Panas Ekstrem Diprediksi Landa Indonesia, Kemarau 2026 Disebut Lebih Kering

Rabu, 11 Maret 2026 - 13:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Prakiraan musiman terbaru dari ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC) menunjukkan bahwa suhu di sebagian besar wilayah Asia Tenggara diproyeksikan berada di atas rata-rata pada periode Maret hingga Mei 2026. Probabilitas kenaikan suhu di Indonesia dan Malaysia bahkan mencapai 80–100 persen, menandakan peluang yang sangat besar terjadinya periode panas yang tidak biasa.

Fenomena ini diperkirakan menjadi gelombang panas awal yang muncul di kawasan maritim Asia Tenggara sebelum meluas ke wilayah daratan.

Indonesia Berpotensi Jadi Wilayah Awal Dampak

Indonesia dan Malaysia diperkirakan menjadi wilayah pertama yang merasakan peningkatan suhu tersebut. Dalam beberapa bulan berikutnya, kondisi panas diprediksi menyebar ke negara lain seperti Thailand dan wilayah utara Vietnam.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun tidak semua wilayah diperkirakan mengalami kondisi ekstrem. Beberapa daerah seperti Vietnam bagian tenggara, Kamboja, serta sebagian wilayah Filipina diperkirakan masih berada dalam kisaran suhu normal.

Meski begitu, peningkatan suhu tetap berpotensi memicu lonjakan kebutuhan listrik di berbagai negara, terutama untuk penggunaan pendingin ruangan di rumah tangga, perkantoran, hingga sektor industri.

Gelombang Panas Datang di Saat Pasokan Energi Terganggu

Yang menjadi perhatian utama adalah waktu terjadinya fenomena panas tersebut. Kenaikan suhu diperkirakan terjadi bersamaan dengan ketidakpastian pasokan energi global yang dipicu konflik antara Amerika SerikatIsrael, dan Iran.

Ketegangan tersebut mengganggu aktivitas produksi dan distribusi energi di beberapa kawasan, sehingga memicu kenaikan harga energi dunia. Kondisi ini berpotensi berdampak langsung pada negara-negara Asia Tenggara yang sebagian besar masih bergantung pada bahan bakar fosil untuk pembangkit listrik.

Jika gangguan pasokan energi berlangsung lama, lonjakan permintaan listrik akibat cuaca panas dapat semakin memperbesar tekanan pada sistem energi di kawasan.

Negara Asia Tenggara Berburu Pasokan Gas

Mengantisipasi kemungkinan lonjakan kebutuhan energi, sejumlah negara di Asia Tenggara mulai mencari sumber pasokan alternatif.

Importir gas di kawasan beralih ke pasar spot untuk mendapatkan gas alam cair (LNG) setelah pemasok utama mereka, Qatar, menghentikan operasi di fasilitas ekspor LNG terbesarnya.

Beberapa langkah yang mulai dilakukan antara lain:

  • Vietnam dan Thailand mengupayakan pengiriman LNG tambahan pada Maret dan April 2026

  • Thailand bahkan menambah tiga kargo LNG dari pasar spot untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan energi

Sementara itu, Singapura diperkirakan akan merasakan dampak langsung dari gangguan pasokan tersebut. Negara tersebut sebelumnya memperoleh lebih dari 40 persen pasokan LNG dari Qatar, sehingga perubahan pasokan dapat memengaruhi harga listrik domestik.

Harga spot gas di Asia bahkan sempat melonjak hingga dua kali lipat dalam satu pekan dan masih bertahan di level tinggi. Hal ini membuat negara-negara Asia Tenggara harus bersaing dengan pembeli dari Eropa dan kawasan Asia lainnya untuk mendapatkan pasokan energi yang terbatas.

Indonesia Hadapi Kemarau Lebih Panjang

Di sisi lain, Indonesia juga menghadapi tantangan dari sisi iklim. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2026 akan datang lebih awal dan berlangsung lebih panjang dibandingkan tahun sebelumnya.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyebutkan bahwa sebagian wilayah Indonesia diperkirakan mulai memasuki musim kemarau pada April 2026.

Perkiraan awal musim kemarau antara lain:

  • April 2026: sekitar 114 zona musim mulai memasuki kemarau

  • Mei 2026: sekitar 184 zona musim

  • Juni 2026: sekitar 163 zona musim

Musim kemarau diperkirakan dimulai dari wilayah Nusa Tenggara sebelum bergerak ke arah barat menuju wilayah Indonesia lainnya.

BMKG juga memproyeksikan sekitar 400 zona musim akan mengalami durasi kemarau yang lebih panjang dari kondisi normal, dengan tingkat kekeringan yang lebih tinggi dibandingkan tahun 2025.

Dampak Lebih Luas bagi Kawasan

Kombinasi antara suhu tinggi, musim kemarau panjang, dan tekanan pasokan energi global membuat Asia Tenggara menghadapi tantangan yang kompleks pada 2026.

Jika tidak diantisipasi dengan baik, kondisi ini berpotensi memengaruhi berbagai sektor penting, mulai dari ketahanan energi, produksi pangan, pengelolaan air, hingga stabilitas ekonomi di kawasan. *** (Ant)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Rupiah Ambruk ke Rp18.001 per Dolar AS pagi ini, Ini Pemicu Utamanya
Mantan Kepala BGN Dadan Hindayana Berompi Tahanan, Kejagung Siapkan Konferensi Pers
Usai Evaluasi 1,5 Tahun, Prabowo Rombak Pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN)
Resmi Jadi Kepala BGN, Nanik S Deyang Siap Pastikan Anak Indonesia Dapat Gizi Terbaik
Harga Solar Turun Drastis di Shell dan BP, Simak Daftar Lengkapnya
Pemerintah Percepat Pembangunan PLTS 100 GW untuk Perkuat Ketahanan Energi Nasional
BRIN Minta Maaf Usai Unggah Garuda Keliru di Hari Lahir Pancasila
Rupiah Menguat 76 Poin ke Rp17.805, Efek Aturan Baru DHE SDA Mulai Terlihat

Berita Terkait

Kamis, 4 Juni 2026 - 08:17 WIB

Rupiah Ambruk ke Rp18.001 per Dolar AS pagi ini, Ini Pemicu Utamanya

Rabu, 3 Juni 2026 - 17:30 WIB

Mantan Kepala BGN Dadan Hindayana Berompi Tahanan, Kejagung Siapkan Konferensi Pers

Rabu, 3 Juni 2026 - 16:00 WIB

Usai Evaluasi 1,5 Tahun, Prabowo Rombak Pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN)

Rabu, 3 Juni 2026 - 10:00 WIB

Resmi Jadi Kepala BGN, Nanik S Deyang Siap Pastikan Anak Indonesia Dapat Gizi Terbaik

Selasa, 2 Juni 2026 - 09:00 WIB

Harga Solar Turun Drastis di Shell dan BP, Simak Daftar Lengkapnya

Berita Terbaru