BEKASI, KABAR PAJAJARAN — Kecepatan tinggi KA Argo Bromo Anggrek menjadi fokus utama penyelidikan kecelakaan kereta yang terjadi di Stasiun Bekasi Timur. Korps Lalu Lintas Polri menilai faktor kecepatan sangat menentukan dampak fatal tabrakan yang menewaskan 15 orang.
Penyidik menggunakan metode Traffic Accident Analysis (TAA) untuk merekonstruksi detik-detik sebelum benturan. Hasil sementara menunjukkan kereta jarak jauh tersebut melaju sekitar 110 km/jam saat memasuki jalur yang ternyata masih terganggu akibat insiden sebelumnya.
Kasi Pullahjianta Subdit Laka Ditgakkum Korlantas, Sandhi Wiedyanoe, menjelaskan kecepatan tersebut sebenarnya masih berada dalam rentang operasional perjalanan antarkota. Namun dalam kondisi darurat dan keterbatasan informasi di lintasan, jarak pengereman menjadi sangat terbatas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut analisis awal, kereta dengan kecepatan di atas 100 km/jam membutuhkan jarak pengereman sangat panjang sebelum berhenti total. Ketika KA Argo Bromo Anggrek menerima informasi yang tidak lengkap mengenai gangguan di jalur, ruang reaksi masinis diduga menjadi sangat sempit.
“Kecepatan tinggi membuat waktu respons semakin pendek. Begitu masinis mengetahui ada hambatan di depan, jarak yang tersedia untuk mengurangi laju sudah tidak cukup,” ujar Sandhi.
Insiden bermula dari taksi listrik yang berhenti di perlintasan karena gangguan kelistrikan dan tertemper KRL. Gangguan tersebut membuat perjalanan kereta lain tertahan di stasiun. Saat proses evakuasi belum sepenuhnya selesai, KA Argo Bromo Anggrek melintas dan tabrakan pun terjadi.
Pihak kepolisian menilai kombinasi antara kecepatan tinggi, keterlambatan informasi, serta kondisi lintasan yang belum sepenuhnya steril menjadi rangkaian faktor yang memperparah dampak kecelakaan.
Polda Metro Jaya memastikan korban meninggal dunia mencapai 15 orang, sementara puluhan lainnya mengalami luka. Investigasi lanjutan masih berlangsung untuk mengevaluasi sistem komunikasi dan prosedur keselamatan perjalanan kereta di jalur padat Jabodetabek. ***(Ant)






