsius atau 0,4 derajat lebih tinggi dibandingkan normal klimatologis periode 1991–2020. Meski begitu, kenaikan suhu rata-rata bukan berarti puncak panas terjadi pada Mei.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Puncak Panas Diprediksi Agustus–September
BMKG justru memproyeksikan suhu maksimum tertinggi berpotensi terjadi pada puncak musim kemarau. Agita menyampaikan suhu ekstrem di Indonesia biasanya berlangsung sepanjang musim kemarau dan dapat memuncak pada Agustus hingga September 2026.
Sebagai gambaran, catatan iklim menunjukkan suhu maksimum tertinggi pada 2025 mencapai 38,8 derajat Celsius di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Data tersebut memperkuat pola bahwa suhu maksimum sering muncul pada pertengahan hingga akhir musim kemarau, bukan hanya pada awal kemarau di bulan Mei.
Sejumlah Wilayah Sudah Catat Suhu Tinggi
Pemantauan BMKG hingga akhir April 2026 menunjukkan beberapa wilayah telah mencatat suhu maksimum cukup tinggi. Sumatera Utara mencapai 36,8 derajat Celsius, Aceh 36,6 derajat Celsius, dan Banten 36,2 derajat Celsius. Suhu maksimum di DKI Jakarta juga menyentuh 35 derajat Celsius.
BMKG menjelaskan sejumlah faktor memicu peningkatan suhu tersebut. Posisi semu Matahari yang berada di sekitar lintang utara khatulistiwa meningkatkan intensitas radiasi matahari di Indonesia. Kondisi langit cerah pada pagi hingga siang hari memperkuat pemanasan permukaan karena minim tutupan awan.
Selain itu, dominasi angin timuran dari Australia yang bersifat kering menghambat pembentukan awan, terutama di wilayah selatan khatulistiwa. Kondisi ini membuat panas matahari lebih mudah mencapai permukaan bumi.
BMKG mengimbau masyarakat tidak mudah terpaku pada satu periode tertentu sebagai puncak panas. Lembaga itu menekankan suhu tinggi masih berpotensi terjadi dalam beberapa bulan ke depan seiring memasuki puncak musim kemarau. ***(Ant)






