Polisi Ungkap Kecepatan KA Argo Bromo Anggrek Saat Detik-Detik Kecelakaan

Selasa, 28 April 2026 - 17:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Kereta Api Argo Bromo Anggrek (Wikipedia)

Ilustrasi Kereta Api Argo Bromo Anggrek (Wikipedia)

BEKASI, KABAR PAJAJARAN — Kecepatan tinggi KA Argo Bromo Anggrek menjadi fokus utama penyelidikan kecelakaan kereta yang terjadi di Stasiun Bekasi Timur. Korps Lalu Lintas Polri menilai faktor kecepatan sangat menentukan dampak fatal tabrakan yang menewaskan 15 orang.

Penyidik menggunakan metode Traffic Accident Analysis (TAA) untuk merekonstruksi detik-detik sebelum benturan. Hasil sementara menunjukkan kereta jarak jauh tersebut melaju sekitar 110 km/jam saat memasuki jalur yang ternyata masih terganggu akibat insiden sebelumnya.

Kasi Pullahjianta Subdit Laka Ditgakkum Korlantas, Sandhi Wiedyanoe, menjelaskan kecepatan tersebut sebenarnya masih berada dalam rentang operasional perjalanan antarkota. Namun dalam kondisi darurat dan keterbatasan informasi di lintasan, jarak pengereman menjadi sangat terbatas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut analisis awal, kereta dengan kecepatan di atas 100 km/jam membutuhkan jarak pengereman sangat panjang sebelum berhenti total. Ketika KA Argo Bromo Anggrek menerima informasi yang tidak lengkap mengenai gangguan di jalur, ruang reaksi masinis diduga menjadi sangat sempit.

“Kecepatan tinggi membuat waktu respons semakin pendek. Begitu masinis mengetahui ada hambatan di depan, jarak yang tersedia untuk mengurangi laju sudah tidak cukup,” ujar Sandhi.

Insiden bermula dari taksi listrik yang berhenti di perlintasan karena gangguan kelistrikan dan tertemper KRL. Gangguan tersebut membuat perjalanan kereta lain tertahan di stasiun. Saat proses evakuasi belum sepenuhnya selesai, KA Argo Bromo Anggrek melintas dan tabrakan pun terjadi.

Pihak kepolisian menilai kombinasi antara kecepatan tinggi, keterlambatan informasi, serta kondisi lintasan yang belum sepenuhnya steril menjadi rangkaian faktor yang memperparah dampak kecelakaan.

Polda Metro Jaya memastikan korban meninggal dunia mencapai 15 orang, sementara puluhan lainnya mengalami luka. Investigasi lanjutan masih berlangsung untuk mengevaluasi sistem komunikasi dan prosedur keselamatan perjalanan kereta di jalur padat Jabodetabek. ***(Ant)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Gempa NTT M 7,7 Tewaskan 53 Orang, Pemerintah Percepat Penanganan Korban
Pemerintah Siapkan Pembatasan Pertalite, Ini Kelompok yang Bisa Kehilangan Subsidi
Menkeu Temukan Sejumlah Masalah dalam Penggunaan Anggaran Program MBG
Tarif Listrik 10-16 Agustus 2026 Tetap, Ini Daftar Harga per kWh Semua Golongan
Kasus Keracunan MBG Berulang, BGN Janji Perketat Pengawasan dan Targetkan Nol Insiden
BMKG: El Nino 2026 Berpotensi Naik ke Level Sangat Kuat, Jawa hingga Bali Hadapi Kemarau Panjang
Kemenhaj Ancam Cabut Izin Travel Umrah yang Telantarkan Jemaah
BMKG Mulai Operasi Modifikasi Cuaca, Hujan Buatan Dikerahkan Cegah Karhutla dan Kekeringan

Berita Terkait

Senin, 17 Agustus 2026 - 09:10 WIB

Gempa NTT M 7,7 Tewaskan 53 Orang, Pemerintah Percepat Penanganan Korban

Kamis, 13 Agustus 2026 - 12:46 WIB

Pemerintah Siapkan Pembatasan Pertalite, Ini Kelompok yang Bisa Kehilangan Subsidi

Kamis, 13 Agustus 2026 - 11:04 WIB

Menkeu Temukan Sejumlah Masalah dalam Penggunaan Anggaran Program MBG

Senin, 10 Agustus 2026 - 14:00 WIB

Tarif Listrik 10-16 Agustus 2026 Tetap, Ini Daftar Harga per kWh Semua Golongan

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 09:07 WIB

Kasus Keracunan MBG Berulang, BGN Janji Perketat Pengawasan dan Targetkan Nol Insiden

Berita Terbaru